About Me

  • Inisial
: FHP (Baca: ef-ha-pe -> efhape)
  • TTL
: Solo City , 1980an
  • Alamat
: Solo – Jogja
  • Email
: zuhudhi@yahoo.co.id
  • Yahoo! Id
: zuhudhi
  • Hobi
: reading, computing, writing, discussion, etc…
  • Riwayat Pendidikan
:
  • SDN Ngadisuman No.90 Solo
  • SMPN 4 Solo
  • SMU 3 Solo
  • LPK Alfabank Solo
  • Ilmu Komputer, MIPA – UGM Jogja
  • Motto Hidup
:
  • Khoirun nas Anfa’uhum Linnas — sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak memberikan manfaat kepada orang lain. [HR. Bukhori & Muslim]
  • Lau Kaana Khoiron Lasabakuunaa Ilaihi — kalau seandainya (suatu) perbuatan itu baik, tentu para sahabat (Rosululloh sholallohu ‘alaihi wassallam) sudah mendahului kita dalam melakukannya. [Kaidah Ulama Salaf]

about me

About Myself

Melalui media ini, penulis sedikit ingin memperkenalkan diri dan menceritakan latar belakang kehidupan penulis. Penulis dilahirkan di kota Solo yang konon melahirkan orang-orang yang kalem (cieee…). Penulis dilahirkan dari orangtua pendidik, tepatnya Bapak seorang dosen dan Ibu seorang guru, yang cukup demokrat. Sebagai anak ke-4 dari 4 bersaudara, penulis merasakan seluruh perhatian anggota-anggota keluarga dicurahkan ke diri penulis. Pada awalnya penulis sangat menikmati keadaan ini, dan sangat bersyukur karenanya. Namun penulis sadar, keadaan ini, yang membuat penulis selalu merasa nyaman berada di ligkungan keluarga, jika diteruskan, akan melemahkan kepribadian penulis terutama sifat kemandirian (sekedar untuk diketahui, sejak dari kecil hingga sekolah tingkat atas, penulis berdomisili di kota Solo, dan jarang sekali melakukan perjalanan ke luar kota). Oleh karena itu, muncul keinginan penulis untuk lepas dari lingkungan keluarga, yang kemudian baru terwujud ketika penulis diterima untuk berkuliah jenjang sarjana di Universitas Gadjah Mada di Jogja. Pada awal-awal penulis ngekos, terasa benar beratnya hidup terpisah dengan keluarga yang selama ini mengayomi penulis, yang berakibat muncul rasa tidak betah, dan selalu muncul kerinduan dengan kampung halaman. Perasaan ini membuat penulis setiap seminggu sekali pulang kampung.

Berbekal pengalaman hidup sendiri yang minim dan ilmu agama yang seadanya, penulis memberanikan diri untuk memulai “hidup baru” — benar-benar baru. Sebagai catatan, penulis terlahir di keluarga yang mempunyai basic agama yang tidak terlalu kuat. Padahal bekal ini adalah poin penting yang harus dimiliki seseorang untuk memulai hidup terpisah dengan apa yang selama ini menjadi tempat dia bergantung. Mengapa di sini penulis beranggapan bahwa seseorang perlu berbekal ilmu agama yang cukup? jawabannya karena dengan ilmu agama yang memadai, seseorang punya prinsip hidup dan integritas diri yang kuat, sehingga dapat dengan bijak menyikapi situasi di luar dirinya. Terutama di saat-saat tidak ada seorang pun yang membimbing dia, kecuali Alloh Ta’ala. Sebagaimana bahasa sebuah iklan produk minuman di media elektronik: “ketika orangtua tidak bisa melindungi anaknya (karena terpisah jarak, misalnya), nutrisinya bisa!”. Nah, kata-kata ini bisa sedikit “diplesetkan”: ketika orangtua tidak bisa melindungi anaknya, agamanya bisa! insyaa Alloh.

Di sela-sela kesibukan kuliah, penulis menyempatkan diri untuk mendalami ilmu agama. Ternyata banyak hal baru yang penulis dapatkan dari belajar ilmu agama ini, yang penulis akui, dirasakan sangat bermanfaat bagi diri penulis. Dari kegiatan-kegiatan belajar ilmu agama tadi, perlahan-lahan penulis mulai menemukan jati dirinya. Penulis mulai mengurangi aktivitas-aktivitas yang tidak bermanfaat dan sia-sia. Penulis semakin intensif mengikuti kegiatan keagamaan untuk “mengejar ketertinggalan”. Dari situ penulis sadar, ternyata masih sangat banyak ilmu agama yang belum dipelajari penulis. Pada waktu itu, banyak kegiatan lain, yang sebenarnya juga penting, yang penulis nomor-duakan. Karena ketika itu dalam anggapan penulis, belajar ilmu agama selain penting, juga mendesak untuk segera dilaksanakan. Alhamdulillah di Jogja memang banyak tempat yang menyediakan informasi-informasi agama yang kondusif dan lengkap. Dari situ penulis beranggapan bahwa, mumpung masih di Jogja, kesempatan belajar ilmu agama selengkap-lengkapnya tidak boleh dilewatkan. Namun, sekedar nasihat kepada pembaca, selektiflah dalam memilih tempat menimba ilmu agama. Sebab di Jogja saja meski banyak tempat yang mengajarkan ilmu agama yang benar dan murni, namun tidak sedikit yang juga mengajarkan ilmu agama yang terkontaminasi dengan ilmu dan pemikiran-pemikiran lain yang sejatinya sudah menyimpang dari ajaran Islam yang murni. Mengenai masalah ini penulis tidak mengarahkan pembaca ke tempat tertentu, namun diserahkan sepenuhnya kepada pembaca dalam memilih. Hendaknya dalam hal ini berdoalah kepada Alloh agar ditunjukkan ke jalan yang haq, jalan yang benar.

Seiring dengan berjalannya waktu, setelah melalui perenungan yang mendalam (yang memakan waktu cukup lama), penulis berkemauan keras untuk mengubah karakter penulis sendiri, terutama sifat manja, tergantung orang lain, dan sifat “mbok-mboken” (selalu rindu keluarga), karena ini untuk kebaikan penulis sendiri. Akhirnya sedikit demi sedikit sifat ini mulai terkikis. Dimulai dari yang tadinya mudik seminggu sekali, menjadi 2 minggu sekali, sampai tidak pulang berminggu-minggu. Dari yang tadinya tidak bisa mencuci dan menyetrika baju sendiri, sampai mencuci dan menyetrika baju teman indekost. Namun, memang untuk sampai tahapan ke situ, penulis mengerahkan energi yang cukup besar. Meski demikian, penulis sampai saat ini masih beranggapan bahwa belum sepenuhnya penulis lepas total dari karakter-karakter penulis tersebut di atas. Apalagi masih banyak sifat-sifat negatif dari penulis yang belum mampu penulis ubah. Tentang masalah ini penulis memohon pertolongan Alloh untuk memberikan kekuatan kepada penulis untuk melakukan perubahan ke arah yang lebih baik. Karena ada jargon yang mengatakan: “di dunia ini tidak ada yang tetap kecuali perubahan itu sendiri”. Atau ada yang beranggapan: “if you don’t change, you will die!”. Penulis cukup sependapat dengan anggapan ini. Oleh karena itu penulis terus, terus, dan terus berusaha memperbaiki diri. Penulis hanya berusaha di prosesnya. Mengenai hasilnya, penulis serahkan sepenuhnya kepada Alloh Yang Maha Kuasa. Salah satu usaha perubahan ke arah yang lebih baik itu penulis wujudkan dalam bentuk penyusunan blog ini.

Sebagai penutup perkenalan ini, penulis ingin memberikan pesan. Pesan ini terutama ditujukan bagi calon bapak dan calon ibu, termasuk penulis sendiri. Jika nanti memiliki anak, didiklah anak-anak Anda dengan ilmu agama dengan benar sejak dini. Jangan ikuti jejak penulis yang baru memperoleh ilmu agama setelah dewasa, yang akhirnya cukup keteteran, dan banyak hal terbengkalai demi untuk mengejar ketertinggalan. Agama yang saya bicarakan di sini tentu saja agama yang haq, yaitu dienul Islam. Agama bukanlah sesuatu yang dibuat main-main, bukan hanya sebagai tulisan di KTP saja. Munculnya banyak persoalan di negara ini, seperti korupsi, pembunuhan, perkosaan, merajalelanya kemiskinan, anak jalanan, dsb adalah sebagai akibat semakin jauhnya orang dari agama. Agama adalah petunjuk jalan mengarungi kehidupan, yang karenanya seseorang akan selamat dunia dan akhirat. Dan dengan pendidikan agama sejak dini, predikat anak sholeh semakin mungkin dicapai. Kalau sudah begini, yang diuntungkan juga kita sebagai orang tua, karena doa anak yang sholeh kepada orang tuanya tidak terbatas ruang dan waktu, insyaa Alloh akan dikabulkan. Jadikanlah anak kita sebagai investasi jangka panjang, yaitu kita terima pahala dari doanya selepas kita tutup usia nanti, tepatnya ketika kita di alam kubur, insyaa Alloh.

Sekian tentang penulis. Terima kasih.

Catatan: isi dari halaman ini dapat berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan.

Tags: LauKaana Khairan Lasabaquunaa Ilaihi

%d blogger menyukai ini: