Oleh: zuhudhi | 4 Agustus 2010

Bagaimana Seorang Muslim Menyambut Bulan Romadhon?

—————————-

Bulan Romadhon yang penuh kemuliaan dan keberkahan, padanya dilipatgandakan amal-amal kebaikan, disyariatkan amal-amal ibadah yang agung, di buka pintu-pintu surga dan di tutup pintu-pintu neraka[1].

Oleh karena itu, bulan ini merupakan kesempatan berharga yang ditunggu-tunggu oleh orang-orang yang beriman kepada Alloh Ta’ala dan ingin meraih ridho-Nya.

Dan karena agungnya keutamaan bulan suci ini, Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam selalu menyampaikan kabar gembira kepada para sahabat rodhiyallohu ‘anhum akan kedatangan bulan yang penuh berkah ini[2].

Sahabat yang mulia, Abu Huroiroh rodhiyallohu ‘anhu berkata, Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, menyampaikan kabar gembira kepada para sahabatnya, “Telah datang bulan Romadhon yang penuh keberkahan, Alloh mewajibkan kalian berpuasa padanya, pintu-pintu surga di buka pada bulan itu, pintu-pintu neraka di tutup, dan para setan dibelenggu. Pada bulan itu terdapat malam (kemuliaan/lailatul qodr) yang lebih baik dari seribu bulan, barangsiapa yang terhalangi (untuk mendapatkan) kebaikan malam itu maka sungguh dia telah dihalangi (dari keutamaan yang agung)”[3].

Imam Ibnu Rojab, ketika mengomentari hadits ini, beliau berkata, “Bagaimana mungkin orang yang beriman tidak gembira dengan dibukanya pintu-pintu surga? Bagaimana mungkin orang yang pernah berbuat dosa (dan ingin bertobat serta kembali kepada Alloh Ta’ala) tidak gembira dengan ditutupnya pintu-pintu neraka? Dan bagaimana mungkin orang yang berakal tidak gembira ketika para setan dibelenggu?”[4].

Dulunya, para ulama salaf jauh-jauh hari sebelum datangnya bulan Romadhon berdoa dengan sungguh-sungguh kepada Alloh Ta’ala agar mereka mencapai bulan yang mulia ini, karena mencapai bulan ini merupakan nikmat yang besar bagi orang-orang yang dianugerahi taufik oleh Alloh Ta’ala. Mu’alla bin al-Fadhl berkata, “Dulunya (para salaf) berdoa kepada Alloh Ta’ala (selama) enam bulan agar Alloh mempertemukan mereka dengan bulan Romadhon, kemudian mereka berdoa kepada-Nya (selama) enam bulan (berikutnya) agar Dia menerima (amal-amal shaleh) yang mereka (kerjakan)”[5].

Maka hendaknya seorang muslim mengambil teladan dari para ulama salaf dalam menyambut datangnya bulan Romadhon, dengan bersungguh-sungguh berdoa dan mempersiapkan diri untuk mendulang pahala kebaikan, pengampunan serta keridhoan dari Alloh Ta’ala, agar di akhirat kelak mereka akan merasakan kebahagiaan dan kegembiraan besar ketika bertemu Alloh Ta’ala dan mendapatkan ganjaran yang sempurna dari amal kebaikan mereka. Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Orang yang berpuasa akan merasakan dua kegembiraan (besar): kegembiraan ketika berbuka puasa dan kegembiraan ketika dia bertemu Alloh”[6].

Tentu saja persiapan diri yang dimaksud di sini bukanlah dengan memborong berbagai macam makanan dan minuman lezat di pasar untuk persiapan makan sahur dan balas dendam ketika berbuka puasa. Juga bukan dengan mengikuti berbagai program acara Televisi yang lebih banyak merusak dan melalaikan manusia dari mengingat Alloh Ta’ala dari pada manfaat yang diharapkan, itupun kalau ada manfaatnya.

Tapi persiapan yang dimaksud di sini adalah mempersiapkan diri lahir dan batin untuk melaksanakan ibadah puasa dan ibadah-ibadah agung lainnya di bulan Romadhon dengan sebaik-sebaiknya, yaitu dengan hati yang ikhlas dan praktek ibadah yang sesuai dengan petunjuk dan sunnah Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam. Karena balasan kebaikan/keutamaan dari semua amal shaleh yang dikerjakan manusia, sempurna atau tidaknya, tergantung dari sempurna atau kurangnya keikhlasannya dan jauh atau dekatnya praktek amal tersebut dari petunjuk Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam[7].

Hal ini diisyaratkan dalam sabda Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam, “Sungguh seorang hamba benar-benar melaksanakan shalat, tapi tidak dituliskan baginya dari (pahala kebaikan) shalat tersebut kecuali sepersepuluhnya, sepersembilannya, seperdelapannya, sepertujuhnya, seperenamnya, seperlimanya, seperempatnya, sepertiganya, atau seperduanya”[8].

Juga dalam hadits lain tentang puasa, Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Terkadang orang yang berpuasa tidak mendapatkan bagian dari puasanya kecuali lapar dan dahaga saja”[9].

—————————-

Disadur dari Tulisan: ”Berbenah Diri Menyambut Bulan Romadhon

Penulis: Ustadz Abdulloh bin Taslim al-Buthoni, MA

Artikel www.muslim.or.id

—————————-

[1] Sebagaimana yang disebutkan dalam HSR al-Bukhori (no. 3103) dan Muslim (no. 1079).

[2] Lihat keterangan imam Ibnu Rojab al-Hambali dalam kitab “Latho-iful ma’aarif” (hal. 174).

[3] HR Ahmad (2/385), an-Nasa’i (no. 2106) dan lain-lain, dinyatakan shahih oleh syaikh al-Albani dalam kitab “Tamaamul minnah” (hal. 395), karena dikuatkan dengan riwayat-riwayat lain.

[4] Kitab “Latha-iful ma’aarif” (hal. 174).

[5] Dinukil oleh imam Ibnu Rojab al-Hambali dalam kitab “Latho-iful ma’aarif” (hal. 174).

[6] HSR al-Bukhori (no. 7054) dan Muslim (no. 1151).

[7] Lihat kitab “Shifatu sholaatin Nabi r” (hal. 36) tulisan syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani.

[8] HR Ahmad (4/321), Abu Dawud (no. 796) dan Ibnu Hibban (no. 1889), dinyatakan shohih oleh Ibnu Hibban, al-‘Iroqi dan syaikh al-Albani dalam kitab “Sholaatut taroowiih (hal. 119).

[9] HR Ibnu Majah (no. 1690), Ahmad (2/373), Ibnu Khuzaimah (no. 1997) dan al-Hakim (no. 1571) dinyatakan shohih oleh Ibnu Khuzaimah, al-Hakim dan syaikh al-Albani.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: