Iman kepada Hari Kebangkitan / Kiamat

Berikut ini artikel yang membahas tentang Iman kepada Hari Kebangkitan/Kiamat/Hari Akhir. Semoga bermanfaat.

———————————————-

Hari kiamat adalah hari yang dahsyatnya luar biasa. Alloh banyak menjelaskan dalam kitab-Nya tentang kengerian yang terjadi di hari tersebut, mulai dari digulungnya matahari, jatuhnya bintang-bintang, hancurnya gunung-gunung, berguncangnya bumi serta sederet peristiwa maha dahsyat lainnya. Bencana tsunami yang menimpa Aceh beberapa waktu lalu amat dahsyat, dan ketahuilah sungguh kiamat besok jauh lebih dahsyat lagi. Alloh berfirman, “Dan apabila lautan dijadikan meluap” (QS. Al-Infithoor: 3). Dan sudah seharusnya bagi kita memetik pelajaran berharga untuk bertobat dari berbagai macam kesyirikan, kebid’ahan, dan kemaksiatan yang selama ini kita lakukan.

Hari kiamat disebut juga hari akhir, karena tidak ada hari lagi di dunia untuk beramal sesudah hari itu. Penduduk surga akan menempati tempatnya, begitu pula dengan penduduk neraka akan menempati tempatnya. Hanya Alloh saja yang tahu kapankah hari kiamat. Bahkan Rosul-Nya yang paling mulia pun tidak mengetahui waktunya.

Tanda hari kiamat

Tanda-tanda munculnya hari kiamat amat banyak, baik yang sudah terjadi, yang sedang terjadi ataupun yang belum terjadi. Diantaranya adalah diutusnya Rosululloh sholallohu ‘alaihi wassallam dan wafatnya beliau. Begitu pula munculnya orang-orang bodoh yang justru ditokohkan dan jadi panutan, orang-orang berlomba-lomba untuk memegahkan masjid. Di samping itu akan muncul tanda-tanda besar seperti imam Mahdi, Dajjal, turunnya Nabi Isa serta Ya’juj dan Ma’juj.

Dajjal ialah pembohong besar yang akan keluar di akhir zaman yang mengaku sebagai tuhan. Ia dinamai Al Masih karena menjelajahi dunia bagaikan hujan yang terbawa angin, kecuali terhalang masuk Makkah dan Madinah. Dajjal seorang yang buta sebelah dan tertulis di antara kedua matanya: “kaf-fa-ro”, yang hanya dapat dibaca oleh orang mukmin. Dajjal hidup selama 40 hari; sehari seperti setahun, sehari seperti sebulan, sehari seperti sepekan, dan sisanya seperti hari biasa. Fitnahnya sangat besar, diantaranya memerintahkan langit untuk turunkan hujan dan turunlah, memerintahkan bumi untuk menumbuhkan tanaman dan tumbuhlah. Kemunculannya telah ditegaskan oleh Sunnah dan Ijma’. Dajjal ini kelak akan dibunuh oleh Nabi Isa. Nabi Isa kemudian wafat, dan disholatkan kaum muslimin (lihat keterangan lebih panjang dalam Syaroh Lum’atul I’tiqod, Syaikh Ibnu Utsaimin).

Beriman Kepada Fitnah Kubur, Siksa Kubur, dan Nikmat Kubur

Fitnah kubur yaitu pertanyaan kubur yang akan diajukan kepada orang mati setelah dikubur, yaitu “Siapakah Robbmu, nabimu, dan apa agamamu?”. Alloh akan meneguhkan orang mukmin dengan ucapan yang benar dan lancar: “Robbku Alloh, Nabiku Muhammad, dan agamaku Islam”. Adapun orang yang ragu atau munafik, maka ia akan mengatakan: “ha… ha… saya tidak tahu, aku mendengar orang-orang mengatakan sesuatu maka aku tiru” [Syaroh Al Wajibat].

Ini menunjukkan bahwa pertanyaan tersebut tidak akan semudah dijawab dengan hanya dihafal saat di dunia. Sungguh orang munafik yang hafal dan paham maknanya di dunia tetap saja tidak akan mampu menjawabnya. Dan jawaban seorang hamba tidak akan terlepas dari keilmuannya terhadap jawaban tersebut dan amalnya ketika di dunia.

Seluruh Manusia pada Hari itu Dibangkitkan dari Kubur dan Dikumpulkan

Termasuk dalam unsur iman kepada Hari Akhir, yaitu beriman kepada kebangkitan, yaitu dihidupkannya orang yang telah mati tatkala ditiup sangkakala untuk yang kedua kalinya. Manusia kala itu dikumpulkan dalam keadaan tidak beralas kaki, telanjang, dan tidak berkhitan. Namun urusan manusia kala itu amat berat, sehingga mereka tidak sempat memperhatikan aurot orang lain. Alloh ta’ala berfirman, “Kemudian setelah itu kamu sekalian benar-benar akan mati, lalu kamu sekalian benar-benar akan dibangkitkan di Hari Kiamat” [QS. Al Mu’minun: 15-16]

Dan firman-Nya, “Katakanlah: “Sesungguhnya orang-orang yang terdahulu dan orang-orang sesudahnya, benar-benar akan dikumpulkan pada suatu waktu yang dikenal” ” [QS. Al Waqi’ah: 49-50]

Rosululloh sholallohu ‘alaihi wassallam bersabda, “Sungguh kalian semua akan dikumpulkan dalam keadaan tak beralas kaki, telanjang, dan tidak bersunat….” [HR. Bukhori – Muslim]

Dihisabnya Amal dan Diganjar

Seorang hamba akan dihisab atas amal perbuatannya dan diganjar sesuai dengan amalnya tersebut. Alloh Ta’ala berfirman, “Kemudian sesungguhnya kewajiban Kami-lah menghisab mereka” [QS. Al Ghosyiyah: 26]. Alloh juga berfirman, “Barangsiapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya; dan barangsiapa yang membawa perbuatan jahat maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan)” [QS. Al An’am: 160]

Umat Muhammad sholallohu ‘alaihi wassallam adalah umat yang pertama kali dihisab. Amal hamba yang pertama kali dihisab, berkaitan dengan hal Alloh adalah sholat, sedangkan yang berhubungan dengan hak manusia adalah masalah pembunuhan. Seorang mu’min yang dihisab maka Alloh memperlihatkan kepadanya amal-amalnya kemudian ia mengakui dan merasa akan binasa. Lalu Alloh berfirman kepadanya, “Aku telah menutupi dosa-dosamu itu ketika di dunia dan pada hari ini Aku mengampuninya”. Kemudian diberikan kepadanya catatan-catatan kebaikannya. Adapun orang-orang kafir dan munafik, maka diserukan kepada seluruh makhluk bahwa inilah orang-orang yang mendustakan Robb mereka, ketahuilah bahwa laknat Alloh diberikan untuk orang-orang yang berbuat zholim. Amal manusia ditimbang dengan timbangan pada hari kiamat. Timbangan ini adalah timbangan hakiki yang memiliki dua daun timbangan. Alloh berfirman, “Barangsiapa yang berat timbangan (kebaikan) nya, maka mereka itulah orang-orang yang dapat keberuntungan. Dan barangsiapa yang ringan timbangannya, maka mereka itu orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, mereka kekal di dalam Neraka Jahannam” [QS. Al Mukminun: 102-103]

Surga dan Neraka

Mengimani adanya Surga dan Neraka termasuk rangkaian iman kepada Hari Kiamat. Keduanya adalah kampung abadi bagi para makhluk. Surga adalah negeri yang penuh kenikmatan yang telah disediakan untuk orang-orang yang beriman, bertakwa, taat, ikhlas pada Alloh serta taat pada Rosul-Nya sholallohu ‘alaihi wassallam              . Kenikmatan dalam surga begitu besarnya, isinya tak pernah dilihat oleh mata, tak pernah didengar oleh telinga, dan tak pernah terlintas dalam benak manusia. Alloh berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal sholih, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk. Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah Surga ‘Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Alloh ridho terhadap mereka dan mereka pun ridho kepada-Nya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang-orang yang takut kepada Tuhannya” [QS. Al Bayyinah: 7-8].

Adapun neraka adalah negeri yang penuh dengan kesengsaraan dan berbagai adzab yang telah Alloh sediakan untuk orang-orang kafir dan zholim, yang mereka kufur kepada Robbnya dan mendustakan Rosul-Nya. Di dalam neraka terdapat berbagai macam adzab yang tidak pernah terlintas dalam hati. Alloh berfirman, “…. Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang-orang zholim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka. Dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek” [QS. Al Kahfi: 29]

Setelah masuknya penduduk surga yang terakhir ke dalam surga, ‘kematian’ diwujudkan dalam bentuk domba, kemudian domba itu disembelih [HR. Bukhori]. Artinya tidak ada lagi kematian sejak saat itu, maka kekal-lah penduduk surga di surga, dan penduduk neraka di neraka selama-lamanya.

Buah Iman kepada Hari Akhir

Dengan beriman kepada Hari Akhir dengan benar, seseorang akan lebih rajin melaksanakan amal kebaikan sebagai persiapan untuk Hari Pembalasan kelak. Seseorang juga akan merasa takut dan gelisah untuk bermaksiat karena akan ada siksa atas perbuatan itu. Di samping itu juga akan menjadi hal yang dapat menghibur seorang mukmin yang tidak mendapat kesenangan dunia, ia akan mendapatkan ganti berupa kenikmatan akhirat yang jauh di atas kenikmatan dunia. [Syaroh Tsalatsatul Ushul, Ibnu Utsaimin]

Wallohu a’lam.

———————————————-

Sumber: Buletin Dakwah At-Tauhid Jogja, edisi no. 9 / Tahun I / Muharrom / 1426 H

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: