Oleh: zuhudhi | 22 November 2008

Rahasia Ke-syahidan Amrozi cs

Beberapa waktu yang lalu para tervonis hukuman mati yang dituduh melakukan peledakan di Pulau Bali, yaitu Amrozi (atau Amrozy) cs bertubi-tubi santer dibicarakan. Mulai dari media cetak, televisi maupun di situs-situs di internet memberitakannya seperti tidak kenal lelah, terutama ketika mendekati saat-saat eksekusi mati. Sepertinya semua perhatian masyarakat Indonesia saat itu terfokus pada berita tersebut. Mulai dari obrolan santai di pos-pos ronda, hingga dibicarakan di seminar-seminar, semua membahas mengenai hal ini. Yang dibahas pun beraneka rupa. Ada yang menghujat habis-habisan Amrozi cs, ada yang mendukung, dan ada juga yang no comment (ini berdasarkan pengalaman saya sehari-hari di lapangan). Namun sayang, kata-kata yang dilontarkan kebanyakan tidak diimbangi dengan data-data yang memadai, sehingga yang menghujat ya asal menghujat, dan yang mendukung pun juga hanya asal berbeda pendapat (bhs Jawa: geseh) saja dengan yang menghujat. Dan yang no comment hanya cari amannya saja, tidak mau menimbulkan polemik dengan rekan-rekannya (atau memang ngga’ ngeh??). Nah, sebenarnya apa sih yang sesungguhnya terjadi? Benarkah Amrozi cs ini pelaku peledakan bom di Pulau Bali? Benarkah pendapat yang menyatakan bahwa mereka mati sebagai syuhada (matinya mati syahid)? Berikut ini saya hadirkan artikel yang berhubungan dengan perbuatan Amrozi cs. Artikel ini saya kutip dari situs EraMuslim yang ditulis oleh Ustadz Ihsan Tandjung.

Menurut saya artikel inilah yang paling pas (sementara ini) yang dapat digunakan untuk menilai secara jernih perbuatan Amrozi cs dalam peristiwa Bom Bali, sebab artikel ini: komprehensif (pembahasan cukup lengkap dan menyeluruh), terdapat dalil dari Al-Quran dan As-Sunnah, dan tidak bersifat menghakimi siapa pun. Setelah membaca artikel ini saya berharap pembaca dapat menyikapi peristiwa Bom Bali dengan lebih arif dan bijaksana, sebelum memutuskan untuk mendukung, atau menghujat (atau tetap no comment??). Lebih jauh dari itu, artikel ini dapat membantu memahami mengapa ada pihak yang berpendapat bahwa Amrozi cs meninggal sebagai syuhada. Silakan beri penilaian seusai membaca.

————————————-

Begitu Amrozi, Imam Samudra dan Mukhlas menjalani eksekusi mati tengah malam jam 00.15 pada tanggal 9 November 2008 (cat: muncul angka 911 di sana, zuh) di Nusakambangan berbagai media Barat dan pro-Barat segera memberitakannya dengan suka-cita. Masyarakat Barat pada umumnya menganggap eksekusi mati ketiga muslim itu cukup memenuhi rasa keadilan, walaupun tidak mungkin menghidupkan kembali nyawa 202 korban jiwa efek ledakan Bom Bali.

Sebenarnya matinya tiga manusia di era penuh fitnah dewasa ini merupakan perkara biasa. Nyawa manusia kian tidak berharga. Inilah zaman dimana Nabi shollallohu ’alaih wa sallam telah sinyalir akan datang menjelang akhir zaman.

قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ بَيْنَ يَدَيْ السَّاعَةِ أَيَّامًا يُرْفَعُ فِيهَا الْعِلْمُ وَيَنْزِلُ فِيهَا الْجَهْلُ وَيَكْثُرُ فِيهَا الْهَرْجُ وَالْهَرْجُ الْقَتْلُ

”Sesungguhnya menjelang hari kiamat akan datang hari-hari dimana ilmu diangkat sedangkan kebodohan merebak dan maraklah al-haraj, al-haraj, yakni pembunuhan.” (HR Bukhory 6539)

Lalu mengapa kita harus peduli dengan eksekusi ketiga muslim terpidana mati ini? Bukankah mereka merupakan parasit di tengah masyarakat yang telah menebar teror bahkan membunuh ratusan jiwa tidak bersalah di Bali? Begitulah opini yang dibangun secara sistematis oleh berbagai media Barat dan pro-Barat.

Sebelum eksekusi dilangsungkan, penulis tidak pernah memberikan perhatian terlalu serius terhadap ihwal Amrozi cs. Namun sesudah eksekusi berlangsung, apalagi setelah menyimak dan mengikuti liputan pemberitaan soal prosesi pemakaman ketiganya, maka penulis segera menyadari bahwa banyak pelajaran berharga yang harus dicatat.

Beberapa media memuat pemberitaan pemakaman secara biasa-biasa saja. Namun seluruhnya memberitakan bahwa lautan manusia -sekurangnya ratusan bahkan ribuan- turut menyolatkan dan mengantar jenazah ketiganya hingga ke pemakaman. Yang menjadi menarik ialah ketika sebagian media mewawancarai para pelayat. Bukan satu atau dua orang yang menceritakan adanya hal luar biasa yang mereka saksikan ketika hadir di ”rumah suka” (Catatan: fihak keluarga Amrozi-Mukhlas melarang menyebut tempat dimana jenazah disemayamkan sebagai ”rumah duka”). Di antara keunikan tersebut ialah fakta terciumnya aroma wangi, bahkan sebelum tibanya jenazah. Ketika jenazah tiba, aroma wangi tersebut menjadi lebih semerbak tercium oleh para pelayat termasuk para wartawan berbagai media yang hadir.

Di samping itu orang yang menyaksikan jenazah Imam Samudera ketika dimasukkan ke liang lahat melihat bahwa darah segar terus menetes dari balik kain kafan almarhum. Subhanalloh..! Wajah ketiga jenazah disaksikan sebagai mirip orang yang sedang tidur dan jelas terlihat tersenyum seperti layaknya orang yang sedang tidur lelap tenggelam dalam mimpi indah. Belum lagi kesaksian para pelayat adanya tiga ekor burung beterbangan dengan indahnya di atas rumah dimana jenazah abang-beradik Amrozi-Mukhlas sedang disholatkan. Sebagian media mengabadikan gambar burung-burung tersebut saking menarik perhatiannya.

Apa yang bisa kita coba simpulkan dari fakta-fakta unik tersebut? Saudaraku, sesungguhnya semua hal ini mengindikasikan bahwa boleh jadi ketiga terpidana mati yang dikategorikan oleh kebanyakan manusia di muka bumi dewasa ini sebagai para teroris yang jahat, ternyata tidak dinilai Alloh ta’aala sebagaimana penilaian manusia. Alloh ta’aala tampaknya ingin memberitahukan kepada kita bahwa arwah ketiga muslim ini bukan saja sudah diterima dengan baik di sisi Alloh ta’aala. Tetapi lebih jauh Alloh ta’aala ingin melemparkan sinyal kepada kita manusia -yang seringkali sangat terbatas daya jangkau dan daya nalarnya- bahwa ketiganya merupakan manusia beriman yang telah meraih puncak penghormataan dari Alloh ta’aala, yaitu disambut oleh para malaikat sebagai para syuhada.

Sungguh suatu ironi. Pada saat kebanyakan orang dengan mudahnya mencap mereka sebagai teroris dan pembunuh sadis berdarah dingin, malah Alloh ta’aala justru memberikan kepada mereka penghargaan berupa penyambutan sebagai kumpulan manusia terbaik.

Ketika menegakkan sholat, seorang muslim wajib membaca surah Al-Fatihah. Ini syarat sahnya sholat seseorang. Tidak ada sholat tanpa membaca surah Al-Fatihah. Sedangkan di dalam surah tersebut kita mengajukan satu permohonan penting, yaitu:

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ

“Tunjukilah kami jalan yang lurus. (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan ni`mat kepada mereka” (QS Al-Fatihah ayat 6-7)

Sementara di ayat lain lagi Alloh ta’aala jelaskan jalan orang-orang yang telah Alloh ta’aala anugerahkan ni’mat kepada mereka itu ialah orang-orang sebagai berikut:

وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيقًا

”Dan barangsiapa yang menta`ati Alloh dan Rosul (Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni`mat oleh Alloh, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.” (QS An-Nisa ayat 69)

Jadi, berdasarkan ayat-ayat di atas, jelaslah bahwa seorang muslim sangat ingin masuk ke dalam golongan orang yang taat kepada Alloh ta’aala dan RosulNya secara istiqomah hingga dirinya akan bersama golongan orang-orang mulia dari kalangan para Nabi, pencinta kebenaran, para syuhada dan para orang sholeh. Artinya, tatkala ada salah satu dari golongan manusia mulia ini yang meninggal dunia, maka setiap muslim yang benar imannya pasti berharap dirinya bisa bersama mereka. Mustahil bagi seorang muslim untuk mencela para Nabi, pencinta kebenaran, para syuhada dan para orang sholeh. Apalagi mencap mereka sebagai teroris…!!

Di zaman Nabi dahulu ada seorang musyrik yang mengucapkan dua kalimat syahadat pada suatu pagi. Lalu siangnya ia berpartisipasi dalam jihad fi sabilillah memerangi kaum kuffar. Lalu ia menemui ajalnya hingga syahid dalam medan jihad tersebut. Ia belum sempat melakukan amal-ibadah maupun amal-sholeh apapun semenjak ia masuk Islam selain daripada berjihad hingga memperoleh mati syahid. Nabi shollallohu ’alaih wa sallam kemudian bersabda: ”Itulah seorang yang modalnya sedikit namun untungnya banyak.” Artinya, seorang yang meraih mati syahid bukan berarti bahwa keseluruhan hidupnya sebelum syahid pasti layak dijadikan teladan. Kedudukan mati syahid adalah benar-benar karunia dari Alloh ta’aala.

Untuk ketiga terpidana mati ini kita tidak bisa memastikan apakah mereka meraih mati syahid atau tidak. Tetapi beberapa fakta saat jenazah disholatkan dan dimakamkan menyajikan indikasi kuat bahwa ketiganya –insyAlloh- mati sebagai para syuhada.

وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ مَا مِنْ كَلْمٍ يُكْلَمُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ إِلَّا جَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ كَهَيْئَتِهِ حِينَ كُلِمَ لَوْنُهُ لَوْنُ دَمٍ وَرِيحُهُ مِسْكٌ

”Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di dalam genggamanNya, setiap tubuh yang terluka di jalan Alloh, pada hari Kiamat kelak akan diperlihatkan sebagaimana keadaannya ketika ia terluka, warnanya merah darah dan aromanya harum semerbak minyak kesturi.” (HR Muslim 3484)

Ketika menjelaskan makna surah Ali Imran ayat 169 Abdullah bin Mas’ud berkata:

فَقَالَ أَرْوَاحُهُمْ فِي جَوْفِ طَيْرٍ خُضْرٍ لَهَا قَنَادِيلُ مُعَلَّقَةٌ بِالْعَرْشِ تَسْرَحُ مِنْ الْجَنَّةِ حَيْثُ شَاءَتْ ثُمَّ تَأْوِي إِلَى تِلْكَ الْقَنَادِيلِ

“Arwah mereka (para syuhada) ada di dalam perut burung berwarna hijau. Sedangkan ruh-ruh tersebut memiliki beberapa pelita yang tergantung di ’Arsy. Mereka bebas menikmati surga, kapan saja mereka kehendaki. Setelah itu mereka singgah di dekat pelita-pelita tersebut.” (HR Muslim 3500)

Pertanyaan selanjutnya ialah: Apa rahasianya sehingga Alloh ta’aala karuniakan Amrozi, Imam Samudera dan Mukhlas kemuliaan mati syahid?

Perlu diketahui bahwa kesalahan ada dua macam. Pertama, kesalahan dalam amal/perilaku. Dan kedua, kesalahan dalam sikap. Dalam bahasa Arab disebut dengan istilah:

الخطاء العملي و الخطاء الموقيفي

Kesalahan dalam amal/perilaku merupakan kesalahan yang disebabkan karena keterbatasan ilmu dan pengetahuan yang menyebabkan seseorang melakukan hal-hal yang dinilai tidak atau kurang bijaksana. Kesalahan jenis ini menimbulkan dampak negatif walaupun kategorinya tidaklah berat. Inilah jenis kesalahan yang bila di-istighfari oleh pelakunya dengan serius, maka insyaAlloh Alloh ta’aala akan mengampuninya.

Sedangkan kesalahan dalam sikap ialah bila seseorang bersalah karena menentang Alloh ta’aala, RosulNya dan Islam dengan penuh kesadaran. Termasuk kesalahan dalam sikap ialah memberikan loyalitas kepada fihak musuh Alloh dan sebaliknya membenci sesama orang-orang beriman yang istiqomah dan berjuang di jalan Alloh ta’aala.

Menurut hemat penulis, ketiga tersangka ini boleh jadi punya kesalahan dalam amal. Mereka menempuh jalan radikal dalam mengekspresikan semangat amar ma’ruf nahyi munkar (memerintahkan kebaikan mencegah kemungkaran). Mereka berpandangan bahwa untuk memberantas kemaksiatan yang berlaku di masyarakat hendaknya lokasi kemaksiatan dibom.

Tapi benarkah bom yang mereka ledakkan telah menyebabkan tewasnya 202 jiwa tersebut? Bukankah saat ”bom kecil” mereka meledak sesungguhnya tidak ada korban jiwa yang terenggut karenanya? Sementara ketika ”bom besar” yang entah diotaki oleh siapa itu meledak, maka bom kedua itulah yang menyebabkan tewasnya ratusan orang? Suatu bom yang dinilai oleh para pengamat ahli bom sebagai tidak mungkin diracik oleh TNI atau POLRI sekalipun, jangankan lagi oleh ketiga terpidana mati tersebut. Bom kedua yang berdaya-ledak dahsyat itu disinyalir mengandung C4, suatu bahan yang sangat terbatas ketersediaannya. Hanya lima negara besar yang memiliki bahan C4, di antaranya Amerika dan Israel.

Kesalahan dalam amal lainnya yang mereka telah lakukan ialah tidak cukup baik menjaga kerahasiaan rencana mereka meledakkan bom kecil. Keteledoran mereka telah menyebabkan fihak lain dengan mudah ”mendompleng” dengan membuat ledakkan susulan yang jauh lebih dahsyat dan mematikan. Selanjutnya ditimpakan kesalahannya kepada ketiga saudara muslim ini. Lalu dengan konspirasi media-massa baik lokal maupun internasional Amrozi cs diasosiasikan sebagai penyebab matinya ratusan jiwa. Sementara otak sebenarnya di belakang ledakkan kedua yang dikategorikan sebagai micro-nuke (nuklir berskala mikro) tidak pernah terlacak bahkan tidak pernah dianggap ada samasekali…!!

Sedangkan kesalahan dalam sikap tidak pernah terindikasikan dari mereka bertiga ini. Sejak awal mereka diekspos oleh media mereka senantiasa menyatakan secara lantang al-wala (loyalitas) mereka hanya kepada Alloh ta’aala, RosulNya dan Al-Jihad fi sabilillah. Bahkan mereka dengan gagah berani menyatakan al-bara (berlepas diri) dari fihak musuh-musuh Islam, yakni kekuatan global dunia yang diwakili oleh kaum Zionis-yahudi dan Salibis-nasrani dengan Amerika sebagai panglimanya. Tanpa keraguan mereka mengungkapkan kezaliman fihak Barat kafir di berbagai negeri Islam seperti Palestina, Afghanistan dan Irak. Ini sungguh keberanian yang luar biasa. Sesuai dengan hadits Nabi:

أَلَا إِنَّ أَفْضَلَ الْجِهَادِ كَلِمَةُ حَقٍّ عِنْدَ سُلْطَانٍ جَائِرٍ

“Ketahuilah, sesungguhnya jihad yang paling utama ialah (menyatakan) kalimat haq (kebenaran) di hadapan penguasa zalim.” (HR Ahmad 10716)

Ketika saluran TV CNN menayangkan wawancara dengan Imam Samudera di bawah judul ”In the Mind of a Terrorist” dengan tegasnya beliau berkata: ”Apa yang kami lakukan hanyalah upaya membalas kezaliman Amerika Serikat dengan sekutunya yang telah membantai saudar-saudara muslim kami di berbagai belahan penjuru dunia seperti Palestina, Afghanistan dan Irak.” Allohu Akbar…!!

Di samping itu, ketiga muslim ini telah menunjukkan kesungguhan mereka dalam mengekspresikan ruhul jihad dan semangat ukhuwwah Islamiyyah yang tidak mengenal batas-batas geografis. Mereka telah ikut serta dalam jihad di bumi Afghanistan dan Ambon. Mereka telah menyerahkan pengorbanan harta dan jiwa di daerah bahkan negeri lain demi membela dan menjaga kehormatan kaum muslimin yang teraniaya oleh kaum kuffar. Nabi shollallohu ’alaih wa sallam menjanjikan bahwa sepasang kaki yang pernah mengalami jihad di jalan Alloh ta’aala akan menyebabkan neraka diharamkan untuk menyentuh mujahid tersebut.

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ اغْبَرَّتْ قَدَمَاهُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَهُمَا حَرَامٌ عَلَى النَّارِ

“Barangsiapa yang kedua telapak kakinya berdebu di jalan Alloh ta’aala, maka haram atas keduanya tersentuh api neraka.” (HR Tirmidzy 1556)

Bahkan Rosulullah shollallohu ’alaih wa sallam bersabda bahwa Alloh ta’aala menjamin orang yang berjihad di jalanNya akan dimasukkan ke dalam surga.

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَضَمَّنَ اللَّهُ لِمَنْ خَرَجَ فِي سَبِيلِهِ لَا يُخْرِجُهُ إِلَّا

جِهَادًا فِي سَبِيلِي وَإِيمَانًا بِي وَتَصْدِيقًا بِرُسُلِي فَهُوَ عَلَيَّ ضَامِنٌ أَنْ أُدْخِلَهُ الْجَنَّةَ

Rosululoh shollallohu ’alaih wa sallam bersabda: “Alloh ta’aala akan menjamin orang yang keluar (berjuang) di jalanNya, seraya berfirman: “Sesungguhnya orang yang berangkat keluar untuk berjihad di jalanKu, karena keimanan kepadaKu dan membenarkan (segala ajaran) para RosulKu, maka ketahuilah bahwa Akulah yang akan menjaminnya untuk masuk ke dalam surga.” (HR Muslim 3484)

Amrozi, Imam Samudera dan Mukhlas telah tiada. Mereka telah meninggalkan dunia fana dengan cara dieksekusi mati. Suatu eksekusi mati yang sarat konspirasi. Konspirasi bernama War On Terror. Konspirasi laksana nyanyian dipimpin oleh derijen Amerika dengan Zionisme Internasional sebagai not baloknya. Lalu seluruh dunia termasuk dunia Islam diharuskan menyuarakan kur bersama mengikuti irama nyanyian tersebut. Media-massa menjadi loudspeaker yang melabel mereka sebagai Para Teroris.

Padahal Alloh ta’aala justru menyambut arwah mereka bertiga penuh penghormatan sebagai Asy-Syuhada. Subhanalloh…. Maha Benar Alloh dengan firmanNya di bawah ini:

وَلَا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتًا بَلْ أَحْيَاءٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ فَرِحِينَ بِمَا آَتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ وَيَسْتَبْشِرُونَ بِالَّذِينَ لَمْ يَلْحَقُوا بِهِمْ مِنْ خَلْفِهِمْ أَلَّا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ يَسْتَبْشِرُونَ بِنِعْمَةٍ مِنَ اللَّهِ وَفَضْلٍ وَأَنَّ اللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجْرَ الْمُؤْمِنِينَ

“Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Alloh itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezki, mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Alloh yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. Mereka bergirang hati dengan ni`mat dan karunia yang besar dari Alloh, dan bahwa Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang beriman.” (QS Ali Imran ayat 169-171)

————————————-

Sumber: dari sini.


Responses

  1. Bagaimana status korban pengeboman yg dari umat islam (Satpam, Pelayan restorant ,cleaning service dll) yg nota bene adalah orang lemah yg justru perlu kita santuni . Padahal membunuh 1 org sesama muslim tanpa dasar hukum sesuai syar i sama saja membunuh seluruh umat manusia didunia .
    kenapa tidak ngebom dinegara kafir saja ? sasaran nya jelas !.malah ngebom di Tanah Air sendiri dinegara yg umat Islamnya terbanyak diDunia.

    >>> Saya belum menemukan dalil rojih ttg status korban pengeboman, atau yang serupa. Barangkali ada yang bisa membantu? Saya belum menemukan dalil rojih ttg status korban pengeboman, atau yang serupa, seperti korban pembunuhan biasa misalnya. Barangkali ada yang bisa membantu?
    Sedangkan mengenai pertanyaan mengapa “ngebom” di Tanah Air sendiri, bagaimana jika si pelaku menganggap muslim di Tanah Airnya sendiri telah murtad dari agama Islam sehingga berstatus kafir dan halal darahnya? Sebab ada sekte yang mempunyai pemahaman demikian. Tolong ini direnungkan. Artikel di blog ini yang terkait bisa dibaca di sini.

  2. Julukan syuhada bagi mereka terlalu berlebihan dan tidak tepat. Karena yang berhak menilai mereka syuhada atau bukan adalah ALLAH. Rasulullah pun mengetahui bahwa para shahabatnya mati sebagai syuhada setelah mendapat kabar dari Allah melalui Jibril. Sedangkan kapasitas kita sebagai manusia biasa, jelas tidak memungkinkan bagi kita untuk menyandangkan gelar syuhada pada orang lain karena kita tidak memiliki ilmu dan hak untuk itu. Bagaimana penulis yakin bahwa burung-burung yang beterbangan di atas rumah duka adalah burung surga? Bagaimana penulis yakin bahwa aroma wangi di rumah jenazah adalah wewangian surga dan bukan minyak wangi yang disemprotkan ke ruangan? Klaim ini perlu bukti. Dan tidaklah ada yang bisa membuktikan keculi seorang nabi dan rosul yang telah diberi kabar oleh Allah lewat malaikat-Nya. Memperjuangkan Islam adalah suatu hal yang mulia, namun bila ia berjuang dengan cara yang tidak dibenarkan syariat Islam maka perjuangan itu pasti sia-sia dan merugikan. Bila memang benar keadaan mereka yang meninggal setelah eksekusi itu ‘baik sekali’, saya husnudzan bahwa sebelum meninggal mereka telah banyak bertobat kepada Allah atas dosa dan kesalahan mereka dan semoga taubat mereka diterima Allah. Ustadz Ihsan Tanjung banyak mengemukakan dalil yang tidak tepat dan dikaitkan dengan fakta yang belum jelas kebenarannyadan keshohihannya. Hati-hati ustadz, jangan sampai anda menjerumuskan umat dalam kesalahan pemahaman dalam beragama yang fatal

    >>> Hmmm… Status syuhada atau tidaknya seorang muslim juga perlu diperjelas, sebab hal ini menyangkut perlakuan yang masih masih hidup atas jenazah yang bersangkutan. Terdapat hadits yang melarang memandikan jasad syuhada. Dari Jabir bin ‘Abdillah rodhiyallohu ‘anhu, dari Rosululloh sholallohu ‘alaihi wassallam bahwa beliau memberi instruksi dalam penanganan para syuhada yang gugur di peperangan Uhud, “Janganlah mandikan jenazah mereka! Sesungguhnya setiap luka atau darah akan mengeluarkan aroma kesturi pada Hari Kiamat.” Dan beliau tidak mensholatkan mereka, (Shohih, HR Ahmad (III/299).

    Jadi, status kematian seseorang diharuskan untuk keperluan penanganan jasadnya. Mengenai arwahnya syahid atau tidak, itu perkara lain.

    Tulisan Ustadz Ihsan Tandjung di atas saya muat di sini, sebab saya menilai tulisan beliau cukup menyentuh banyak sisi, tidak hanya yang nampak secara fisik lewat media, namun juga kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi yang didukung dengan cukup dalil. Kalau Anda membaca keseluruhan tulisan di atas, menurut Ustadz Ihsan Tandjung, kesyahidan Amrozy cs bukan karena tindakan pengebomannya, tetapi dikarenakan mereka adalah korban pendzoliman pihak-pihak tertentu yang “menunggangi” aksi pengeboman mereka. Selain itu –sesuai dengan “husnudzon” Anda– bisa jadi mereka meninggal sebagai syuhada, karena selama proses menuju eksekusi mati, yang mereka lakukan hanyalah ibadah dan ibadah saja di penjara, sehingga hanya hal-hal baik-lah yang mereka lakukan. Bila ditambah dengan taubat, maka insya Alloh dosa-dosa mereka diampuni. Diriwayatkan dari Abu Huroiroh rodhiyallohu ‘anhu, dari Nabi sholallohu ‘alaihi wassallam bersabda ”seandainya kalian berdosa sehingga mencapai langit, kemudian bertaubat, maka Alloh pasti menerimanya”.

    Tulisan di atas hanya untuk membantu kaum muslimin dalam berpikir, bahwa segala sesuatu tidak harus disikapi apa yang tampak saja. Pada waktu itu, mayoritas umat Islam di dunia mengecam dan mengutuk Amrozy cs. secara membabi buta, dan menganggap kesalahan pengeboman sepenuhnya ada pada mereka, tanpa melihat adanya data dan fakta yang mengarah kepada ditungganginya aksi Amroz cs. oleh pihak-pihak tertentu yang ingin menyebarkan fitnah. Inilah yang diinginkan oleh musuh-musuh Islam, yaitu menjadikan umat Islam mudah terpancing dan terjebak di dalam skenario-skenario yang mereka (musuh-musuh Islam) rancang. Semakin terpancing sesuai skenario mereka, mereka akan bertepuk tangan semakin keras dan kerugian diderita oleh Islam dan umatnya. Nah, tulisan ustadz Ihsan di atas hanyalah ingin menyajikan informasi dari sisi yang “berbeda”.

    Wallohu a’lam.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: