Oleh: zuhudhi | 28 November 2011

Sepenggal Kisah Unik Abu Huroiroh

——————————————

Imam Muslim rohimahulloh menuturkan sebuah kisah menarik di dalam kitabnya Shohih Muslim. Beliau berkata: Zuhair bin Harb menuturkan kepada saya: [Dia berkata] Umar bin Yunus al-Hanafi menuturkan kepada kami: [Dia berkata] Ikrimah bin ‘Ammar menuturkan kepada kami. Dia berkata: Abu Katsir menuturkan kepada kami. Dia berkata: Abu Huroiroh menuturkan kepadaku.

Abu Huroiroh berkata:

Suatu ketika kami duduk-duduk bersama Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam. Ketika itu ada juga bersama kami Abu Bakar dan Umar dalam sebuah rombongan [para sahabat]. Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bangkit meninggalkan rombongan kami. Akhirnya, beliau pun tertinggal di belakang kami. Kami khawatir kalau ada apa-apa yang menimpa beliau sehingga tertinggal dari rombongan. Kami pun merasa khawatir dan berusaha mencari tahu keberadaan beliau. Saat itu, aku adalah orang pertama yang dirundung cemas, jangan-jangan ada sesuatu yang menimpa beliau.

Kutinggalkan rombongan untuk mencari Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam. Akhirnya, aku jumpai sebuah kebun milik kaum Anshor dari Bani Najjar. Aku kelilingi kebun itu, barangkali ada pintu masuk yang bisa dilewati. Ternyata pintu itu tidak ada. Yang aku temukan hanyalah sebuah sungai kecil yang menuju bagian dalam kebun. Sungai itu bersumber dari sebuah mata air di luar kebun. Aku pun meloncat -masuk ke dalam kebun- seperti seekor srigala.

Di dalam kebun itu, aku bertemu dengan Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam. Beliau berkata, “Abu Huroiroh?”. Kujawab, “Benar ya Rosulalloh”. Beliau mengatakan, “Ada apa denganmu?”. Aku  berkata, “Sebelum ini anda berada di tengah-tengah kami, kemudian anda pergi sehingga tertinggal dari rombongan. Kami merasa khawatir ada apa-apa yang terjadi padamu sehingga tertinggal dari rombongan. Kami merasa was-was, dan akulah orang pertama yang merasa cemas. Oleh sebab itu aku datangi kebun ini. Aku pun meloncat -masuk ke dalam kebun- seperti seekor srigala. Sementara para sahabat yang lain tetap berada di belakang.”

Beliau pun bersabda -seraya memberikan sepasang sandalnya kepadaku-, “Pergilah dengan membawa kedua sandalku ini. Siapa saja yang kamu temui di balik kebun ini sedangkan dia bersaksi bahwa tidak ada sesembahan -yang benar- selain Alloh dengan penuh keyakinan dari dalam hatinya, maka berikanlah kabar gembira surga untuknya.”

Setelah keluar, ternyata orang pertama yang aku jumpai adalah Umar. Umar pun bertanya, “Ada apa dengan kedua sandal ini wahai Abu Huroiroh?”. Aku berkata, “Ini adalah sandal Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam. Beliau mengutusku dengannya seraya berpesan: Barangsiapa yang  aku jumpai di balik kebun ini sedangkan dia bersaksi bahwa tidak ada sesembahan -yang benar- selain Alloh dengan penuh keyakinan dari dalam hatinya, maka akan aku berikan kabar gembira surga untuknya.”

Umar pun memukul dadaku dengan tangannya. Aku pun terdorong jatuh dan terduduk di atas pantatku. Umar berkata, “Kembalilah wahai Abu Huroiroh.” Aku pun kembali menemui Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam. Seraya menahan tangis aku adukan hal ini kepada beliau. Umar pun ternyata berjalan mengikutiku dari belakang.

Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bertanya kepadaku, “Apa yang terjadi padamu, wahai Abu Huroiroh?”. Aku menjawab, “Aku tadi bertemu dengan Umar. Kemudian kukabarkan kepadanya berita yang anda perintahkan. Tiba-tiba Umar mendaratkan sebuah pukulan ke dadaku sehingga aku pun terdorong jatuh dan terduduk di atas pantatku. Umar justru berkata kepadaku, “Kembalilah.”

Maka Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada Umar, “Wahai Umar. Apa yang mendorongmu untuk melakukan hal itu?”. Umar menjawab, “Wahai Rosululloh, ayah dan ibuku sebagai tebusan bagimu. Benarkah anda telah mengutus Abu Huroiroh dengan membawa kedua sandalmu untuk mengatakan kepada orang yang dia temui; barangsiapa yang dia temui sedangkan dia telah bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang benar selain Alloh dengan penuh keyakinan dari dalam hatinya bahwa dia mendapatkan kabar gembira surga?”.

Beliau pun menjawab, “Benar”. Umar pun menimpali, Jangan anda lakukan itu. Saya khawatir orang-orang menjadi bersandar kepadanya. Biarkan saja mereka sibuk dengan amalnya.” Maka Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ya, biarkan saja mereka.”

[Diterjemahkan dari Shohih Muslim bersama Syarah Nawawi, juz 2 hal. 77-82]

Kaum muslimin yang dirahmati Alloh, kisah ini menyimpan segudang pelajaran berharga. Imam Nawawi rohimahulloh telah menyebutkan sebagian pelajaran yang terkandung di dalam hadits ini sebagai berikut:

  1. Tatkala memberitakan rombongan para sahabat yang ada saat itu, Abu Huroiroh rodhiyallohu’anhu berkata, “Ketika itu ada juga bersama kami Abu Bakar dan Umar…”. Ini merupakan cara pemberitaan yang bagus. Yaitu apabila bermaksud menceritakan serombongan orang namun dirasa terlalu banyak jika harus disebutkan seluruhnya, maka cukuplah disebutkan tokoh-tokohnya. Adapun yang lain cukup disebutkan secara umum (lihat Syarh Muslim [2/77])
  2. Di dalam hadits di atas Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam menyebutkan bahwa orang yang akan masuk surga adalah orang yang mengucapkan la ilaha illalloh [tidak ada sesembahan -yang benar- selain Alloh, zuh] dengan disertai keyakinan hati. Hal ini menunjukkan bahwa sekedar mengucapkan kalimat syahadat tanpa disertai keyakinan terhadap kandungannya tidaklah bermanfaat. Demikian pula, keyakinan tauhid yang tidak diucapkan juga tidak berguna. Oleh sebab itu keduanya harus dipadukan; yaitu keyakinan tauhid dan ucapan/syahadat (lihat Syarh Muslim [2/79]). Hal ini tentu saja dengan catatan ucapan dan keyakinan itu juga diiringi dengan amalan; yaitu seorang beribadah kepada Alloh semata dan mengingkari peribadatan kepada selain-Nya, sebagaimana hal itu telah dipahami…
  3. Perbuatan Umar ketika memukul Abu Huroiroh bukanlah dalam rangka menjatuhkan atau menyakitinya, akan tetapi demi mencegahnya dari apa yang hendak dia lakukan dan supaya dia benar-benar menahan diri darinya. Sebab, menurut pandangan Umar menyembunyikan berita itu untuk sementara jauh lebih mendatangkan kebaikan daripada menyebarkannya. Karena dengan menyebarkannya membuat orang hanya bersandar dengan tauhid dan meninggalkan amalannya. Tatkala pandangan itu disampaikan Umar kepada Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam, ternyata beliau pun menyetujui pendapatnya (lihat Syarh Muslim [2/80])
  4. Hal ini menunjukkan bahwa apabila seorang pemimpin atau orang yang lebih senior memilih suatu pendapat kemudian orang-orang yang mengikutinya memiliki pendapat yang berlainan, semestinya bagi pengikut untuk menyampaikan pendapat itu kepada pemimpin atau seniornya. Apabila tampak baginya bahwa yang benar adalah pendapat si pengikut maka selayaknya pemimpin itu pun rujuk kepadanya. Apabila ternyata sebaliknya -pendapat mereka yang salah-, hendaknya dia menjawab kerancuan yang mereka tanyakan (lihat Syarh Muslim [2/80])
  5. Seorang yang berilmu hendaknya menyempatkan diri untuk duduk-duduk bersama murid-murid atau orang-orang yang bertanya kepadanya dalam rangka menyampaikan ilmu atau faidah serta melayani pertanyaan-pertanyaan mereka (lihat Syarh Muslim [2/81])
  6. Kisah di atas menunjukkan betapa besar penghormatan dan sopan santun para sahabat rodhiyallohu’anhum dalam menunaikan hak-hak Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam, dalam memuliakan beliau dan menaruh rasa kasih sayang yang sangat besar kepada beliau (lihat Syarh Muslim [2/81])
  7. Kisah ini juga memberikan pelajaran hendaknya para murid atau pengikut memiliki perhatian dan kepedulian terhadap orang yang mereka ikuti. Hendaknya mereka juga memikirkan tentang kemaslahatan untuknya dan berusaha menyingkirkan mafsadat yang ditemuinya (lihat Syarh Muslim [2/81])
  8. Bolehnya memasuki suatu daerah/tempat milik orang lain -termasuk juga menggunakan barang-barang yang ada di dalamnya- walaupun tanpa ijin darinya selama dia mengetahui bahwa orang tersebut [pemiliknya] tidak mempermasalahkan hal itu dikarenakan kedekatan hubungan yang terjalin di antara mereka berdua. Inilah pendapat yang dianut oleh mayoritas ulama salaf maupun ulama belakangan (lihat Syarh Muslim [2/81])
  9. Hendaknya seorang pemimpin mengirimkan suatu tanda yang bisa dikenali oleh para pengikutnya demi mendatangkan ketenangan di hati mereka (lihat Syarh Muslim [2/81]). Sebagaimana halnya Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam mengutus Abu Huroiroh rodhiyallohu’anhu dengan membawa sandal beliau agar para sahabat merasa yakin tentang keselamatan beliau dan tidak perlu lagi mencemaskan keadaannya
  10. Bolehnya menahan penyebaran sebagian ilmu yang dirasa kurang perlu dalam rangka  kemaslahatan yang lebih besar atau dikhawatirkan timbulnya mafsadat (lihat Syarh Muslim [2/81]). Pelajaran serupa juga bisa kita petik dari hadits Mu’adz bin Jabal rodhiyallohu’anhu tatkala berboncengan dengan Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam. Ketika itu Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah seorang hamba yang bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang benar selain Alloh dan Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya -dengan penuh kejujuran- kecuali pasti Alloh haramkan dia masuk neraka.” Mu’adz berkata, “Wahai Rosululloh, tidakkah sebaiknya saya kabarkan hadits ini kepada orang-orang sehinga mereka merasa senang?”. Beliau menjawab, “Kalau kamu lakukan hal itu, niscaya mereka akan bersandar (menyepelekan amal).” Menjelang akhir hayatnya barulah Mu’adz bin Jabal menyampaikan hadits ini karena ia khawatir terjatuh dalam perbuatan dosa -yaitu menyembunyikan ilmu- (lihat Syarh Muslim [2/83])

Demikianlah secuplik kisah unik yang dialami oleh sahabat Abu Huroiroh rodhiyallohu’anhu. Mudah-mudahan menjadi bahan pelajaran bagi kita. Dari sini kita juga bisa memetik pelajaran tentang kedalaman ilmu para ulama salaf dan kepahaman mereka tentang kondisi umat manusia.

Para ulama salaf (ulama terdahulu, zuh) bukanlah kaum tekstualis yang hanya berkutat pada teks dalil tanpa menganalisa hal-hal lain yang terkait dengannya -sebagaimana tuduhan kaum Liberal-bahkan mereka pun menyelami dampak dan pengaruh dari suatu dalil terhadap pendengarnya. Mereka menggunakan akalnya demi memahami dan menerapkan dalil, bukan untuk menghakimi dan menyelewengkannya.

Wahai kaum muslimin… Ketahuilah, bahwa kejayaan umat ini hanya akan diraih bersama manhaj salaf. Bukankah Imam Malik rohimahulloh telah mengatakan, Tidak akan memperbaiki kondisi akhir umat ini kecuali sesuatu yang telah berhasil memperbaiki generasi awalnya.” Imam al-Auza’i rohimahulloh juga berpesan, “Hendaklah kamu setia dengan jejak para salaf meskipun orang-orang menolakmu. Dan waspadalah dari pendapat akal manusia, meskipun mereka menghias-hiasinya dengan ungkapan yang indah.” Akankah kita membuang ucapan emas para ulama salaf dan kita telan ucapan kotor kaum sekuler dan pluralis? Kallaa tsumma kallaa -sekali-kali tidak-…!

——————————————

Sumber: artikel AbuMushlih.com

 


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: