Oleh: zuhudhi | 11 Oktober 2007

Beberapa Catatan Penting Seputar ‘Idul Fithri *

Romadhon berakhir, hari raya ‘Idul Fithri pun tiba. Di dalamnya ada kebahagiaan dan juga ada kesedihan. Bahagia karena datangnya hari raya, sedih karena berlalunya Romadhon. Semua di antara kita berharap agaramal dan ibadah kita diterima oleh Alloh Subhana wa Ta’ala, Sang Pembuat Syari’at. Bukankah syarat diterimanya amal dan ibadah itu dengan niat yang ikhlas serta mengikuti tuntunan Nabi Muhammad Sholallohu ‘alaihi wasallam yang merupakan teladan kita? Bukankah semua amalan dalam Islam telah ada tuntunannya dari teladan kita? Lalu apakah kita telah melaksanakan hari raya kaum muslimin sesuai dengan tata cara darinya?

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan ketika tiba hari raya ‘Idul Fithri karena banyak di antara kita yang masih salah persepsi seputar masalah ‘Idul Fithri, diantaranya adalah:

1. Makna ‘Idul Fithri

Sebagian besar kaum muslimin mepunyai keyakinan bahwa makna “Idul Fithri” adalah hari raya kembali ke fithroh (suci). Maka perlu kita teliti kembali makna ‘Idul Fithri, secara bahasa dan secara syaro’/agama.

Secara bahasa, ‘Id berasal dari kata ‘aada – ya’uudu – ‘audatan, yang artinya kembali. Sedangkan al-fithru artinya adalah al-ifthoor, yang berarti berbuka atau kashru as-shoum, yaitu pembatalan puasa (Lihat al-Mu’jamu al-wasiithu dan Kamus Arab-Indonesia al-‘Ashri dan al-Munawwir). Jadi ‘Idul Fithri adalah hari raya kembali berbuka setelah berpuasa selama sebulan penuh. Sehingga jelaslah, secara bahasa bahwa al-fithru artinya al-ifthoor yang berarti berbuka. Bukan yang dikatakan sebagian orang bahwa al-fithru berarti al-fithroh yang berarti suci, atau sifat pembawaan yang ada sejak lahir. Jika dilihat dari huruf penyusunnya pun, sangat jelas perbedaan antara keduanya. “Al-fithru”, huruf penyusunnya adalah fa, tho, dan ro. Sedangkan “al-fithroh”, huruf penyusunnya adalah fa, tho, ro, dan ta-marbuuthoh. Sayangnya, dalam 2 kamus besar Arab-Indonesia yang telah disebutkan, makna ‘Idul Fithri diartikan hanya sebagai istilah saja, dan tidak diartikan secara bahasa. Di dalam kamus tersebut arti ‘Idul Fithri tertulis hari Idul Fithri atau hari raya lebaran (meskipun demikian, kamus ini banyak sekali manfaatnya, sehingga banyak dijadikan referensi oleh umat Islam Indonesia, semoga Alloh memberikan ganjaran kepada penyusunnya dengan sebaikp-baik ganjaran, Amiin).

Sedangkan menurut syaro’, telah datang hadits dari Abi Huroiroh, dia berkata: Rosululloh sholalallohu ‘alaihi wa sallam telah bersabda: “(‘Idul) Fithri adalah hari kalian berbuka dan (‘Idul) Adha adalah hari kalian menyembelih hewan (korban)” – Diriwayatkan oleh Ibnu Majah, no. 1660.

Lalu bagaimana dengan kaum muslimin yang berpendapat bahwa ‘Idul Fithri adalah hari raya kembali menjadi suci (fithroh), yang mungkin pendapat mereka dilatarbelakangi hadits-hadits yang berbicara tentang pengampunan dosa dan dikabulkannya do’a serta pembebasan dari api neraka di bulan Romadhon? Dengan adanya hadits-hadits ini mereka beranggapan pada waktu ‘Idul Fithri dosa-dosa kaum muslimin telah diampuni. Maka, lihatlah diri kita masing-masing, apakah selama bulan Romadhon kita telah beribadah dan beramal dengan ikhlas, penuh keimanan, ihtisab serta sesuai dengan tuntunan Nabi sholallohu ‘alaihi wasallam? Sehingga di sini tidaklah berarti bahwa kita memaknai ‘Idul Fithri dengan hari raya kembali menjadi suci/fithroh (sifat pembawaan yang ada sejak lahir, sehingga tidak mempunyai dosa). Bukankah suri tauladan kita telah menjelaskan ‘Idul Fithri adalah hari raya berbuka? Kita hanya bisa berdo’a agar dosa-dosa kita benar-benar diampuni, Amiin.

2. Ucapan pada hari raya ‘Idul Fithri

Kaum muslimin khususnya di Indonesia, ketika tiba hari raya ‘Idul Fithri banyak yang mengucapkan “Minal ‘Aaidiin wal Faaiziin, Mohon Maaf Lahir dan Batin”, sehingga tergambar di benak kaum muslimin bahwa arti dari “minal ‘aaidiin wal faaiziin” adalah mohon maaf lahir dan batin. Padahal arti “minal ‘aaidiin wal faaiziin” adalah “(semoga kita) termasuk orang-orang yang kembali (???) dan orang-orang yang menang”. Entah apa yang dimaksud dengan kata ‘aaidiin, apakah kembali berbuka atau kembali menjadi fithroh. Tapi yang jelas kita telah mengetahui makna ‘Idul Fithri yang sebenarnya (lihat poin pertama). Dan mudah-mudahan dosa kita diampuni dari Romadhon yang lalu ke Romadhon berikutnya. Sebagaimana hadits Nabi sholallohu ‘alaihi wasallam: “Sholat lima waktu, dari Jum’at ke Jum’at berikutnya, dari Romadhon ke Romadhon berikutnya, bisa menghapuskan dosa-dosa yang terjadi di antaranya, jika dosa-dosa besar dihindari.” (diriwayatkan oleh al-Bukhori dan Muslim). Sehingga perlu diluruskan kembali, seseorang yang mengucapkan, “semoga kita kembali menjadi orang yang fithroh (diampuni dosanya) dan termasuk orang-orang yang menang”, seyogyanya bukan mendasarkan pada pendapat bahwa hari raya ‘Idul Fithri adalah hari raya fithroh, akan tetapi karena hadits di atas. Allohu A’lam.

Permasalahannya tidak selesai sampai di sini. Bagaimanakah yang sebaiknya kita ucapkan di hari raya ‘Idul Fithri kepada saudara-saudara sesama muslim? Di dalam Islam, kita dituntut untuk mengikuti teladan kita, yaitu Muhammad sholallohu ‘alaihi wa sallam, kemudian para sahabat, kemudian orang-orang yang hidup setelah mereka (Taabi’iin), kemudian Taabi’ut Taabi’iin. Sementara dalam mengucapkan selamat hari raya ‘Idul Fithri telah datang atsar yang mulia yang diriwayatkan oleh Imam al-Baihaqi: Dari Kholid bin Ma’dan rodhiyallohu ‘anhu berkata, “Aku menemui Watsilah bin al-Asqo’ pada hari ‘id yang lalu, aku mengatakan Taqobbalalloh Minna wa Minka, lalu ia menjawab: Ya, Taqobbalalloh Minna wa Minka. Kemudian Watsilah berkata, Aku menemui Rasululloh sholallohu ‘alaihi wa sallam pada hari ‘Id lalu aku mengucapkan Taqobbalalloh Minna wa Minka, kemudian Rosululloh menjawab Ya, Taqobbalalloh Minna wa Minka.” (HR. Baihaqi dalam Sunan Kubro, no. 6088).

Sehingga dapat disimpulkan bahwa yang dianjurkan adalah mengucapkan do’a “Taqobbalalloh Minna wa Minka”, yang artinya “Semoga Alloh menerima (amal ibadah) kita dan kamu.”

Maka terlepas dari boleh atau tidaknya mengucapkan minal ‘aaidiin wal faaiziin, alangkah baiknya jika kita beragama mengikuti ahlinya, yaitu generasi para sahabat. Bukankah mereka lebih dekat dengan Rosululloh sehingga mereka lebih mengerti agama ini daripada kita?!!!

Adapun kalimat “mohon maaf lahir batin” menjadi kalimat ampuh bagi kaum muslimin, yaitu sebagian dari mereka hanya meminta maaf ketika hari raya tiba. Sehingga ketika sebagian mereka berbuat salah pada seseorang, sebagian mereka berkata: “Ah, minta maafnya nanti saja pada saat hari raya, toh pasti dimaafkan!”, atau yang semisalnya. Padahal anjuran meminta maaf adalah ketika kita berbuat kesalahan dan tidak ada yang menjamin kehidupan seorang pun sampai hari raya tiba, kecuali Alloh ‘Azza wa Jalla.

3. Berjabat tangan dengan orang yang bukan mahrom

Pada saat hari raya, kaum muslimin saling mengucapkan selamat hari raya, akan tetapi banyak kaum muslimin yang lupa atau tidak tahu atau mungkin sengaja, dan merupakan sebuah kesempatan untuk berjabat tangan dengan orang yang bukan mahromnya. Padahal hal ini telah dilarang oleh Rosululloh, sebagaimana dalam hadits, “Sungguh, seandainya kepala kalian ditusuk dengan jarum dari besi, lebih baik daripada dia menyentuh wanita yang tidak halal dia sentuh.” (lihat Silsilah Al-Hadits As Shohihah 226). Dan Nabi sholalallohu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, “Sesungguhnya aku tidak pernah berjabat tangan dengan seorang wanitapun.” Juga perkataan ‘Aisyah rodhiyallohu anha, “Demi Alloh, tiadalah pernah tangan Rosululloh sholalallohu ‘alaihi wa sallam menyentuh tangan wanita walau sekali. Dan tiadalah beliau memba’iat kaum wanita, kecuali hanya dengan ucapan.”

4. Berhias diri yang berlebihan

Bagi wanita dilarang bertabarruj, yaitu berhias diri berlebihan kapan pun waktunya, kecuali untuk suaminya dan dihadapan mahromnya. Sebagaimana Alloh berfirman, “Dan hendaklah kamu (wanita muslimah) tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyyah yang dahulu, dan dirikanlah sholat serta tunaikanlah zakat ..” (QS. Al Ahzab: 33). Dalam suatu hadits disebutkan bahwa ada dua golongan dari ahli neraka yang tidak pernah dilihat oleh Nabi, salah satu diantaranya adalah: “.. wanita-wanita yang berpakaian namun telanjang (tidak menutup seluruh tubuhnya, atau berpakaian namun tipis, atau berpakaian ketat), yang melenggak-lenggokkan kepala. Mereka tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium bau surga.” (HR. Muslim). Bukan berarti kaum wanita tidak boleh memakai baju yang baru dan bagus, akan tetapi tidak boleh berlebihan. Adapun bagi kaum pria maka disunnahkan untuk memakai pakaian yang terbaik, sebagaimana dalam suatu hadits, dijelaskan bahwa Umar pernah menawarkan jubah sutera kepada Rosululloh sholalallohu ‘alaihi wa sallam agar dipakai untuk berhias dengan baju tersebut di hari raya dan untuk menemui utusan. (HR. Bukhori dan Muslim). Rosululloh sholalallohu ‘alaihi wa sallam tidak mengingkari apa yang ada dalam persepsi Umar, yaitu bahwa hari raya dianjurkan berhias dengan pakaian terbaik. Hal ini menunjukkan tentang sunnahnya hal tersebut. (Ahkamul ‘Idain, Syaikh Ali bin Hasan). Akan tetapi bukan berarti berhias diri dengan melanggar apa yang menjadi ketentuan Alloh dan Rosul-Nya, sebagaimana telah dilarang memakai pakian sutera untuk laki-laki dan memakai minyak wangi bagi kaum wanita.

5. Makan setelah sholat hari raya ‘Idul Fithri

Telah diriwayatkan dari Abi Buroidah, “Bahwasanya Rosululloh sholalallohu ‘alaihi wa sallam tidak keluar pada hari raya ‘Idul Fithri sampai beliau makan dan tidak makan pada hari raya berkurban sampai menyembelih kurban.” (HR. at Tirmidzi). Sehingga sebelum kita berangkat untuk sholat ‘Idul Fithri maka hendaklah kita makan terlebih dahulu dan tersingkaplah bahwa hari raya ‘Idul Fithri adalah hari raya berbuka, sedangkan hari raya ‘Idul Adha disunnahkan makan setelah disembelihnya hewan kurban, adapun hewan kurban disembelih setelah sholat ‘idul adha.

Demikianlah beberapa uraian ringkas mengenai hari raya. Mudah-mudahan dapat mengingatkan kita kepada jalan hidup teladan kita, yang tercinta sholalallohu ‘alaihi wa sallam. Dan kita berdoa agar diberi keutamaan pada bulan Romadhon, sehingga amal-amal kita diterima dan dosa-dosa kita diampuni, sebagaimana do’a kita juga ketika tiba hari raya, Amiin.

 

*) Disadur dari:

Buletin An-Naba’ Masjid Kampus UGM Yogyakarta Edisi 33 (dengan pengeditan seperlunya)
Tanggal 25 Romadhon 1428 / 07 Oktober 2007

Keyword: hari, raya, Islam, Idul, Iedul, ‘Iedul, Fitri, Idul Fitri, kesalahan, salah, keliru.


Responses

  1. makasih artikel mengenai idul fitri-nya, kalau boleh saya copy utk disebarluaskan di lingkungan saya kelak.Tentu dg mencantumkan sumber aslinya… Boleh yaw… Syukron sebelumnya!

    >>> Silakan saja. Mudah-mudahan dapat memberikan manfaat buat lingkungan Anda.

  2. Se7 nih dengan makna berbuka, sebab kalau kita lihat hadits tentang dosa yang diampuni dalam kaitannya puasa ramadhan adalah dosa kecil. lihat aja mengapa Rasulullah menegakkan hukum Rajam bagi Mais dan wanita ghamidiyah, kalau Idul Fitri diartikan kembali suci maka seharusnya ga usah di Rajam aja itu Sahabat Mais karena tinggal nunggu Ramadhan end dah kembali suci lagi deeeeh


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: