Oleh: zuhudhi | 29 Maret 2010

MAHRAM (atau Muhrim???), Apakah itu?

———————————

Beberapa waktu yang lalu di berita salah satu televisi swasta nasional menayangkan kontak pemirsa. Di sana ada penelefon yang menyebutkan tentang ke-geli-annya terhadap tingkah pejabat-pejabat saat ini, di mana mereka memberi ucapan selamat kepada koleganya dengan cium pipi, tidak sebatas hanya jabat tangan. Baik kiranya jika hal ini dilakukan antar sesama muslim (laki-laki). Namun pada kenyataanya justru adat cium pipi ini dilakukan antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram (baca: mahrom, di dalam bahasa aslinya – bahasa Arab – tidak dikenal huruf ra, yang ada ro, seperti ro pada kata rombongan – zuh).

Subhanalloh… Islam merupakan ajaran yang sempurna, tidak ada yang luput dari perhatiannya mulai dari hal kecil sampai yang besar. Bahkan adab di dalam kamar mandipun islam telah mengaturnya. Demikian halnya dengan interaksi antara laki-laki dan perempuan.

Bukankah lebih baik ditusuk dengan besi panas daripada menyentuh wanita bukan mahram“. Dari sini jelas bahwa perbuatan bersalaman atau cium pipi dengan lawan jenis (bukan mahram) sama sekali tidak dibenarkan dalam ajaran Islam, bahkan termasuk dalam kesesatan yang nyata.

Kita tidak akan membahas kelakuan para pejabat di atas yang jelas-jelas munkar, tetapi lebih kepada istilah mahram (yang banyak orang mengenal dengan istilah muhrim). Selanjutnya apa mahram itu sebenarnya? Dan siapa saja yang menjadi mahram kita?

Mahram adalah orang perempuan atau laki-laki yang masih termasuk sanak saudara dekat karena keturunan, sesusuan, atau hubungan perkawinan sehingga tidak boleh menikah di antara keduanya.

Penggunaan kata muhrim untuk mahram perlu dicermati. Muhrim dalam bahasa Arab berarti orang yang sedang mengerjakan ihram (haji atau umrah). Tetapi bahasa Indonesia menggunakan kata muhrim dengan arti semakna dengan mahram (haram dinikahi).

Mahram sebab Keturunan

Mahram sebab keturunan ada tujuh. Tidak ada perbedaan pendapat di antara para ‘Ulama. Alloh berfirman:

“Diharamkan atas kamu (mengawini) (1) ibu-ibumu; (2) anak-anakmu yang perempuan (3) saudara-saudaramu yang perempuan; (4) saudara-saudara ayahmu yang perempuan; (5)saudara-saudara ibumu yang perempuan; (6)anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki; (7) anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan” (QS An Nisa: 23)

Dari ayat ini Jumhùrul ‘Ulàmà’, Imam ‘Abù Hanifah, Imam Màlik dan Imam Ahmad bin Hanbal memasukan anak dari perzinahan menjadi mahram, dengan berdalil pada keumuman firman Alloh

“anak-anakmu yang perempuan” (QS An Nisà 23).

Diriwayatkan dari Imam Asy Syàfi’iy, bahwa ia cenderung tidak menjadikan mahram (berati boleh dinikahi) anak hasil zina, sebab ia bukan anak yang sah (dari bapak pelaku) secara syari’at. Ia juga tidak termasuk dalam ayat:

“Alloh mensyari’atkan bagimu tentang (pembagian warisan untuk) anak-anakmu. Yaitu: bagian anak lelaki sama dengan dua bagian orang anak perempuan” (QS An Nisà’:11).

Karena anak hasil zina tidak berhak menda-patkan warisan menurut ‘ijma’ maka ia juga tidak termasuk dalam ayat ini. (Al Hàfizh ‘Imàduddin Ismà’il bin Katsir, Tafsirul Qurànil Azhim 1/510)

Mahram sebab Susuan

Mahram sebab susuan ada tujuh. Sama seperti mahram sebab keturunan, tanpa pengecualian. Inilah pendapat yang dipilih setelah ditahqiq (ditelliti) oleh Al Hàfizh ‘Imàduddin Ismà’il bin Katsir. (Tafsirul Qurànil Azhim 1/511). Nabi Shallallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Darah susuan mengharamkan seperti apa yang diharamkan oleh darah keturunan”
(HR. Al Bukhori dan Muslim).

Al-Qur’àn menyebutkan secara khusus dua bagian mahram sebab susuan:

“(1) Dan ibu-ibumu yang menyusui kamu; (2) dan saudara-saudara perempuan sepersusuan” (QS An Nisà’ 23).

Mahram sebab Perkawinan

Mahram sebab perkawinan ada tujuh.

  1. “Dan ibu-ibu istrimu (mertua)” (QS An Nisà’: 23)
  2. “Dan istri-istri anak kandungmu (menantu)” (QS An Nisà’: 23)
  3. “Dan anak-anak istrimu yang dalam pemelihraanmu dari istri yang telah kamu campuri” (QS An Nisà’ : 23).

Menurut Jumh urul `Ulàmà’ termasuk juga anak tiri yang tidak dalam pemeliharaannya. Anak tiri menjadi mahram jika ibunya telah dicampuri, tetapi jika belum dicampuri maka dibolehkan untuk menikahi anaknya. Sedangkan ibu dari seorang perempuan yang dinikahi menjadi mahram hanya sebab aqad nikah, walaupun si puteri belum dicampuri, kalau sudah aqad nikah maka si ibu haram dinikahi oleh yang menikahi puteri itu.

4. “Dan janganlah kamu kawini wanita-wanita yang telah dikawini oleh ayahmu (ibu tiri)”. (QS An Nisà’ :22).

    Wanita yang dinikahi oleh ayah menjadi mahram bagi anak ayah dengan hanya aqad nikah, walaupun belum dicampuri oleh ayah, maka anak ayah tak boleh menikahinya.

    5. “…Dan menghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara….” (QS An Nisà’ :23)

      Rosululloh Shallallohu ‘alaihi wa sallam melarang menghimpunkan dalam perkawinan antara perempuan dengan bibinya dari pihak ibu; Dan menghimpunkan antara perempuan dengan bibinya dari pihak ayah. Nabi bersabda:

      6. “Tidak boleh perempuan dihimpun dalam perkawinan antara saudara perempuan dari ayah atau ibunya” (HR. Al Bukhoriy dan Muslim)

        Jadi, keponakan (perempuan) tidak boleh dihimpun dengan bibinya dalam perkawinan, demikian pula bibi tidak boleh dihimpun dengan keponakan perempuan dalam perkawinan. Secara mudah, bibi dan keponakan perempuan tidak boleh saling jadi madu.

        7. Larangan menghimpun antara perempuan dengan bibinya dari pihak ayah atau ibu berdasarkan hadits-hadits mutawàtirah dan ‘ijmà`ul `ulàmà’. (Muhammad bin Muhammad Asy Syaukàniy, Fathul Qodir 1/559).

          Mahram disebabkan keturunan dan susuan bersifat abadi, selamanya, begitu pula sebab pernikahan. Kecuali, menghimpun dua perempuan bersaudara, menghimpun perempuan dengan bibinya, yaitu saudara perempuan dari pihak ayah atau ibu, itu bila yang satu meninggal lalu ganti nikah dengan yang lain, maka boleh, karena bukan menghimpun dalam keadaan sama-sama masih hidup. Dzun Nùrain, Utsmàn bin ‘Affàn menikahi Ummu Kultsùm setelah Ruqayyah wafat, kedua-duanya adalah anak Nabi Shallallohu ‘alaihi wa sallam.

          Zina dengan seorang perempuan -semoga Alloh menjauhkan kita semua dari itu- tidak menjadikan mahram anaknya ataupun ibunya. Zina tidak mengharamkan yang halal.

          Wanita yang bersuami

          Alloh mengharamkan mengawini wanita yang masih bersuami.

          “Dan (diharamkan juga kamu mengawini) wanita yang bersuami….” (QS An Nisà’ :24).

          Perempuan-perempuan yang selain di atas adalah bukan mahram, halal dinikahkan.

          “…Dan dihalalkan bagi kamu selain yang demikian (yaitu) mencari istri-istri dengan hartamu untuk dikawini bukan untuk berzina….” (QS An Nisà’ :24).

          ———————————

          Sumber: Situs Al-Madina (al-madina.s5.com)

          Edisi 18 : 24Agt – 07 Sept 2001


          Responses

          1. assalamu’alaikum.
            subhanallah, nice post🙂
            tapi saya masih bingung kalau mahram itu untuk orang yang masih satu nasib, dll / tidak boleh d nikahi.
            lalu kalau untuk teman yg berjenis kelamin pria tapi boleh d nikahi, d sebut apa ?
            syukron.

          2. terima kasih pengajiannya🙂

          3. ijin co-pas ya…

            >>> Silakan…


          Tinggalkan Balasan

          Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

          Logo WordPress.com

          You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

          Gambar Twitter

          You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

          Foto Facebook

          You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

          Foto Google+

          You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

          Connecting to %s

          Kategori

          %d blogger menyukai ini: