Oleh: zuhudhi | 26 November 2011

Hal-hal Berkaitan dengan Bulan Muharrom

Sebentar lagi kita akan memasuki Bulan Muharrom, yang merupakan penanda dimulainya Tahun Baru Hijriyah (memasuki tahun 1433 H). Berikut ulasan mengenai beberapa hal penting yang berhubungan dengan Bulan Muharrom.

—————————————–

Hendaknya kita merasa cukup dengan ajaran Nabi sholallohu ‘alaihi wa sallam karena sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk beliau, dan sejelek-jelek perkara dalam agama adalah amalan ibadah baru yang diada-adakan.

Keutamaan Bulan Muharrom

Bulan Muharrom termasuk bulan yang disucikan Alloh ta’ala. Rosululloh sholallohu ‘alaihi wa sallam mensifati dan menisbatkannya kepada Alloh dengan menamainya sebagai “syahrulloh al Muharrom” (bulan Alloh Al Muharrom). Hal ini menunjukkan keutamaan dan kemuliaan bulan ini di sisi Alloh ta’ala, karena tidaklah Alloh  menggandengkan sesuatu dengan nama-Nya kecuali dengan makhluk-Nya yang istimewa.(Lathoiful Ma’arif hal 70, karya Ibnu Rojab Al Hambali)

Al Hasan rohimahulloh berkata, “Sesungguhnya Alloh membuka tahun dengan bulan yang suci dan menutupnya dengan bulan yang suci pula. Dan tidaklah ada bulan dalam setahun yang lebih agung di sisi Alloh setelah bulan Romadhon kecuali bulan Muharrom.”  (Lathoiful Ma’arif hal 67, karya Ibnu Rajab Al Hambali)

Bulan Muharrom merupakan bulan yang Alloh utamakan. Sisi keutamaannya adalah bahwa berpuasa di bulan ini lebih utama daripada berpuasa di bulan yang lain selain bulan Romadhon, sebagaimana terdapat dalam hadits yang shohih dari Nabi sholallohu ‘alai wa sallam, Puasa paling utama setelah puasa bulan Romadhon adalah puasa pada bulan Alloh Al Muharrom.” (HR. Muslim)

Adapun hadits yang menceritakan bahwa Nabi sholallohu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang puasa apa yang paling utama setelah puasa Romadhon, kemudian beliau menjawab, “Puasa pada bulan Sya’ban dalam rangka mengagungkan Romadhon.” Kemudian beliau ditanya lagi tentang sedekah apa yang paling utama, kemudian beliau menjawab,”Sedekah di bulan Romadhon.” Hadits tersebut adalah hadits yang mungkar begitu pula dengan hadits: “Puasa yang paling utama setelah puasa Romadhon adalah puasa di bulan Sya’ban.”

Imam An Nawawi berkata dalam kitab Al Adzkar,”Makruh hukumnya menamai bulan Muharrom dengan Shofar karena hal tersebut merupakan kebiasaan jahiliyah.” (Al Adzkar hal.313, karya An Nawawi)

Ibnu ‘Allan mengatakan,” As Suyuthi berkata: Aku ditanya” Mengapa bulan Muharrom dikhususkan dengan sebutan “Syahrulloh Al Muharrom” sedangkan bulan yang lain tidak. Padahal, ada bulan lain yang menyamai keutamaannya atau bahkan lebih utama darinya semisal Romadhon?” Maka diantara jawaban yang aku temukan untuk menjawab pertanyaan tersebut adalah bahwa penamaan bulan Muharrom dengan istilah Al Muharrom adalah penamaan yang islami, berbeda dengan bulan selainnya di masa jahiliyah. Karena nama bulan Muharrom di masa jahiliyah adalah “Shofar Al Awwal” (bulan Shofar yang pertama). Kemudian bulan setelahnya dinamakan “Shofar Ats Tsani” ( bulan shofar yang kedua). Ketika islam datang, maka Alloh menamai bulan Muharrom yang tadinya bernama “Shofar Al Awwal” menjadi “Al Muharrom”, maka Alloh kemudian menggandengkan nama bulan ini dengan namanya (sehingga menjadi: Syahrulloh Al Muharrom). Ini merupakan faidah yang sangat menarik dan berharga yang aku lihat dalam kitab Al Jamharoh” (Al Futuhat Ar Robaniyyah bi Syarhi Al Adzkaar An Nabawiyyah 7/100, karya Ibnu ‘Allan)

Diantara kekeliruan yang dilakukan banyak orang adalah menyebut bulan ini dengan lafadz “Muharrom” tanpa ada hurul alif dan lam di awalnya.  Penyebutan yang benar adalah dengan lafadz “al Muharrom” karena orang arab tidaklah menyebut bulan ini kecuali dalam bentuk mu’arrof (mengandung huruf alif dan lam) dan demikian pulalah yang disebutkan dalam berbagai hadits yang mulia dan berbagai syair arab. (Tashwibul Mafaahim hal 75). Tidaklah huruf alif dan lam masuk dalam nama bulan kecuali untuk bulan Muharrom.

Bulan Muharrom dan Puasa Asyuro’

Hari Asyuro’ adalah hari kesepuluh di bulan Muharrom menurut mayoritas ulama. Hari tersebut merupakan hari yang mulia, diberkahi, agung kedudukannya, dan memiliki keutamaan yang besar. Diantara keutamaan hari Asyuro’ adalah:

1. Pada Hari Asyuro’ Alloh ta’ala Menyelamatkan Musa dan Bani Isroil serta Menenggelamkan Fir’aun dan Pengikutnya.

Dari Ibnu Abas rodhiallohu ‘anhuma , beliau mengatakan, “Rosululloh sholallohu ‘alaihi wa sallam tiba di kota Madinah dan beliau menjumpai orang Yahudi dalam keadaan berpuasa pada hari Asyuro’. Maka beliau bertanya kepada mereka, “Hari apa ini yang kalian berpuasa di dalamnya?” Mereka menjawab, ”Ini merupakan hari yang agung dimana Alloh ta’ala menyelamatkan Musa dan kaumnya serta menenggelamkan Fir’aun dan pengikutnya. Sehingga Musa berpuasa pada hari tersebut sebagai bentuk syukur, sehingga kami pun berpuasa sebagaimana beliau.” Maka Nabi sholallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Kami lebih berhak terhadap Musa dari kalian.” Beliau pun berpuasa pada hari tersebut dan memerintahkannya.” (HR. Bukhori-Muslim)

2. Puasa di Hari Asyuro’ Dapat Menghapus Dosa Setahun yang Lalu.

Nabi sholallohu ‘alaihi wa sallam bersabda mengenai puasa di hari Asyuro’, “Aku berharap bisa menghapus dosa setahun sebelumnya.” (HR. Muslim)

3. Puasa di Hari Asyuro’ Merupakan Puasa yang Sangat Nabi Inginkan Keutamaannya Dibandingkan Hari yang Lain.

Dari Ibnu ‘Abbas rodhiallohu ‘anhuma bahwa beliau ditanya tentang puasa di hari Asyuro’, maka beliau menjawab, “ Tidaklah aku melihat Rosululloh sholallohu ‘alaihi wa sallam berpuasa pada satu hari yang sangat beliau inginkan mendapat keutamaannya dibandingkan hari yang lain kecuali hari ini – yaitu hari Asyuro’-, dan bulan ini –yaitu Romadhon-.” (HR. Bukhori-Muslim)

Disunnahkan untuk berpuasa di tanggal sembilan Muharrom beserta tanggal sepuluhnya, karena hal ini merupakan keadaan akhir yang dilakukan Nabi ketika melakukan puasa Asyuro’.

Diantara perbuatan yang keliru adalah berpuasa pada tanggal sembilan Muharrom saja, sedangkan yang diajarkan dalam hadits shohih adalah berpuasa pada tanggal sepuluh saja atau pada tanggal sembilan dan sepuluh. Adapun menambahkannya dengan tanggal sebelas, maka sebagian ulama menilai bahwa hadits yang menyebutkan tanggal sebelas Muharrom adalah hadits yang dho’if.

Beberapa Bid’ah Berkaitan Dengan Bulan Muharrom

Syaikh Bakr Abu Zaid berkata, ”Tidak ada satu dalil pun yang shohih dalam syariat berkenaan dengan dzikir dan doa awal tahun, yaitu untuk awal hari atau malam memasuki bulan Muharrom. Banyak orang yang membuat doa, dzikir, berbagai peringatan, saling mengucapkan selamat, berpuasa di hari pertama awal tahun, menghidupkan malam di hari pertama bulan Muharrom dengan sholat, dzikir, doa, berpuasa di akhir tahun dan berbagai hal lainnya yang ternyata tidak ada dalilnya.” (Tas-hihud Du’aa’ hal.107-108, karya syaikh Bakr abu Zaid)

Berkaitan dengan ini, berikut ini adalah diantara bid’ah yang dilakukan di bulan Muharrom:

1. Membuat Perayaan Masuknya Tahun Baru Hijriyah dan Saling Mengucapkan Selamat dengan Datangnya Tahun Baru.

Betapa merasa sakitnya seorang muslim ketika melihat jama’ah kaum muslimin, baik individu maupun masyarakatnya merayakan tahun baru hijriyyah sedangkan ketika merayakannya mereka lupa berdasar perintah siapa mereka merayakan perayaan tersebut. Apakah berdasar perintah Alloh dalam Kitab-Nya? Ataukah berdasarkan perintah Rasul sholallohu ‘alaihi wa sallam? Ataukah mereka melakukan demikian karena meneladani para sahabat rodhiallohu ‘anhum? Sesungguhnya diantara kekeliruan yag sangat jelas adalah ketika kaum muslimin lebih memilih melakukan hal-hal yang tidak berdalil baik dari Al Qur’an maupun sunnah Rasul sholallohu ‘alaihi wa sallam.

2. Peringatan Hijrahnya Nabi sholallohu ‘alaihi wa sallam.

Sebagian orang di zaman ini tidaklah mengetahui hijrahnya Nabi sholallohu ‘alaihi wa sallam kecuali sebagai memoar yang dibacakan sekali tiap tahun dan diadakanlah berbagai perayaan, khutbah, dan berbagai ceramah keagamaan dalam jangka waktu beberapa hari kemudian selesai dan dilupakan sampai tiba tahun selanjutnya tanpa adanya pengaruh sedikitpun pada perilaku dan amalan mereka. Oleh karena itulah Anda jumpai sebagian mereka tidak berhijrah dari negeri musyrik ke negeri Islam sebagaimana hijrahnya Nabi sholallohu ‘alaihi wa sallam, bahkan sebaliknya, banyak di antara mereka yang berpindah dari negeri Islam ke negeri musyrik bukan karena alasan apapun selain hanya untuk mencari kemewahan dan hidup di sana dengan kebebasan hewani –wal iyadzu billah-.

3. Mengkhususkan Hari Pertama di Awal Tahun dengan Berpuasa dengan Niat Membuka Tahun Baru Tersebut dengan Puasa.

Begitu pula mengkhususkan berpuasa selama sehari di hari terakhir tahun tersebut dengan niat sebagai ucapan selamat tinggal untuk tahun tersebut dengan berdalil menggunakan hadits palsu: “Barangsiapa yang berpuasa di hari terakhir bulan Dzulhijjah dan hari pertama di bulan Muharrom, dia telah menutup tahun yang lalu dengan puasa dan membuka tahun yang akan datang dengan puasa, maka Alloh akan menjadikannya sebagai penebus dosa baginya selama lima puluh tahun.”

4. Menghidupkan Malam Pertama di Bulan Muharrom untuk Melakukan Ibadah.

Syaikh Abu Syamah mengatakan, ”Tidak ada satu pun dalil yang menuntunkan suatu amalan tertentu di malam pertama bulan Muharrom. Aku telah mencari di berbagai riwayat baik yang shohih maupun yang dho’if dan dalam hadits-hadits maudhu’, tetapi tidak aku jumpai satu pun yang menyebutkan tentang hal tersebut.” (Al Ba’its ‘ala Inkaril Bida’ wal Hawadits hal.239)

5. Mengkhususkan Awal Tahun Hijriyah untuk Melakukan Umroh Sebagaimana yang Dilakukan Sebagian Orang di Bulan Muharrom.

6. Membuat Doa Khusus di Hari Pertama Tahun Baru yang Dinamakan dengan Doa Awal Tahun.

Semua hal tadi merupakan amalan yang tidak ada satu dalil shohih pun yang menuntunkan untuk melakukannya. Hendaknya kita merasa cukup dengan ajaran Nabi sholallohu ‘alaihi wa sallam karena sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk beliau, dan sejelek-jelek perkara dalam agama adalah amalan ibadah baru yang diada-adakan.

(Disarikan dari kitab “Lathoiful Ma’arif”  karya Ibnu Rojab Al Hambali dan “Bida’ wa Akhtho’ Tata’allaqu bil Ayyaam Wa syuhur” karya Ahmad bin Abdulloh As Sulami oleh Rizki Amipon Dasa)

—————————————–

ditulis oleh: Rizki Amipon Dasa

Sumber: Buletin Jumat At-Tauhid.


Responses

  1. astagfirulloh…..klu bgtu bnyak yang melakukan bid’ah donk di masyarakat sni….
    jazakumullohu kastiroo….

  2. apakah meningktkan amal ibadah di awal tahun adalah perbuatan yang salah, dan saling mengucapkan selamat dengan tujuan silaturahmi itu juga salah? berzikir dan berdoa untuk muasabah salah juga?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: