——————————————————————

Surat_Mantan_Pendeta_Page_01Sungguh benar bahwa rahasia hidayah hanyalah di tangan Alloh. Tidak ada yang menyangka seorang pendeta yang menjadi misionaris puluhan tahun berdakwah di pedalaman –menyeru kepada kesyirikan dan kekufuran- akhirnya masuk Islam di akhir hayatnya hanya karena sebuah buku saku “Sebab-Sebab Kebahagiaan”.

Buku itu merupakan transkrip dari ceramah yang disampaikan oleh Fadilatus Syaikh Abdurrozzaq hafizohulloh di mesjid Al-Istqlal pada tanggal 17 Januari 2010 M (1 Shofar 1431 H), yang dihadiri lebih dari 100 ribu jama’ah.

Alloh menghendaki kebaikan bagi pendeta ini (Robert) yang terus berusaha mencari kebenaran….akan tetapi beliau sekarang telah meninggal dunia –semoga Alloh merahmati beliau dengan rahmatNya yang seluas-luasnya, memaafkan dosa-dosanya dan memasukannya kedalam surgaNya-.

Akan tetapi sebelum ia meninggal, ia sempat menulis sebuah surat yang ia tujukan kepada Fadilatus Syaikh Abdurrozzaq hafizohulloh, yang sungguh surat tersebut ditulis dari sanubari yang paling dalam. Surat yang ringkas akan tetapi sarat dengan faidah-faidah yang menakjubkan.
Ia bahkan tak sempat mengirimkan surat tersebut –mungkin karena sakit yang dideritanya-, akan tetapi surat tersebut ditemukan oleh saudaranya –yang non muslim- di tumpukan buku-bukunya sebulan setelah wafatnya, lalu dititipkan kepada salah seorang dai yang berdakwah di pedalaman. Lalu akhirnya pada tanggal 16 Agustus kemarin surat tersebut –alhamdulillah- akhirnya sampai ke tangan saya tatkala saya mengunjungi kota Balikpapan, dan alhamdulillah surat tersebut telah sampai kepada Fadilatus Syaikh Abdurrozzaq hafizohullah

Berikut isi surat tersebut.

بسم الله الرحمن الرحيم

السلام عليكم ورحمة الله

Kepada yang saya cintai karena Alloh Tuan Syaikh Abdurrozzaq semoga Alloh memberkahi anda.

Perkenalkan, nama saya Robert Tanhu Mangkulang dengan nama Islam Abdurrohman al Islami 58 tahun, berasal dari suku Dayak Kalimantan.

Sebelumnya saya minta maaf bila mengganggu waktu anda dan aktivitasnya. Saya ingin menceritakan kisah singkat tentang kehidupan saya dan juga harapan saya di akhir hidup saya yang tersisa.

Saya masuk Islam pada tanggal 15 Desember 2011, mulanya saya masuk Islam dan mengenal Agama Islam karena keraguan agama yang saya yakini, di keluargaku 6 bersaudara, semuanya berbeda agama. Ada hindu paganisme, kristen katholik dan Protestan. Tapi tidak ada satu pun yang masuk Islam karena keluarga kami menganggap Islam agama yang rumit dan sulit.

Baca Lanjutannya…

———————————————————————–

adebayor - mualafBerita masuk Islamnya Emmanuel Adebayor pada bulan Romadhon lalu, masih menjadi perbincangan netizen di dunia maya baik dalam negeri maupun luar negeri.

Lalu apa alasan mantan striker Real Madrid yang kini bernaung di Tottenham Hotspur tersebut memilih menjadi Mualaf ?

Ternyata kisah Yesus di dalam Al Quran dan kebenaran Islam-lah yang mengantarkan striker jangkung kelahiran Togo, 31 tahun silam itu mendapat hidayah.

“Yesus mengajarkan bahwa hanya satu Tuhan dan hanya Alloh yang pantas untuk disembah seperti dalam Deut 6:4 dan Mark 12:29. Sedangkan Islam pun demikian di surat An Nisa 4: 171,” ungkapnya kepada The Herald yang dilansir onislam.net, Selasa (4/8).

Dalam sebuah video yang diunggahnya ke Youtube, skuad timnas Togo itu mengucapkan dua kalimat syahadat tanda ia menyatakan sebagai muslim.

“Wa asyhadu anna muhammadur rosululloh,” demikian yang dia ucapkan dalam video tersebut.

Menariknya, ia juga menyebutkan beberapa alasan mengapa ia memilih Islam dan meninggalkan Kristen. Tentu ini menunjukkan, Adebayor melakukan pengkajian, membandingkan, dan merenungkan sehingga sampai pada kesimpulan bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang benar. Bukan sekedar ikut-ikutan dan emosional saja.

Baca Lanjutannya…

————————————————————————————

Namaku Erlina, aku ingin berbagi cerita kepada saudariku muslimah, bukan untuk mengajarkan tentang fiqih atau hadits atau hal lainnya yang mungkin ukhti muslimah telah jauh lebih dulu mengetahuinya daripada aku sendiri. Karena di masa lalu, aku beragama Kristen

Sejak kecil aku beserta kedua adikku dididik secara kristen oleh kedua orangtuaku, bahkan aku telah dibaptis ketika masih berumur 3 bulan dan saat berusia 18 tahun aku telah menjalani sidhi, yaitu pengakuan setelah seseorang dewasa tentang kepercayaan akan iman kristen di depan jemaat gereja. Aku juga selalu membaca Alkitab dan membaca buku renungan –semacam buku kumpulan khotbah– bersama keluargaku di malam hari. Seluruh keluargaku beragama Kristen dan termasuk yang cukup taat dan aktif. Bahkan dari keluarga besar ayah, seluruhnya beragama Kristen dan sangat aktif di gereja sehingga menjadi pemuka dan pengurus gereja. Sedang dari keluarga ibu, nenekku dulunya beragama Islam, namun kemudian beralih menjadi Katholik.

Baca Lanjutannya…

Oleh: zuhudhi | 29 November 2013

Makna Tersirat dalam Do’a Anak kepada Orang Tua

Anda pasti tahu do’a ini: “Alloohummaghfirlii waliwaalidayya war hamhumaa kama rabbayaanii shagiiraa”…
Tapi tahukah Anda akan kedahsyatan makna dari do’a ini?
~~~
~~~
Terjemahan do’a ini kurang lebih: “Yaa Alloh, ampunilah aku dan kedua orangtuaku, SAYANGILAH KEDUANYA SEBAGAIMANA MEREKA MENYAYANGIKU DI WAKTU KECIL”
~~~
~~~
Perhatikan terjemahan yang berhuruf besar…
~~~
~~~
Do’a tersebut mengandung makna yang dalam mengenai pendidikan anak, terutama di usia-usia anak masih awal…
~~~
Do’a tersebut lebih berisi pesan kepada orang tua agar MENYAYANGI anaknya LEBIH BANYAK atau MENDIDIK DENGAN DIDIKAN YANG BAIK saat anak masih KECIL, di mana sewaktu kecil itulah anak-anak MEMBUTUHKAN KASIH SAYANG YANG TAK TERHINGGA, sebagai bekal bagi mereka mengarungi hidup sewaktu besar nantinya… Do’a yang sangat FAIR / ADIL…
~~~
Orang tua yang memperlakukan anak-anaknya di waktu kecil dengan pola tertentu, menurut redaksi do’a tersebut, akan diganjar dengan perlakuan yang sama pola nya oleh Alloh.
~~~
Ilustrasi nya begini, misalkan di waktu kecil, rasa “sayang” ke anak diwujudkan dengan CARA-CARA KASAR, bisa berupa kekerasan fisik atau kekerasan verbal (dibentak, dikata-katai kasar, dsb), maka jangan heran ketika nanti nya sang orang tua AKAN DIPERLAKUKAN “KASAR” juga oleh Alloh.
~~~
Orangtua yang tidak pernah mendidik anaknya di waktu kecil, karena sibuk bekerja, tidak tahu cara mendidik, dsb, sama dengan menelantarkan anaknya, atau dicap TIDAK PEDULI terhadap anaknya, maka nantinya Alloh juga akan TIDAK MEMPEDULIKAN orangtua model demikian… na’udzubillahi min dzalik…
~~~
Akan berlaku sebaliknya, jika anak diperlakukan dengan kasih sayang, kelembutan, dsb, maka Alloh sungguh Maha Adil, Maha Bijaksana.
~~~
Do’a di atas sinkron dengan dalil bahwa, perbuatan seseorang akan kembali kepada dirinya sendiri… Subhanalloh… Sungguh sempurna syari’at agama ini…
~~~
Hasil dari pendidikan yang baik, tidak hanya dirasakan oleh si anak, tapi juga dirasakan oleh kedua orangtua… Dari orangtua, oleh orangtua, dan untuk orangtua…
~~~
Oleh karena itu, wahai orangtua… Sayangilah anak-anakmu dengan sebenar-benar sayang…!!!

* Bumi Alloh, 15/11/2013 (11 Muharrom 1435H), ASG a.k.a zuhudhi

———————————————

945591_10151600504658260_2132737184_n

Buku ini sangat terkenal, dalam versi bahasa indonesia berjudul “Personality Plus” karya Florence Litteur. Kami mempunyai buku terjemahnya dan talah membacanya dan kami menemukan banyak manfaat dan faidahnya membaca buku ini. Manfaat buku ini dipergunakan oleh banyak kalangan, mulai dari psikolog pastinya, dokter jiwa,  anggota MLM [katanya ini adalah buku wajib mereka untuk mencari downline], pemimpin dan bos yang mengatur orang banyak, tokoh masyarakat, pekerjaan yang menuntut berhubungan dengan banyak orang seperti sales, humas dan entertrainer. Bahkan digunakan untuk proses ta’aruf ikhwan-akhwat. Dengan sekedar mengatakan bahwa akhwat A itu plegmatis-melankolis, maka pahamlah si ikhwan bagaimana kira-kira gambaran umum sifat akhwat tersebut yang bisa dipergunakan sebagai pertimbangan pemilihan dan menyesuaikan dengan karakter dirinya. Dan kalau kami bisa memberi masukan, kami berharap para da’i Islam bisa mengetahui sekilas ilmu ini demi menyebarnya agama Islam sesuai dengan Al-Quran dan As-Sunnah berdasarkan pemahaman para salaf yaitu Sahabat, Tabi’in dan Tabi’ut tabi’in.

Agama Islam Adil

Meskipun penulisnya adalah seorang kafir yang tidak berarti bahwa kita tidak boleh menggunakan ilmunya. Agama islam yang mulia mengajarkan kita agar adil terhadap semua mahluk termasuk kapada orang kafir yang mereka adalah sejahat-jahat mahluk yang sudah diberi kehidupan dan kenikmatan oleh Alloh tetapi malah mengingkari. Bagaimana perasaan kita jika ada seseorang yang telah kita bantu, kita beri segala pertolongan padahal sebelumnya ia adalah papa, ternyata ia malah menyakiti kita.

Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُم مِّن دِيَارِكُمْ

أَن تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ.

“Alloh tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Alloh menyukai orang-orang yang berlaku adil.” [Al-Mumtahah: 8]

Berkata Syaikh Abdurrohman bin Nashir  As-Sa’diy rohimahulloh,

لا ينهاكم الله عن البر والصلة، والمكافأة بالمعروف، والقسط للمشركين، من أقاربكم وغيرهم، حيث كانوا بحال لم ينتصبوا لقتالكم في الدين والإخراج من دياركم، فليس عليكم جناح أن تصلوهم، فإن صلتهم في هذه الحالة، لا محذور فيها ولا مفسدة

“Alloh tidak melarang kalian untuk berbuat baik, menyambung silaturrohim, membalas kebaikan , berbuat adil kepada orang-orang musyrik,  baik dari keluarga kalian dan orang lain. Selama mereka tidak memerangi kalian karena agama dan selama mereka tidak mengusir kalian dari negeri kalian, maka tidak mengapa kalian menjalin hubungan dengan mereka karena menjalin hubungan dengan mereka dalam keadaan seperti ini tidak ada larangan dan tidak ada kerusakan.” [Taisir Karimir Rohmah hal. 819, Dar Ibnu Hazm, Beirut, cet. Ke-1, 1424 H]

Segala solusi ada dalam Islam

Sebenarnya ilmu tentang psikologi manusia sudah dibahas panjang lebar oleh ulama islam. buku-buku berjilid-jilid tentang tazkiyatun nufus dan kitab-kitab [رقائق] “raqoo’iq”/ yaitu cara untuk melembutkan hati manusia. Hanya saja kita saja yang jarang atau tidak pernah sama sekali menelaahnya, bahkan tidak tahu apa saja buku-buku tersebut dan siapa pengarangnya.

penelitian dan penjabaran empat sifat dasar manusia oleh penulisnya Florence Litteur adalah termasuk perkara dunia yang bermanfaat. Ia juga memberikan solusi dan bagaimana menyikapi empat sifat dasar ini untuk diri sendiri dan membina hubungan dengan orang lain. Namun solusinya terkadang kurang sesuai dengan syariat, kita maklum karena ia seorang kafir. Inilah yang kami inginkan dalam benang merah ini, yaitu bagaimana Islam memberi solusi dan menyikapinya.

Baca Lanjutannya…

Oleh: zuhudhi | 21 Maret 2013

Keutamaan Para Shahabat Rosululloh

—————————————

Jika kita bertanya pada seseorang, siapakah yang paling kenal dengan si fulan? Mayoritas orang pasti akan menjawab keluarganya, yaitu istrinya. Selain itu akan muncul jawaban shahabat dekatnya. Sekarang jika ada yang bertanya kepada kita, siapakah yang paling mengenal Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam? Ya, tentu para shahabat beliau.

Lantas, apa definisi dari shahabat Nabi? Yang dimaksud dengan shahabat (baca: shohabat, zuh) adalah mereka yang bertemu dengan Nabi secara langsung, beriman kepada Nabi dan mati dalam keadaan beriman. Jika ia beriman kepada Nabi namun tidak bertemu Nabi, maka hal itu tidak disebut dengan shahabat. Misalnya adalah Raja Najasyi. (Ta’liq Mukhtashor ‘ala matni Al-Aqidah Ath-Thohawiyyah, Syaikh Sholih Al-Fauzan)
Mencintai para shahabat Nabi adalah salah satu pokok di antara pokok-pokok seorang muslim yang benar aqidahnya. Karena banyak sekali ayat dari Al-Quran dan hadits Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam yang memuji para shahabat. Dan sudah sepantasnya, menjadi kewajiban kita sebagai seorang muslim untuk mencintai dan mendoakan kebaikan kepada para shahabat Nabi.

Pujian kepada Shahabat Nabi dari Al-Quran


Alloh ‘Azza wa Jalla berfirman (yang artinya), “Bagi orang-orang fakir dari kalangan Muhajirin yang diusir dari negeri-negeri mereka dan meninggalkan harta-harta mereka karena mengharapkan keutamaan dari Alloh dan keridhoan-Nya demi menolong agama Alloh dan Rosul-Nya. Mereka itulah orang-orang yang benar. Sedangkan orang-orang yang tinggal di negeri tersebut (Anshor) dan beriman sebelum mereka juga mencintai orang-orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin) dan di dalam hati mereka tidak ada rasa butuh terhadap apa yang mereka berikan dan mereka lebih mengutamakan saudaranya daripada diri mereka sendiri walaupun mereka juga sedang berada dalam kesulitan” (QS. Al-Hasyr : 8-9)

Alloh Tabaroka wa Ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan orang-orang yang terlebih dulu (berjasa kepada Islam) dari kalangan Muhajirin dan Anshor serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, maka Alloh telah ridho kepada mereka dan mereka pun ridho kepada Alloh. Dan Alloh telah mempersiapkan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang sangat besar” (QS. At-Taubah : 100)

Baca Lanjutannya…

Oleh: zuhudhi | 6 Maret 2013

Berbakti Kepada Orang Tua

——————————–

Tidak berlebihan jika kita katakan bahwa akal sehat dan semua agama pasti setuju bahkan menganjurkan orang untuk berbuat baik dan berbakti kepada orang tuanya. Karena betapa besarnya jasa orang tua yang melahirkan, merawat dan mendidik seseorang hingga dewasa. Di dalam Islam, kedudukan berbakti kepada orang tua bukan hanya sekedar ‘balas budi’, namun juga sebuah amalan mulia yang agung kedudukannya di hadapan Alloh Subhanahu Wa Ta’ala.

Perintah Berbakti Kepada Orang Tua

Birrul walidain atau berbakti kepada orang tua adalah hal yang diperintahkan dalam agama. Oleh karena itu bagi seorang muslim, berbuat baik dan berbakti kepada orang tua bukan sekedar memenuhi tuntunan norma susila dan norma kesopanan, namun juga memenuhi norma agama, atau dengan kata lain dalam rangka menaati perintah Alloh Ta’ala dan Rosul-Nya shollallohu ‘alaihi wa sallam.

Alloh Ta’ala berfirman (yang artinya) : Sembahlah Alloh dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua (QS. An Nisa: 36). Perhatikanlah, dalam ayat ini Alloh Ta’ala menggunakan bentuk kalimat perintah. Alloh Ta’ala juga berfirman (yang artinya) : “Katakanlah: “Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu, yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang tua..”(QS. Al An’am: 151). Dalam ayat ini juga digunakan bentuk kalimat perintah. Alloh juga berfirman yang (artinya) : “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya” (QS. Al Isro: 23). Di sini juga digunakan bentuk kalimat perintah.

Birrul walidain juga diperintahkan oleh Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam. Ketika beliau ditanya oleh Abdulloh bin Mas’ud rodhiyallohu ‘anhu: “Amal apa yang paling dicintai Alloh ‘Azza Wa Jalla?”. Nabi bersabda: “Sholat pada waktunya”. Ibnu Mas’ud bertanya lagi: “Lalu apa lagi?”.Nabi menjawab: “Lalu birrul walidain”. Ibnu Mas’ud bertanya lagi: “Lalu apa lagi?”. Nabi menjawab: “Jihad fi sabilillah”. Demikian yang beliau katakan, andai aku bertanya lagi, nampaknya beliau akan menambahkan lagi (HR. Bukhori dan Muslim).

Dengan demikian kita ketahui bahwa dalam Islam, birrul walidain bukan sekedar anjuran, namun perintah dari Alloh dan Rosul-Nya, sehingga wajib hukumnya. Sebagaimana kaidah ushul fiqh, bahwa hukum asal dari perintah adalah wajib.

Baca Lanjutannya…

Oleh: zuhudhi | 26 Desember 2012

Toleransi: Antara Perkataan dan Perbuatan

——————————————-

Saya akan sampaikan maksud dan tujuan ini dengan cerita saja. Seolah fiksi, tapi bentuk kongkretnya bahkan lebih cemerlang dibanding ini. Amat-amat cemerlang malah, ketika akhlak yang sungguh baik, terpancar begitu indah dari seorang muslim, tanpa harus merusak akidah-nya. Karena sejatinya, saat seorang muslim memiliki akhlak tersebut, dia pasti akan membuat nyaman siapapun di sekitarnya.

Kita sebut saja Bambang. Orangnya biasa saja. Rajin shalat ke masjid, bergaul dengan tetangga, suka membantu, dan amat menyantuni fakir miskin serta anak yatim. Dia dikenal oleh banyak orang, satu kampung hafal dengan Pak Bambang ini. Terlebih kampung itu dihuni oleh warga heterogen. Beragam agama, banyak suku bangsa, kebiasaan, tumplek jadi satu.

Saat tetangga sebelah rumahnya, Pak Sihombing, asli Batak, hendak pergi ke gereja di suatu hari Minggu, mobil tetangganya ini malah mogok, tidak bisa dibawa, Pak Bambang dengan senang hati meminjamkan mobilnya, “Silahkan dipakai.” Tersenyum tulus. Toh, seharian minggu itu keluarga Pak Bambang hanya kumpul di rumah. Saat tetangga lain rumahnya kena musibah, kebakaran, Pak Bambang tidak perlu dua kali berpikir memberikan bantuan, membuka pintunya untuk menampung, padahal jelas-jelas tetangganya ini Hindu. Pak Bambang menyantuni anak-anak yatim piatu, tidak perlu bertanya ini agamanya apa. Bahkan saat sebuah kampung yg dekat dgn kampung mereka kena musibah, banjir bandang, meskipun sekampung itu Kristen, ada gereja yang rusak, Pak Bambang tidak perlu berpikir dua kali untuk membantu mengirimkan sembako, dsbgnya.

Tapi seumur-umur, tetangganya tahu persis Pak Bambang tidak akan pernah mengucapkan ‘selamat natal’, ‘selamat waisak’, dan selamat lainnya kepada tetangganya yang berbeda agama. Tidak akan. Lah, tega sekali pak Bambang ini? Apakah dia ekstrem kanan hingga tidak mau hanya sekadar bilang kalimat itu? Maka tanyakanlah pada tetangganya yang berbeda agama. Tidak terbersit sekalipun mereka menganggap Pak Bambang ini ekstrem. Yang ada, jelas sekali Pak Bambang ini tetangga yang baik, nyaman, dan selalu menghormati mereka.

Baca Lanjutannya…

Oleh: zuhudhi | 19 Desember 2012

Seperti Ketersadaran Ali

——————————————–

Dalam sebuah peperangan, Ali bin Abi Tholib berhasil melumpuhkan musuhnya. Jika ingin, mudah saja baginya mengayunkan pedang guna memenggal kepala lawannya. Namun tak ia lakukan itu. Mengetahui Ali tidak segera bertindak, musuh Alloh tersebut justru meludahi wajah Ali. Sungguh ejekan yang menghinakan.

Diperlakukan demikian, Ali naik pitam. Alih-alih menghabisi lawannya, Ali justru menurunkan pedangnya. Ia urung memenggal. “Mengapa engkau tak jadi memenggal kepalaku?” tanya musuhnya heran.

“Ketika aku menjatuhkanmu, aku ingin membunuhmu karena Alloh. Akan tetapi ketika engkau meludahiku, maka niatku membunuhmu karena marahku kepadamu.” tukas Ali.

Jika dicermati, alangkah mudah bagi Ali bin Abi Tholib untuk memenggal musuhnya. Posisi Ali begitu memungkinkan. Saat itu sedang perang, ia berang, dan punya pedang. Sementara lawannya tersungkur di bawahnya tanpa harapan. Tunggu apa lagi? Tapi Ali tak melakukan itu.

Betapa Ali mengajarkan kepada kita tentang pentingnya arti sebuah ketersadaran. Karena memang seperti itulah semestinya seorang muslim, selalu dalam keadaan sadar. Sadar terhadap segala aspek hidupnya. Baik perbuatannya, perkataannya, pemikirannya, dan lainnya. Ketersadaran inilah yang kemudian melahirkan kondisi keterkendalian yang tidak hanya terlihat pada amalnya secara zhohir, tetapi juga jauh dari pada itu, mengendalikan aspek terpenting dari amal itu sendiri: niat. Sebagaimana sabda Rosululloh SAW, “Innamal a’malu binniyat,” setiap perbuatan tergantung niatnya. [HR. Bukhori dan Muslim]

Membunuh dalam peperangan mungkin saja biasa. Lumrah. Tapi Ali menunjukkan sikap berbeda, di mana ia terjun dalam peperangan bukan lantaran ingin membunuh, tetapi untuk mempertahankan hak-hak Islam di muka bumi ini, semata karena Alloh. Kalaupun harus membunuh, ia membunuh karena perlu, bukan karena ingin. Ia sadar itu.

Baca Lanjutannya…

Oleh: zuhudhi | 15 Desember 2012

Masuk Islamnya Jerry D Gray

—————————————————–

Jerry D Gray, penulis sejumlah buku laris, ternyata seorang mualaf yang sangat mencintai Indonesia dengan mengurus naturalisasinya dari warga AS ke WNI, menikah dengan orang Indonesia dan menetap di Jakarta.

“Bagi saya Indonesia itu ibarat surga. Saya sudah melancong ke banyak negara dan di sini saya mendapatkan kedamaian bergaul dan berinteraksi sosial dengan komunitas Muslim terbesar di dunia,” ujar Jerry.

Beristrikan seorang perempuan Tasikmalaya dan dikaruniai seorang anak laki, Jerry menyatakan memiliki banyak kegiatan di Indonesia yang membuat dia makin betah yaitu memberikan pengajian, berbagi pengalaman dan menulis buku.

Tidak banyak orang yang menyangka Jerry D. Gray, warga AS yang pernah menjadi prajurit angkatan udara negara adidaya itu, ternyata seorang mualaf yang tekun beribadah.

Jerry mengatakan, menjalankan ajaran Islam secara kaffah sebagaimana diajarkan dalam kitab suci Al`Quran. Semua itu baru terlaksana setelah berproses dalam waktu cukup lama.

Bagi penulis sejumlah buku di antaranya “Deadly Mist”, “Demokrasi Barbar ala AS` dan “Dosa-dosa Media Amerika” itu, ketertarikan terhadap Islam dimulai justru dari tanah Arab tempat ajaran Islam itu sendiri pertama kali diturunkan kepada Rasul Allah SWT.

Baca Lanjutannya…

Older Posts »

Kategori