Oleh: zuhudhi | 21 Maret 2013

Keutamaan Para Shahabat Rosululloh

—————————————

Jika kita bertanya pada seseorang, siapakah yang paling kenal dengan si fulan? Mayoritas orang pasti akan menjawab keluarganya, yaitu istrinya. Selain itu akan muncul jawaban shahabat dekatnya. Sekarang jika ada yang bertanya kepada kita, siapakah yang paling mengenal Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam? Ya, tentu para shahabat beliau.

Lantas, apa definisi dari shahabat Nabi? Yang dimaksud dengan shahabat (baca: shohabat, zuh) adalah mereka yang bertemu dengan Nabi secara langsung, beriman kepada Nabi dan mati dalam keadaan beriman. Jika ia beriman kepada Nabi namun tidak bertemu Nabi, maka hal itu tidak disebut dengan shahabat. Misalnya adalah Raja Najasyi. (Ta’liq Mukhtashor ‘ala matni Al-Aqidah Ath-Thohawiyyah, Syaikh Sholih Al-Fauzan)
Mencintai para shahabat Nabi adalah salah satu pokok di antara pokok-pokok seorang muslim yang benar aqidahnya. Karena banyak sekali ayat dari Al-Quran dan hadits Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam yang memuji para shahabat. Dan sudah sepantasnya, menjadi kewajiban kita sebagai seorang muslim untuk mencintai dan mendoakan kebaikan kepada para shahabat Nabi.

Pujian kepada Shahabat Nabi dari Al-Quran


Alloh ‘Azza wa Jalla berfirman (yang artinya), “Bagi orang-orang fakir dari kalangan Muhajirin yang diusir dari negeri-negeri mereka dan meninggalkan harta-harta mereka karena mengharapkan keutamaan dari Alloh dan keridhoan-Nya demi menolong agama Alloh dan Rosul-Nya. Mereka itulah orang-orang yang benar. Sedangkan orang-orang yang tinggal di negeri tersebut (Anshor) dan beriman sebelum mereka juga mencintai orang-orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin) dan di dalam hati mereka tidak ada rasa butuh terhadap apa yang mereka berikan dan mereka lebih mengutamakan saudaranya daripada diri mereka sendiri walaupun mereka juga sedang berada dalam kesulitan” (QS. Al-Hasyr : 8-9)

Alloh Tabaroka wa Ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan orang-orang yang terlebih dulu (berjasa kepada Islam) dari kalangan Muhajirin dan Anshor serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, maka Alloh telah ridho kepada mereka dan mereka pun ridho kepada Alloh. Dan Alloh telah mempersiapkan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang sangat besar” (QS. At-Taubah : 100)

Dalam ayat ini, Alloh sangat jelas memuji kaum Muhajirin (yang berhijrah bersama Nabi dari Mekkah ke Madinah) dan kaum Anshor (yang menolong para Muhajirin). Alloh menjanjikan surga kepada para shahabat dalam ayat ini.

Alloh Ta’ala juga berfirman, “Sungguh Alloh telah ridho kepada orang-orang yang beriman (para shahabat Nabi) ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon (Bai’at Ridwan). Alloh mengetahui apa yang ada di dalam hati mereka. Kemudian Alloh menurunkan ketenangan kepada mereka dan membalas mereka dengan kemenangan yang dekat” (QS. Al-Fath : 18)

Pujian kepada Shahabat Nabi dari As-Sunnah


Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya), “Sebaik-baik umat manusia adalah generasiku (shahabat), kemudian orang-orang yang mengikuti mereka (tabi’in) dan kemudian orang-orang yang mengikuti mereka lagi (tabi’ut tabi’in).” (Muttafaqun ‘alaih)
Alloh Ta’ala berkata kepada para shahabat yang mengikuti perang Badr, “Beramallah sesuka kalian, sungguh aku telah mengampuni kalian” (HR. Al-Bukhori dan Muslim)

Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam juga bersabda tentang para shahabat yang ikut dalam Bai’atu Ridwan, “Tidak akan masuk neraka seorang pun yang melakukan bai’at di bawah pohon (bai’atu ridwan)” (HR. Muslim)

Larangan Mencela Shahabat Nabi


Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya), “Janganlah kalian mencela seorang pun di antara para shahabatku. Karena sesungguhnya apabila seandainya ada salah satu di antara kalian yang bisa berinfak emas sebesar Gunung Uhud, maka itu tidak akan bisa menyaingi infak salah seorang di antara mereka; yang hanya sebesar genggaman tangan atau bahkan setengahnya” (HR. Al-Bukhori dan Muslim)

Hadits di atas adalah kisah yang terjadi di antara dua orang shahabat Nabi, yaitu Kholid bin Walid dan ‘Abdurrohman bin ‘Auf. Karena sesuatu hal, Kholid bin Walid mencaci ‘Abdurrohman bin ‘Auf. Lihatlah wahai saudaraku seiman, padahal keduanya adalah shabahat Nabi yang mulia, namun Nabi melarang Kholid bin Walid mencela para shahabatnya. Jika seorang Khalid bin Walid, shahabat Nabi yang mulia, dilarang mencela para shahabat, lantas bagaimana dengan kita yang memiliki kedudukan sangat jauh di bawah kedudukan beliau?

Kedudukan Shahabat Nabi pun Bertingkat-Tingkat


Meskipun disebut shahabat Nabi, kedudukan mereka bertingkat-tingkat. Misalnya kaum Muhajirin itu lebih mulia dibandingkan dengan kaum Anshor. Shahabat yang ikut perang Badr kedudukannya lebih mulia dibandingkan dengan shahabat yang tidak ikut perang Badr. Bahkan harta yang mereka keluarkan di masa-masa awal dakwah Islam, lebih besar pahalanya dibandingkan saat Islam telah tersebar luas, meskipun harta yang dikeluarkan sedikit.

Alloh Ta’ala berfirman (yang artinya), “Tidak sama di antara kamu orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sebelum penaklukan (Al-Fath). Mereka itu lebih tinggi derajatnya daripada orang-orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sesudah itu, dan masing-masing Alloh telah janjikan kebaikan (surga) untuk mereka” (QS. Al-Hadid: 10)

Yang dimaksud Al-Fath di sini kata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah adalah perjanjian Hudaibiyah. Jadi, shahabat yang berperang dan berinfak sebelum perjanjian Hudaibiyah, lebih utama dibandingkan shahabat yang berperang dan berinfak setelah perjanjian Hudaibiyah. (lihat Al ‘Aqidah Al Wasithiyyah)

Urutan keutamaan para Shahabat Nabi :

 

  1. Khulafaur Rosyidin yang empat, yaitu Abu Bakr, ‘Umar bin Khoththob, ‘Utsman bin ‘Affan dan ‘Ali bin Abi Tholib.
  2. Sepuluh shahabat yang dijamin masuk surga selain empat khulafaur rosyidin di atas, yaitu Abu ‘Ubaidah ‘Amir bin Al Jarroh, Sa’ad bin Abi Waqqosh, Sa’id bin Zaid, Zubair bin Al Awwam, Tholhah bin ‘Ubaidillah dan Abdurrohman bin ‘Auf rodhiyallohu ‘anhum.
  3. Para shahabat yang mengikuti Perang Badr, disebut juga Ahlul Badr
  4. Para shahabat yang melakukan bai’at kepada Nabi di bawah pohon, disebut bai’atul ridwan
  5. Para shahabat yang beriman dan berjihad sebelum perjanjian Hudaibiyah
  6. Kaum Muhajirin secara umum
  7. Kaum Anshor

(Ta’liq Mukhtashor ‘ala matni Al-Aqidah Ath-Thohawiyyah, Syaikh Sholih Al-Fauzan)

Wajib Mengikuti Sunnahnya Para Shahabat

Semua kaum muslimin sepakat, bahwa yang dijadikan pegangan dan pedoman dalam Islam adalah Al-Quran dan As-Sunnah. Namun As-Sunnah di sini tidak hanya sunnah Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam saja, namun sunnahnya para shahabat.

Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya), “…Maka wajib bagi kalian untuk mengikuti sunnnahku dan sunnah khulafa ar rosyidin yang mereka telah diberi petunjuk. Berpegang teguhlah dan gigitlah ia dengan gigi geraham…” (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, Ibnu Majah. At-Tirmidzi mengatakan hadits hasan shohih)

Maka jelaslah dalam hadits di atas, Nabi sendiri yang memerintahkan untuk mengikuti sunnah beliau dan sunnah para shahabat beliau. Dan tidak ada jalan bagi kita selain ta’at dengan apa yang Nabi perintahkan.

Penutup
Demikianlah tulisan singkat mengenai keutamaan shahabat Nabi. Sungguh besar jasa mereka dalam membantu Nabi untuk menyebarkan dakwah Islam. Tidak sepatutnya bagi seorang muslim untuk mengabaikan sunnah para shahabat, apalagi mencela para shahabat. Jika kita mengaku mencintai Nabi, maka cintailah juga para shahabat Nabi.

—————————————

Sumber: Buletin At-Tauhid online.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: