Oleh: zuhudhi | 14 Mei 2009

Cuma Ada pada Seorang Mukmin

—————————————-

Karakter mengagumkan yang tidak ditemukan pada pribadi yang bukan mukmin

Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh mengagumkan urusan seorang mukmin. Sesungguhnya semua urusannya adalah baik. Dan hal itu tidak akan diperoleh kecuali oleh seorang mukmin. Apabila dia mendapatkan kesenangan, maka dia bersyukur. Maka hal itu merupakan kebaikan baginya. Dan apabila dia tertimpa kesusahan maka dia bersabar. Maka itu juga merupakan kebaikan baginya.” (HR. Muslim)

Dua pilar keimanan

Ibnul Qoyyim rohimahulloh di dalam Madarij as-Salikin menjelaskan bahwa iman itu terdiri dari dua bagian, satu bagian sabar dan satu bagian yang lain adalah syukur. Terdapat riwayat serupa dari Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam namun riwayat itu dilemahkan oleh Syaikh al-Albani (lihat ad-Dho’ifah [625]). Ibnul Qoyyim juga menggambarkan bahwa sabar bagi iman laksana kepala bagi tubuh seorang insan. Ungkapan serupa juga diriwayatkan dari Ali bin Abi Tholib rodhiyallohu’anhu. Sehingga, tidak ada iman pada diri orang yang tidak memiliki kesabaran, sebagaimana halnya tidak berfungsi tubuh apabila tidak ada kepalanya (lihat Hasyiyah Kitab at-Tauhid).

Demikian pula syukur, ia merupakan bukti keseriusan seorang hamba dalam mengabdi dan tunduk kepada Robbnya. Alloh ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan bersyukurlah kepada Alloh jika kalian benar-benar beribadah hanya kepada-Nya.” (QS. al-Baqarah : 172). Alloh menciptakan pendengaran, penglihatan, dan hati adalah untuk bersyukur kepada-Nya. Alloh ta’ala berfirman (yang artinya), “Alloh mengeluarkan kalian dari perut ibu-ibu kalian dalam keadaan kalian tidak mengetahui apa-apa, dan Alloh menciptakan untuk kalian pendengaran, penglihatan, dan hati mudah-mudahan kalian bersyukur (kepada-Nya).” (QS. an-Nahl : 78).

Syukur ketika mendapat nikmat

Syukur adalah ibadah yang sangat agung. Alloh ta’ala berfirman (yang artinya), “Ingatlah kalian kepada-Ku niscaya Aku pun akan mengingat kalian, dan bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kalian kufur.” (QS. al-Baqoroh: 152). Barangsiapa yang bersyukur kepada Alloh maka Alloh akan tambahkan nikmat kepada-Nya. Sebaliknya, barangsiapa yang justru kufur maka sesungguhnya siksaan Alloh sangatlah keras. Alloh berfirman (yang artinya), “Dan ingatlah ketika Robb kalian mengumumkan kepada kalian; Jika kalian bersyukur maka akan Aku tambahkan nikmat-Ku atas kalian dan jika kalian kufur, sesungguhnya siksa-Ku sangatlah keras.” (QS. Ibrohim : 7).

Hakikat dari syukur itu adalah mengakui di dalam hati bahwa nikmat yang ada ini adalah dari Alloh, memuji Alloh dengan lisannya, dan menggunakan nikmat-nikmat itu untuk taat kepada-Nya. Di dalam Madarij as-Salikin, Ibnul Qoyyim rohimahulloh memaparkan bahwa syukur itu akan tegak jika ditopang oleh lima pilar : [1] tunduk dan merendah kepada Dzat yang disyukuri -yaitu Alloh-, [2] cinta kepada-Nya, [3] mengakui bahwa nikmat itu adalah pemberian-Nya, [4] memuji-Nya -dengan lisan- atas limpahan nikmat tersebut, dan [5] tidak memanfaatkannya dalam perkara yang dibenci-Nya. Inilah lima pilar syukur, apabila salah satunya hilang maka cacatlah syukur yang ada pada diri seorang hamba.

Jangan salah sangka!

Namun perlu disadari bahwa nikmat itu ada yang dimiliki oleh semua orang -bahkan orang kafir sekali pun- dan ada juga yang hanya dimiliki oleh orang mukmin. Nikmat keduniaan seperti makanan, minuman, tempat tinggal, kesehatan, dan harta merupakan nikmat yang didapatkan oleh mukmin maupun kafir. Alloh ta’ala berfirman (yang artinya), “Pada hari itu -kiamat- tidaklah bermanfaat harta dan keturunan melainkan bagi orang yang menghadap Alloh dengan hati yang selamat.” (QS. as-Syu’aro’ : 88-89). Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda, “Seandainya anak keturunan Adam memiliki dua lembah harta niscaya dia masih akan mencari yang ketiga. Dan tidak akan pernah menyumbat rongga anak Adam selain tanah, dan Alloh menerima taubat bagi siapa pun yang mau bertaubat.” (HR. Bukhori).

Oleh sebab itu nikmat semacam ini bukan ukuran kemuliaan dan kebahagiaan yang sejati. Alloh ta’ala berfirman (yang artinya), “Adapun manusia, apabila Robbnya menimpakan ujian kepadanya dengan memuliakan dan mencurahkan nikmat kepadanya maka dia mengatakan, ‘Robbku telah memuliakanku’. Dan apabila Dia mengujinya dengan membatasi rezkinya niscaya dia akan mengatakan, ‘Robbku telah menghinakanku’. Sekali-kali bukan demikian…” (QS. al-Fajr : 15-17).

Ibnul Qoyyim rohimahulloh mengatakan, “Maknanya adalah: Tidaklah setiap orang yang Aku (Alloh) berikan kemuliaan di dunia dan Kuberikan kenikmatan dunia kepadanya maka itu berarti Aku benar-benar mengaruniakan nikmat yang hakiki kepadanya. Karena sesungguhnya hal itu merupakan cobaan dari-Ku kepadanya sekaligus sebagai ujian untuknya. Dan tidak pula setiap orang yang Aku batasi rezkinya sehingga Aku jadikan rezkinya sebatas apa yang diperlukannya saja tanpa ada kelebihan maka itu artinya Aku sedang menghinakan dirinya. Namun, sesungguhnya Aku sedang menguji hamba-Ku dengan nikmat-nikmat sebagaimana halnya Aku ingin menguji dirinya dengan berbagai bentuk musibah.” (Ijtima’ al-Juyusy al-Islamiyah)

Sedangkan nikmat yang berupa kepahaman tentang agama, anak yang berbakti, dan istri yang sholihah merupakan bagian dari kebahagiaan hidup yang sesungguhnya. Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang dikehendaki baik oleh Alloh maka akan dipahamkan dalam hal agama.” (HR. Bukhori dan Muslim). Sebagaimana pula yang Alloh ceritakan mengenai Ibadur Rahman yang berdoa kepada Alloh dalam firman-Nya (yang artinya), “Wahai Robb kami, anugerahkanlah kepada kami, istri-istri kami dan anak keturunan kami sebagai penyejuk hati kami, dan jadikanlah sebagai pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. al-Furqon : 74). Namun, tentu saja hal itu tidak boleh menyeret orang berbangga-bangga dan sombong dengan ilmu dan amalnya. Oleh sebab itu Alloh berfirman mengenai orang-orang yang benar-benar berilmu (yang artinya), “Sesungguhnya yang takut kepada Alloh di antara hamba-hamba-Nya adalah orang-orang yang berilmu.” (QS. Fathir : 29 28). Ibnu Abi Mulaikah mengatakan, “Aku bertemu dengan tiga puluh orang sahabat Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam, mereka semua merasa takut dirinya tertimpa kemunafikan.” (HR. Bukhori secara mu’allaq).

Berdoalah untuk bisa bersyukur kepada-Nya

Mu’adz bin Jabal –radhiyallohu’anhu– menceritakan bahwa suatu ketika Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam memegang tangannya seraya mengucapkan, “Hai Mu’adz, demi Alloh sesungguhnya aku benar-benar mencintaimu. Demi Alloh, aku benar-benar mencintaimu.” Lalu beliau bersabda, “Aku wasiatkan kepadamu hai Mu’adz, jangan kamu tinggalkan bacaan setiap kali di akhir sholat hendaknya kamu berdoa, ‘Allohumma a’inni ‘ala dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibadatik’ (Ya Alloh, bantulah aku untuk mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah dengan baik kepada-Mu).” (HR. Abu Dawud, disahihkan al-Albani dalam Shohih wa Dho’if Sunan Abi Dawud [1522])

Sabar ketika tertimpa musibah

Musibah berupa penyakit, kecelakaan, kemiskinan, adalah perkara biasa yang dihadapi oleh manusia. Tidak ada bedanya antara orang yang beriman dengan orang yang kafir, mereka semua bisa mendapatkannya. Hanya saja, seorang yang benar-benar beriman kepada Alloh dan takdir-Nya maka dia akan menjadikan musibah itu sebagai ladang pahala baginya. Alloh ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan sungguh Kami benar-benar akan menguji kalian dengan sedikit rasa takut, kelaparan, dan kekurangan harta, hilangnya jiwa, dan sedikitnya buah-buahan. Maka berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar. Yaitu orang-orang yang apabila tertimpa musibah mereka mengatakan; Sesungguhnya kami ini milik Alloh dan kami akan kembali kepada-Nya. Mereka itulah orang yang mendapatkan ucapan salawat/pujian dari Robb mereka dan curahan rahmat, dan mereka itulah orang-orang yang mendapatkan petunjuk.” (QS. al-Baqoroh : 155-157).

Sabar adalah anugerah

Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah seseorang mendapatkan pemberian yang lebih baik dan lebih lapang daripada kesabaran.” (HR. Bukhori dan Muslim). Hakikat dari sabar itu adalah menahan diri dari marah kepada Alloh, menahan lisan agar tidak mengeluh dan murka kepada takdir, serta menahan anggota badan agar tidak melakukan perkara-perkara yang dilarang seperti menampar-nampar pipi, merobek-robek pakaian, dsb (Hasyiyah Kitab at-Tauhid).

Sesungguhnya dengan adanya musibah, maka seorang hamba akan mendapatkan pengampunan dari Alloh ta’ala. Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah ada suatu musibah yang menimpa seorang muslim melainkan Alloh akan menghapuskan dosa dengannya sampai pun duri yang menusuk badannya.” (HR. Bukhori dan Muslim). Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila Alloh menghendaki kebaikan pada diri seorang hamba maka Alloh akan menyegerakan hukuman baginya di dunia. Dan apabila Alloh menghendaki keburukan bagi hamba-Nya maka Alloh akan menunda hukuman atas dosanya itu sampai pada hari kiamat nanti hukuman itu baru akan ditunaikan.” (HR. Tirmidzi, disahihkan al-Albani dalam Shohih al-Jami’ [308]).

Meskipun demikian, seseorang tidak boleh berdoa kepada Alloh agar hukumannya disegerakan di dunia. Dikisahkan bahwa dahulu Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam pernah mengunjungi seorang yang sakit di antara para sahabatnya yang kondisinya sangat lemah. Maka Nabi bertanya kepadanya, “Apakah engkau meminta atau berdoa sesuatu kepada Alloh sebelum ini?”. Maka lelaki itu menjawab, “Ya, dahulu saya pernah berdoa; Ya Alloh, hukuman yang akan Kamu berikan kepadaku di akhirat maka segerakanlah bagiku di dunia.” Maka Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam pun mengatakan, “Subhanalloh! Kamu pasti tidak akan sanggup menanggungnya, tidakkah sebaiknya kamu berdoa; Allohumma aatinaa fid dunya hasanah wa fil aakhiroti hasanah wa qinaa ‘adzaaban naar (Ya Alloh, berikanlah kebaikan kepada kami di dunia dan kebaikan di akhirat, dan jagalah kami dari neraka).” Maka lelaki itu pun berdoa dengannya dan disembuhkan oleh Alloh. (HR. Muslim).

Pahala yang besar bersama dengan sabar

Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya pahala yang besar itu bersama dengan cobaan yang besar pula. Dan apabila Alloh mencintai suatu kaum maka Alloh akan menimpakan musibah kepada mereka. Barangsiapa yang ridha maka Alloh akan ridha kepadanya. Dan barangsiapa yang murka maka murka pula yang akan didapatkannya.” (HR. Tirmidzi, dihasankan al-Albani dalam as-Shohihah [146]). Suatu ketika Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam ditanya, “Siapakah orang yang paling berat cobaannya?”. Maka beliau menjawab, “Para Nabi, kemudian orang yang seperti mereka sesudahnya, dan orang semacam mereka berikutnya. Seseorang itu akan diuji sesuai dengan kadar agamanya. Apabila orang itu kuat agamanya maka semakin keras cobaannya. Kalau agamanya lemah maka dia akan dicobaa sesuai dengan kadar agamanya. Maka musibah dan cobaan itu senantiasa menimpa seorang hamba hingga dia ditinggalkan berjalan di atas muka bumi dalam keadaan bersih dari dosa.” (HR. Tirmidzi, beliau berkata; hasan shohih)

Sabar pun membutuhkan pertolongan Alloh

Alloh ta’ala berfirman (yang artinya), “Bersabarlah, dan tidaklah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan dari Alloh.” (QS. an-Nahl : 127). Yang demikian itu dikarenakan sabar itu meliputi tiga cakupan : [1] sabar dalam menjalankan ketaatan, [2] sabar dalam menjauhi kemaksiatan, dan [3] sabar dalam menghadapi takdir yang terasa menyakitkan. Oleh sebab itu, seorang hamba sangat membutuhkan pertolongan dari Alloh dalam setiap gerak dan langkahnya. Maka tidak mengherankan jika dalam setiap roka’at sholat Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kepada kita untuk senantiasa membaca ayat ‘Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in, ihdinas shirothol mustaqim…’. Karena memang tidak ada bagi kita tempat bergantung dan tambatan hati dalam beribadah dan memohon pertolongan kecuali kepada-Nya. Dan salah satu perkara paling agung untuk dimintakan pertolongan kepada Alloh adalah konsisten di atas jalan yang lurus, alias sabar di atas kebenaran. Karena jalan yang lurus itu memadukan antara ilmu dan amalan, niat yang ikhlas dan cara yang benar, sementara keduanya tidak akan diperoleh kecuali dengan kesabaran.

Untuk konsisten dalam melakukan ketaatan seorang hamba membutuhkan kesabaran. Sebagaimana Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam yang bersabar dalam mendakwahkan tauhid selama bertahun-tahun dengan harus merasakan beratnya tekanan dan permusuhan dari kaumnya, sungguh perjuangan tak kenal lelah yang membutuhkan kesabaran ekstra. Demikian juga dalam mengendalikan hawa nafsu dan menepis godaan syaitan seorang hamba juga sangat memerlukan perisai kesabaran. Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Neraka itu diliputi dengan perkara-perkara yang menyenangkan sedangkan surga itu diliputi dengan perkara-perkara yang tidak menyenangkan.” (HR. Bukhori dan Muslim). Sebagaimana kesabaran Nabi Yusuf ‘alaihis salam yang akhirnya bisa menyelamatkan beliau dari perbuatan keji. Begitu pula dalam menyikapi musibah yang dialami, sabar harus tetap ada di dalam dada dan perbuatan. Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila ada anak salah seorang hamba itu meninggal maka Alloh bertanya kepada malaikat-Nya, ‘Apakah kalian mencabut nyawa anak hamba-Ku?’. Maka mereka menjawab, ‘Ya.’ ‘Apakah kalian telah mencabut nyawa buah hati hamba-Ku?’. Maka mereka menjawab ‘Ya.’ Lalu Alloh bertanya, ‘Apa yang diucapkan oleh hamba-Ku?’. Mereka menjawab, ‘Dia memuji-Mu dan beristirja’ -membaca innaa lillaahi dst-..’ Maka Alloh berfirman, ‘Bangunkanlah untuk hamba-Ku itu sebuah rumah di surga, dan beri nama rumah itu dengan Bait al-Hamd.’.” (HR. Tirmidzi, dihasankan al-Albani dalam as-Shohihah [1408]).

Semoga Alloh melimpahkan kepada kita kesabaran ketika tertimpa musibah, sabar ketika menjauh dari dosa, dan sabar ketika menjalankan ketaatan kepada-Nya, sebagaimana kita memohon kepada Alloh yang ada di atas ‘Arsy sana agar mematikan kita sebagai mukmin yang pandai bersyukur kepada-Nya. Wa shollallohu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa sallam. Walhamdulillahi Robbil ‘alamin. [Ari Wahyudi]

—————————————-

Disadur dari situs Buletin At-Tauhid


Responses

  1. Sebelumnya saya minta izin untuk mengcopy artikel ini. Maaf, sepertinya ada yang keliru tentang ayat ini: “..Sesungguhnya yang takut kepada Alloh di antara hamba-hamba-Nya adalah orang-orang yang berilmu..” (QS. Fathir : 29).
    Setelah saya cek ternyata terdapat di ayat 28 bukan 29. Terima kasih..

    >>> Silakan mengcopy nya, dan jika disebarkan, tolong sertakan alamat situs saya ini. Terima kasih.

    Tentang ayatnya, setelah saya cek, Andalah yang benar. Yang benar memang ayat 28. Biasanya saya cek ulang bila saya menampilkan ayat/surat dalam Alquran. Tetapi kali ini rupanya terlewat. Komentar Anda bisa sekaligus ralat. Terima kasih atas koreksinya.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: