Bom = Jihad?

Apakah Aksi Pengeboman Sama Dengan Jihad?

Takfir atau mengkafirkan orang lain tanpa bukti yang dibenarkan oleh syariat merupakan sikap ekstrem yang ujung-ujungnya adalah tertumpahnya darah kaum muslimin secara semena-mena. Berawal dari takfir dan berakhir dengan tafjir (peledakan). Majelis Hai’ah Kibar Al Ulama (Lembaga Perkumpulan Tokoh-Tokoh Ulama Saudi Arabia), pada pertemuannya yang ke-49 di Thaif telah mengkaji apa yang terjadi di banyak negeri Islam dan negeri lain, tentang takfir dan tafjir serta dampak yang ditimbulkan, baik berupa penumpahan darah maupun perusakan fasilitas-fasilitas umum. Beliau-beliau akhirnya menyampaikan penjelasan secara tertulis yang kami ringkas sebagai berikut.

Takfir (menetapkan hukum kafir) Merupakan Hukum Syar’i

Seperti halnya penetapan hukum halal dan haram, maka penetapan hukum kafir juga harus dikembalikan kepada Alloh dan Rosul-Nya. Tidak setiap perkataan atau perbuatan yang disebut kufur, berarti kufur akbar yang mengeluarkan (pelakunya) dari agama. Mengkafirkan seseorang tidak boleh dilakukan kecuali bila Al Quran dan Sunnah telah membuktikan kekafirannya dengan bukti yang jelas, sehingga tidak cukup berdasarkan dugaan saja.

Itulah sebabnya Nabi sholallahu ‘alaihi wa sallam memperingatkan umatnya agar jangan sampai mengkafirkan orang yang tidak kafir. Beliau bersabda yang artinya, “Siapa pun orangnya yang mengatakan kepada saudaranya ‘Hai Kafir’, maka perkataan itu akan mengenai salah satu di antara keduanya. Jika perkataan itu benar, (maka benar). Tetapi bila tidak, maka tuduhan itu akan kembali kepada diri orang yang mengatakannya” (Muttafaq ‘alaih, dari Ibnu Umar)

Vonis kafir hanya bisa ditetapkan bila sebab-sebab serta syarat-syaratnya ada, dan faktor penghalangnya tidak ada. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan syarat-syarat tersebut yaitu bila orang tersebut*: (1) Mengetahui atau memahami apa yang diucapkannya, maka bila ia (2) Dengan senang hati/tidak terpaksa dan (3) Sengaja dalam mengucapkan apa yang dikatakannya; maka inilah yang perkataannya teranggap sebagai pembatal keislaman. Jadi bagaimana mungkin seorang mukmin lancang menetapkan hukum kafir hanya berdasarkan dugaan??

Apabila ternyata tuduhan kafir ini ditujukan kepada para penguasa (muslim), maka persoalannya jelas lebih parah lagi. Akibatnya akan menimbulkan sikap pembangkangan terhadap penguasa, angkat senjata melawan mereka, kekacauan, menumpahkan darah dan membuat keonaran di tengah-tengah masyarakat. Karena itu Nabi melarang pemberontakan kepada penguasa. Beliau bersabda: ”….kecuali bila kalian lihat kekafiran yang nyata, yang tentangnya kalian memiliki bukti yang jelas dari Allah.” (Muttafaq ‘alaih dari ‘Ubaidah)

Dampak Mudah Mengkafirkan

Yaitu menumpahkan darah, melanggar kehormatan orang lain, merampas harta milik orang-orang tertentu atau orang umum, peledakan tempat-tempat pemukiman serta angkutan-angkutan umum dan perusakan bangunan-bangunan. Kegiatan-kegiatan ini dan yang semisalnya adalah haram menurut syariat berdasarkan ijma’ (kesepakatan) kaum muslimin. Berkenaan dengan jiwa orang kafir yang berada dalam jaminan keamanan dari pemerintah Nabi bersabda yang artinya, ”Barang siapa yang membunuh orang kafir yang berada dalam perjanjian (damai), maka ia tidak akan mencium baunya surga.” (Muttafaq ‘alaih dari Abdullah bin Amr)

 

[Buletin At Tauhid]

Penyusun: Abu Syifa’ Fauzan Adhi Sasmitha (Alumni Ma’had Ilmi)

 

*) Mengenai hal ini, secara lengkap dijelaskan di halaman “Pembatal Keislaman”

Responses

  1. assalamu’alaikum

    saya hanya makhluk hina yang ingin menghambakan diri kepada Alloh…
    saya ingin bertanya apa langkah kongkrit kita menghadapi kerasnya jaman (tempat maksiat, prostitusi, diskotik). Sebagaimana kita tahu itu semua sudah dilindungi pemerintah…
    mohon jawaban yang jelas dan tegas…
    terimakasih…

  2. Bismillahirrahmanirrahim. 

    Ketika melihat orang yang zalim, Nabi mengajarkan kita agar berdo’a, agar hati kita ditetapkan dalam keimanan, sebab kita tidak tahu apa yang akan terjadi kelak. Boleh jadi orang zalim yang kita temui itu akan meninggal dalam keadaan berimam, dan bukan tidak mungkin yang terjadi pada kita adalah sebaliknya.

  3. Bismillahirrahmanirrahim.

    Jihad dalam pengertian perang yang dilakukan oleh Rasulullah berakhir setelah dikuasainya kota suci Mekah dan dibersihkannya Ka’bah dari berhala dan kemusyrikan. Lalu kita melihat kaum muslim hidup damai dengan non-muslim. Jihad yang utama adalah melawan hawa nafsu dalam diri kita.

  4. Bismillahirrahmanirrahim.
    
”Hai orang-orang YANG BERIMAN, maukah kamu aku tunjukkan perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari siksaan yang amat pedih? Perniagaan itu ialah, kamu TETAP BERIMAN KEPADA ALLAH DAN RASULNYA, dan berjihad di jalan Allah dengan HARTA dan JIWAMU. IMAN dan BERJIHAD itulah yang lebih baik bagimu jika kamu mengetahui” (Q.S. as-Shaaff: 10- 11).

    “Disamping satu karunia lain yang SEJAK LAMA KAMU IDAM-IDAMKAN, yaitu: dengan pertolongan dari Allah, kamu dapat menduduki Mekah dalam waktu yang singkat. Sampaikanlah berita gembira ini kepada orang-orang mukmin” (Q.S. as-Shaff: 13)

  5. Bismillahirrahmanirrahim.

    Perang yang dilakukan oleh Rasulullah hanyalah jihad kecil. Jihad terbesar itu adalah melawan hawa nafsu kita. “Jadilah kamu pembantu-pembantu untuk menegakkan agama Allah” (Q.S. as-Shaff: 14). Perbuatan dosa tidak dapat dibenarkan, tetapi bid’ah dan kemusyrikan jauh lebih berbahaya dari apa pun, karena ia adalah ancaman yang merusak agama.

  6. Bismillahirrahmanirrahim.
    Hitam dan putih, baik dan buruk adalah hal yang tidak akan pernah habis di muka bumi ini, karena itu adalah ujian bagi manusia.

    Kemusyrikan dan bid’ah merajalela, “Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku untuk MENEGAKKAN agama Allah? Pengikut-pengikut [Nabi Isya] menjawab: ‘Kamilah pembantu-pembantu agama Allah!’. Lalu berimanlah segolongan bani Israil, sedang golongan yang lain kafir sesat.” (Q.S. as-Shaf: 14)

  7. Bismillahirrahmanirrahim.

    Iman dan jihad adalah meningkatkan ketakwaan kita, memperdalam ilmu agama, bersedekah, membantu orang yang kesulitan, dan jika kita ingin menjadi penolong agama Allah, yaitu dengan membersihkan agama Allah dari bid’ah dan kemusyrikan. “Lalu mereka pun menjadi orang-orang yang menang”
    (Q.S. as-Shaff: 14). Karena jika bid’ah dan kemusyrikan diberantas, maka ummat Islam akan bersatu, sehingga ummat akan menjadi kuat.

  8. Bismillahirrahmanirrahim.

    Perkara dosa, kita hanya diseru untuk mengingatkan, bukan menghakimi. Jika memang ada hukum yang menangani hal itu, maka kita serahkan kepada ahlinya, yaitu orang yang kita tunjuk menjadi pemimpin kita. Apa pun yang diputuskannya, kelak akan dipertanggung jawabkan di hadapan Allah.

    “Dia tidak menyukai kekafiran bagi hamba-Nya. DAN JIKA KAMU BERSYUKUR [taat beribadah] Dia menyukaimu. Dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Kemudian, tempat kembalimu hanya kepada Tuhanmu.” (Q.S. Az-Zumar: 7)

  9. Bismillahirrahmanirrahim.

    Al-Qur’an mengabadikan kisah para nabi dan kisah jihad di masa Rasulullah agar kita dapat mengambil hikmahnya.

    Bani Israil adalah salah satu maket kecil kaum beriman di masa lalu. Namun imam-imam dan ahli hukum mereka melakukan bid’ah-bid’ah, bahkan menyembah Traphym [tuhan-tuhan rumah tangga] disamping menyembah Allah sehingga mereka dikutuk. Nabi Isya dan murid-muridnya kemudian tampil menjadi pembela-pembela agama Allah, namun mereka difitnah dan dimusuhi.

    “Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa sirik” (Q.S. Annisaa: 48)

  10. Pembunuhan adalah perkara besar, sebab jauh lebih mudah menciptakan alam semesta dan isinya daripada menciptakan manusia, sehingga pembunuh hukumnya harus dibunuh.

    Kita tidak dapat menjamin apakah selamanya orang akan menjadi kafir, karena perkara hidayah adalah urusan Allah. Bukan tidak mungkin ada di antara keturunan mereka yang beriman kepada Allah. Rasulullah pun tidak mampu membimbing pamannya, sebagaimana Nuh tidak mampu membimbing putranya yang lain, atau Ibrahim kepada bapaknya, padahal mereka semua adalah orang-orang pilihan.

    Membunuh diri dan merusak tubuh jelas diharamkan, apalagi membunuh secara membabi buta, karena Allah menciptakan manusia sesuai gambaran-Nya, oleh karena itu Rarulullah menghormati manusia, sekalipun dia adalah Yahudi kafir tidak beriman yang sudah mati.

  11. Bismillahirrahmanirrahim. 
Kerasnya zaman sudah berlangsung sejak permulaan manusia hadir di muka bumi. Masa yang dialami para nabi, termasuk Rasulullah jauh lebih hebat dibanding masa sekarang, sebab adat istiadat dan kebudayaan mengharuskan manusia untuk menguburkan bayi perempuannya hidup-hidup. Sekarang kita dengan mudah dapat beribadah kapan dan dimana saja tanpa harus dicambuk dan dicincang oleh orang kafir. Teknologi semakin tinggi untuk mendakwahkan kebenaran dan menyatukan persepsi tanpa ada yang melarang.

    Mari kita tegakkan agama Allah dengan memberantas semua bid’ah dan kemusyrikan dari kalangan ummat Islam, bukan dengan kekerasan, tapi dengan pendekatan. Mari kita lawan kebodohan, mari kita bantu saudara-saudara kita yang tidak mampu. Inilah perjuangan Islam yang sejati. Real Islam.

  12. Bismillahirrahmanirrahim. Mayoritas kita adalah muslim, namun Islam belum ditegakkan karena pembodohan selama berabad-abad. Ketika Nabi bersabda, “Janganlah engkau seperti kaum Yahudi dan Nasrani yang suka memperingati hari-hari khusus”, kita justru mengkhianati Rasulullah. Al-Qur’an dijadikan jimat dan mantra-mantra. Naudzubillah.

    “Padahal mereka hanya diperintahkan untuk menyembah Allah” (Q.S. Al-Bayyinah: 5)

  13. Bismillahirrahmanirrahim.

    Apa maknanya peringatan-peringatan yang tidak pernah diperintahkan oleh Rasulullah jika hanya membuang-buang dana, sementara di sekitar kita banyak kaum duafa yang membutuhkan? Hati saya teriris-iris menyaksikan saudara-saudara muslim saya yang berdo’a dan meminta berkah di kuburan orang yang sudah mati, atau memperebutkan air yang yang dikatakan mengandung berkah. Sehina inikah Islam pada saat ini? Pembelajaran apa yang diambil dari ummat terdahulu?

    “Tidakkah engkau perhatikan sikap orang yang telah diberi petunjuk dari Kitab? Mereka masih percaya juga kepada khufarat dan masih tetap menyembah berhala dan thaghut” (Q.S Annisaa: 51)

  14. KETENTUAN HUKUM ALLAH

    “Adalah tidak layak seorang mu’min membunuh orang mu’min, kecuali karena kesalahan [dihukum]. Barangsiapa yang membunuh orang mukmin dengan TIDAK SENGAJA, hukumannya ialah, memerdekakan seorang hamba sahaya yang mu’min, disertai membayar diyah [tebusan] kepada keluarga korban, kecuali jika keluarganya mengikhlaskan… Dan kalau yang terbunuh itu dari kaum [non-muslim] yang mengikat perjanjian [damai] denganmu, hendaklah membayar diyah [tebusan] kepada keluarga korban, disertai memerdekakan [menghidupi] seorang hamba sahaya yang beriman. Barangsiapa yang tidak memperoleh [hamba sahaya yang beriman], hendaklah berpuasa dua bulan berturut-turut, sebagai syarat taubat dari Allah. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.
    Barangsiapa yang membunuh seorang mu’min dengan SENGAJA, maka hukumannya ialah JAHANNAM, ia kekal di dalamnya, Allah MEMURKAI dan MENGUTUKNYA, serta menyediakan SIKSA YANG BESAR baginya” (Q.S. Annisa: 92-93)

  15. “Dan adakah orang yang lebih baik [cara beragamanya] selain orang yang IKHLAS berserah diri [dalam beribadah] kepada Allah, BERBUAT KEBAIKAN, dan mengikuti agama Ibrahim yang CINTA TAUHID? Allah telah menjadikan Ibrahim itu KESAYANGAN-NYA” (Q.S. Annisa: 125)

  16. “Dan mereka yang menjauhi DOSA-DOSA BESAR dan perbuatan-perbuatan KEJI; dan bila mereka marah, mereka suka MEMAAFKAN, serta suka MEMATUHI seruan Tuhannya, melaksanakan SHALAT, menyelesaikan setiap persoalan di antara mereka dengan MUSYAWARAH, MENAFKAHKAN barang yang merupakan rezeki yang Kami limpahkan kepadanya; dan selanjutnya mereka yang menerima perlakuan yang tidak adil, mereka MEMBELA DIRI”
    (Q.S. Asy Syura: 37- 39)

  17. Dalam hadits Qudsy dikatakan “Allah tidak memandang rupa dan pakaianmu”, karena pakaian yang sebenarnya adalah pakaian IMAN dan TAKWA. Bukanlah kecantikan, ketampanan, bukan pula warna kulit; bukanlah karena jubah, bukan pula karena pakaian yang menyebabkan riya, dan bukanlah gelar Kyai, Ustadz, Santo, dsb. yang menjadi ukuran ketakwaan seseorang, karena gelar-gelar itu hanyalah pemberian manusia, dan bukan dari Allah. Wara’, berpakaian karena ingin diangngap suci jauh lebih berbahaya daripada berpakaian karena pamer. Hanyalah kebiasaan dari pendeta-pendeta Yahudi dan Nasarah. Kita hanya diperintahkan menutup aurat.

  18. Kebodohan menyebabkan antara satu sekte dan sekte lain saling berperang sekedar karena hanya ingin mempertahankan tradisi dan pendapat yang tidak ada sumbernya dari al-Qur’an dan sunnah Nabi, menyadarkan kita tentang bahaya besar dari bid’ah. Yang membunuh dan yang dibunuh sama-sama masuk neraka. Ini bukan perkara mudah, sebab sudah turun-temurun terjadi, bahkan sudah menjadi dendam yang mendarah daging. Jika mereka mengaku muslim, bukankah mereka sama-sama membaca al-Qur’an? Jika satu ayat al-Qur’an saja mampu mengubah selusin orang kafir menjadi muslim, lalu petunjuk apa yang diperoleh dari al-Qur’an dari orang-orang yang sejak lahir sudah mengaku muslim ini?

  19. Bodoh. Itulah sifat Izazil, moyangnya iblis dan bangsa jin! Setelah beribadah seribu tahun di bumi, dan seribu tahun di tiap-tiap langit, sehingga genap menjadi delapan ribu tahun, sehingga bergelar al-muqarrabun, imam para malaikat, namun apa yang di dapat dari kedengkian dan kebodohannya? Hanya laknat dari Allah!

  20. Ketika kita mendakwahkan sepuluh orang di dalam majlis tentang anjuran berbuat baik, semuanya akan tersentuh dan mulai merenung. Tetapi setelah keluar dari majlis, mungkin hanya satu orang, atau paling banyak dua orang saja yang benar-benar berusaha mengubah dirinya. Tetapi jika pelatihan dalam beribadah, perbaikan dan kekhusyukan yang kita praktekkan kepada mereka, itu akan membekas ke dalam hati seluruhnya. Bukan tidak mungkin, banyak orang yang mulai bosan diceramahi tentang baik-buruk dan perkara yang itu-itu juga dari satu ustadz ke ustadz lain dan tidak juga mengubah dirinya untuk tidak berbohong atau tidak kikir dalam bersedekah, sekalipun mungkin ia ditakut-takuti dengan adzab neraka yang sudah belasan kali didengarnya.

  21. Mengubah manusia adalah dalam dirinya, dengan Tauhid yang benar, sehingga memperoleh Nur Ilahi yang dapat mempengaruhi pola pikir dan cara pandangnya. Membersihkan diri dengan puasa sunnat, mencari petunjuk dalam shalat-shalat malam, dan membersihkan hati dengan zikir-zikir. Otomatis, tanpa diajari kebaikan pun ia akan berbuat baik, kecuali jika memang ada masalah kejiwaan atau penyakit dalam dirinya.

  22. “Ada pula ORANG MUNAFIK yang membangun masjid dengan maksud hendak menimbulkan keonaran di tengah-tengah kaum muslimin, [atau] hendak mengukuhkan [mendukung] kedudukan orang kafir, serta hendak memecah belah kaum muslimin, dalam rencananya untuk memerangi Allah dan Rasulnya seperti yang terjadi sejak dahulu. Mereka [orang munafik itu bahkan] berani mengangkat sumpah: ‘Tujuan kami membangun masjid ini hanyalah untuk kebaikan!’. Namun Allah menyaksikan bahwa mereka bersumpah palsu. Janganlah kamu mengerjakan shalat di masjid itu selama-lamanya.” (Q.S. Baraa-ah: 107- 108)

  23. “Apakah tidak ada angkatan sebelum kamu yang mewariskan generasi untuk menanggulangi kerusakan-kerusakan yang timbul di dalam negeri?… Dan tiadalah Tuhanmu hendak membinasakan negere-negeri dengan sewenang-wenang selama penduduknya masih berbuat kebaikan. Dan kalau Tuhanmu menghendaki, tentu dijadikan-Nya manusia itu satu ummat saja. Namun mereka selalu saja bersengketa, KECUALI ORANG-ORANG YANG DIBERI RAHMAT OLEH TUHANMU. Untuk itulah mereka diciptakan [agar mencari rahmat Tuhannya]. Dan telah lebih dahulu ditetapkan oleh Tuhanmu, bahwa Aku akan memenuhi neraka jahannam dengan jin dan manusia.” (Q.S. Hud: 116- 119)

  24. Hikmah Dalam sejarah Bani Israel dengan sekte-sekte, bid’ah dan kemusyrikannya yang merusak agama Tauhid.

    “Dan telah Kami peringatkan di dalam Alkitab kepada bangsa Israil, ‘bahwa kalian akan membuat kerusakan di muka bumi ini dua kali [merusak ajaran Taurat kemudian Injil], kemudian kalian akan merajalela dengan sejadi-jadinya” (Q.S. Al Isra: 4) “Mudah-mudahan Tuhan kalian akan mencurahkan rahmat-Nya [kepada orang yang dikehendaki-Nya] di antara kalian. Dan jika kalian kembali berbuat kerusakan, Kami pun kembali akan menghukum kalian [pada masa yang ditetapkan di bumi], dan kemudian [di akhirat] akan Kami jadikan neraka jahannam itu sebagai penjara atas arang-orang yang kafir” (Q.S Al-Isra: 8).

  25. “Sungguh beruntunglah mereka yang beriman, mereka yang KHUSYUK DALAM SHALATNYA, mereka yang MENGHINDARI OMONG KOSONG [bid’ah dan kemusyrikan], mereka yang MENGELUARKAN ZAKAT, mereka yang MENUTUP AURATNYA, kecuali terhadap istri dan abdi-abdinya, mereka dalam hal ini tiada tercela, namun kepada siapa selain itu maka mereka melanggar hukum, dan mereka yang MEMELIHARA TANGGUNG JAWAB YANG DI AMANATKAN KEPADANYA serta atas JANJINYA, dan mereka memelihara SHALATNYA, itulah orang-orang yang akan mewarisi SURGA FIRDAUS sebagai tempat menetap untuk selama-lamanya”
    (Q.S. al-Mu’minun: 1- 11)

  26. […] Apakah Aksi Pengeboman Sama Dengan Jihad? […]

  27. asslm..
    saya ingin bertanya, apakah aksi bom bunuh diri ( sebagai pengantin ) termasuk jihad? apakah sesat?
    sebab banyak sekali kerugian yg dihasilkannya.
    Apaka Allah menciptakan manusia untuk saling membunuh, sehingga diperbolehkan umatnya untuk membunuh orang lain diluar muslim?
    mohon pencerahannya..
    thq

    >>> wa’alaikumussalam warohmatulloh (mohon jangan dibiasakan menyingkat salam). Bismillah. Islam adalah agama yang sempurna. Mulai dari permasalahan remeh (mis. tata cara masuk WC), hingga permasalahan besar (mis. mengatur negara) ada dalam ajaran Islam. Tentu hal mengenai jihad dan bunuh-membunuh pun dibahas tuntas dalam ajaran Islam. Memang permasalahan jihad bukanlah masalah yang sederhana. Namun, bukan berarti disebabkan alasan itu kita lantas malas untuk mempelajarinya. Banyak literatur dari para ulama yang mengupas tuntas mengenai jihad dan penjuangan penegakan agama yang sesuai syar’i. Yang menjadi problema bagi umat Islam sekarang ini adalah ketidakseimbangan antara semangat juang dengan ilmu. Semangat berjuang umat Islam yang tinggi jika tidak diimbangi dengan bekal ilmu yang cukup, akan mudah terombang-ambing. Nah, kebetulan ada pihak-pihak tertentu yang mengetahui keadaan ini, kemudian memanfaatkan mereka untuk kepentingan sendiri. Oleh karena peliknya permasalahan jihad dan perjuangan Islami, maka saya buat artikel tersendiri untuk menjawab pertanyaan antum. Bisa antum baca di artikel “Jihadkah Bom Bunuh Diri?!“. Artikel itu kutipan dari situs muslim.or.id, yang menurut saya cukup menjawab pertanyaan antum dan pertanyaan yang senada seputar bom-bunuh-diri. Silakan dibaca dan diresapi. Semoga bermanfaat. Wallohu a’lam.

  28. Agama mengajarkan kebaikan, sehingga setiap orang bisa hidup berdampingan dalam kedamaian. oleh karena itu Tuhan tidak menghendaki kita sebagai ciptaannya untuk saling membunuh. itu dosa.
    lihat hukum taurat ke 6..

    >>> Hmmm… Poin awal Anda, yaitu agama mengajarkan kebaikan, saya setuju. Kemudian mengenai bunuh-membunuh, yang ada kaitannya dengan Taurat, Alloh bersabda di dalam Al-Quran, yang artinya:

    “Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Isroil, bahwa: barang siapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barang siapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya.” [Qs. Al Maidah: 32]

  29. maaf mau tanyak…lebih baek mana oarang yang rela mati demi tegaknya islam dengan orang yang hanya mengkritik, menyalahkan tanpa da gerakan/perjuangan untuk tegaknya islam…??

  30. maaf…apakah kita harus berdiam diri menunggu mati…mati di sofa yang empuk di kelilingi tembok besar yang megah…yakin itu yang kita inginkan…???

  31. Assalamu’alaikum wr.wb…

    Jihad…?sungguh saya ingin mempelajari hal ini lebih dalam lagi,memahami makna, isi dan penyampaiannya…
    Tingkatan iman setiap orang bebeda-beda,tidak dapat dipungkiri lagi….Islam pun kini terpecah belah,karena perbedaan pemahaman, cara pandang umat2 islam, “Ya Allah berilah petunjuk jalan yang terang menuju jalanMU…” Kita seharusnya meniru kehidupan Nabi Muhammad SAW, yang mempunyai sifat2 terpuji,…
    Bukan dengan cara kekerasan kita melawan musuh…Kisah2 nabi terdahulu tentunya bisa kita buat contohnya…jadi sebelum benar2 mengerti maksud dan tujuan Jihad mendingan kita semua belajar lebih giat lagi tentang Agama Mulia ini untuk meningkatkan keimanan kita, bukan sembarangan menyimpulkan JIHAD=BOM BUNUH DIRI….semoga kita semua bukan dalam golongan Orang-orang yang merugi…Wasaalamu’alaikum wr.wb


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: