Alquran – Arabic

Alquran

Mengapa Al-Quran Diturunkan Berbahasa Arab?

Barangkali ada sebagian dari kita, termasuk kaum muslimin, masih muncul pertanyaan dalam dirinya:

Mengapa Al-Quran, wahyu Alloh yang diturunkan melalui Rasululloh Muhammad, menggunakan bahasa Arab sebagai mediatornya?

Mengapa bukan Bahasa Inggris, yang notabene saat ini merupakan bahasa terbesar di dunia? Atau Bahasa Indonesia, atau Bahasa Jawa?

Pada prinsipnya pastilah Alloh yang Maha Sempurna mempunyai alasan yang bagus mengenai masalah ini, yang di luar kemampuan dan pengetahuan kita. Namun artikel berikut ini mudah-mudahan dapat sedikit menjawab pertanyaan di atas. Artikel ini penulis kutip dari artikel “tanya jawab ustadz” di situs eramuslim.com dengan sedikit modifikasi, dengan tujuan efisiensi tempat, namun insya Alloh tidak mengurangi isinya. Semoga bermanfaat.

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wa barakatuh

Mengapa Al-Qur’an berbahasa Arab?

Alasannya pastilah terkait dengan karakteristik Al-Qur’an itu sendiri, sehingga bahasa lain dianggap tidak layak digunakan oleh Al-Qur’an . Maka untuk menjawabnya, kita perlu tahu karakteristik Al-Qur’an itu sendiri.

1. Al-Qur’an untuk Semua Manusia

Berbeda dengan kitab suci agama sebelum Islam yang diperuntukkan khusus kepada kalangan terbatas , Al-Qur’an diperuntukkan untuk seluruh makhluk melata yang bernama manusia. Maka bahasa yang digunakan Al-Qur’an haruslah bahasa yang punya posisi strategis bagi semua bangsa manusia. Dan bahasa itu adalah bahasa arab dengan sekian banyak alasannya. Di antaranya:

a. Bahasa arab adalah bahasa tertua di dunia.

Sebagian ahli sejarah bahasa mengatakan bahwa Nabi Adam as dan istrinya Hawwa adalah manusia yang pertama kali menggunakan bahasa Arab . Sebab mereka diciptakan di dalam surga, dimana ada dalil yang menyebutkan bahwa bahasa penduduk surga adalah bahasa arab. Ketika Adam as menjejakkan kaki pertama kali di permukaan planet bumi, maka bahasa yang dilafadzkannya tentu bahasa arab.

Kalau kemudian anak-anak Adam berkembang biak dan melahirkan jutaan bahasa yang beragam di muka bumi, semua berasal dari bahasa arab. Jadi bahasa arab memang induk dari semua bahasa yang dikenal umat manusia. Wajar pula bila Al-Qur’an yang diperuntukkan untuk seluruh umat manusia menggunakan bahasa yang menjadi induk semua bahasa umat manusia.

b. Bahasa Arab Paling Banyak Memiliki Kosa Kata

Sebagai induk dari semua bahasa di dunia dan tetap digunakan umat manusia hingga hari ini, wajar pula bila bahasa Arab memiliki kosa kata dan perbendaharaan yang sangat luas dan banyak. Bahkan para ahli bahasa Arab menuturkan bahwa bahasa Arab memiliki sinonim yang paling menakjubkan . Kata unta yang dalam bahasa Indonesia hanya ada satu padanannya, ternyata punya 800 padanan kata dalam bahasa arab, yang semuanya mengacu kepada satu hewan unta. Sedangkan kata ‘anjing’ memiliki 100-an padanan kata.

Fenomena seperti ini tidak pernah ada di dalam bahasa lain di dunia ini. Dan hanya ada di dalam bahasa arab, karena faktor usia bahasa arab yang sangat tua, tetapi tetap masih digunakan sebagai bahasa komunikasi sehari-hari hingga hari ini. Dengan alasan ini maka wajar pula bila Alloh SWT memilih bahasa arab sebagai bahasa yang dipakai di dalam Al-Qur’an.

2. Al-Qur’an Berlaku Sepanjang Masa

Berbeda dengan kitab suci agama lain yang hanya berlaku untuk masa yang terbatas , Al-Qur’an sebagai kitab suci diberlakukan untuk masa waktu yang tak terhingga, bahkan sampai datangnya kiamat. Maka bahasa yang digunakan Al-Qur’an haruslah bahasa yang tetap digunakan oleh umat manusia sepanjang zaman.

Kenyataannya, sejarah manusia belum pernah mengenal sebuah bahasa pun yang tetap eksis sepanjang sejarah . Setiap bahasa punya usia, selebihnya hanya tinggal peninggalan sejarah. Bahkan bahasa Inggris sekalipun masih mengalami kesenjangan sejarah. Maksudnya, bahasa Inggris yang digunakan pada hari ini jauh berbeda dengan bahasa yang digunakan oleh orang Inggris di abad pertengahan. Kalau Ratu Elizabeth II masuk ke lorong waktu dan bertemu dengan ‘mbah buyut’-nya, King Arthur, yang hidup di abad pertengahan, mereka tidak bisa berkomunikasi, meski sama-sama penguasa Inggris di zamannya. Mengapa?

Karena meski namanya masih bahasa Inggris, tapi kenyataannya bahasa keduanya jauh berbeda. Karena setiap bahasa mengalami perkembangan, baik istilah maupun grammar-nya. Setelah beratus tahun kemudian, bahasa itu sudah jauh mengalami deviasi yang serius.

Yang demikian itu tidak pernah terjadi pada bahasa Arab. Bahasa yang diucapkan oleh nabi Muhammad SAW sebagai orang arab yang hidup di abad ke-7 masih utuh dan sama dengan bahasa yang dipakai oleh Raja Abdullah, penguasa Saudi Arabia di abad 21 ini. Kalau seandainya keduanya bertemu dengan mesin waktu, mereka bisa ‘ngobrol ngalor ngidul’ hingga subuh dengan menggunakan bahasa arab.

Dengan kenyataan seperti ini, wajarlah bila Alloh SWT memilih bahasa arab sebagai bahasa Al-Qur’an Al-Kariem yang abadi. Kalau tidak, boleh jadi Al-Qur’an sudah musnah seiring dengan musnahnya bahasanya.

3. Al-Qur’an Mengandung Informasi yang Padat

Diantara keistimewaan bahasa arab adalah kemampuannya menampung informasi yang padat di dalam huruf-huruf yang singkat. Sebuah ungkapan yang hanya terdiri dari dua atau tiga kata dalam bahasa arab, mampu memberikan penjelasan yang sangat luas dan mendalam. Sebuah kemampuan yang tidak pernah ada di dalam bahasa lain.

Makanya, belum pernah ada terjemahan Al-Qur’an yang bisa dibuat dengan lebih singkat dari bahasa arab aslinya. Semua bahasa umat manusia akan bertele-tele dan berpanjang-panjang ketika menguraikan isi kandungan tiap ayat. Sebagai contoh, lafadz ‘ain dalam bahasa arab artinya ‘mata’, ternyata punya makna lain yang sangat banyak. Kalau kita buka kamus dan kita telusuri kata ini, selain bermakna mata juga punya sekian banyak makna lainnya. Di dalam kamus kita mendapati makna lainnya, seperti manusia, jiwa, hati, mata uang logam, pemimpin, kepala, orang terkemuka, macan, matahari, penduduk suatu negeri, penghuni rumah, sesuatu yang bagus atau indah, keluhuran, kemuliaan, ilmu, spion, kelompok, hadir, tersedia, inti masalah, komandan pasukan, harta, riba, sudut, arah, segi, telaga, pandangan, dan lainnya.

Bahasa lain tidak punya makna yang sedemikian padat yang hanya terhimpun dalam satu kata dan hurufnya hanya ada tiga. Dan wajar pula bila Alloh SWT berkenan menjadi bahasa arab sebagai bahasa untuk firman-Nya yang abadi.

4. Al-Qur’an Harus Mudah Dibaca dan Dihafal

Sesuai dengan fungsi Al-Qur’an yang salah satunya sebagai pedoman hidup pada semua bidang kehidupan, Al-Qur’an harus berisi beragam materi dan informasi sesuai dengan beragam disiplin ilmu. Dan kita tahu bahasa dan istilah yang digunakan di setiap disiplin ilmu pasti berbeda-beda. Dan sangat boleh jadi seorang yang ahli di dalam sebuah disiplin ilmu akan menjadi sangat awam bila mendengar istilah-istilah yang ada di dalam disiplin ilmu lainnya.

Dan kalau beragam petunjuk yang mencakup beragama disiplin ilmu itu harus disatukan dalam sebuah kitab yang simpel, harus ada sebuah bahasa yang mudah, sederhana tapi tetap mengandung banyak informasi penting di dalamnya. Bahasa itu adalah bahasa Arab. Karena bahasa Arab mampu mengungkapkan beragam informasi dari beragam disiplin ilmu, namun tetap cair dan mudah dimengerti. Dan saking mudahnya, bahkan bisa dihafalkan di luar kepala.

Salah satu karakteristik bahasa Arab adalah mudah untuk dihafalkan, bahkan penduduk gurun pasir yang tidak bisa baca tulis pun mampu menghafal jutaan bait syair. Dan karena mereka terbiasa menghafal apa saja di luar kepala, sampai-sampai mereka tidak terlalu butuh lagi dengan alat tulis atau dokumentasi. Kisah cerita yang tebalnya berjilid-jilid buku, bisa digubah oleh orang arab menjadi jutaan bait puisi dalam bahasa arab dan dihafal luar kepala dengan mudah. Barangkali fenomena ini menjadi salah satu faktor yang menyebabkan tulis menulis kurang berkembang di kalangan bangsa arab saat itu. Buat apa menulis, kalau semua informasi bisa direkam di dalam otaknya?

Maka sangat wajar kalau Alloh SWT menjadikan bahasa arab sebagai bahasa Al-Qur’an.

5. Al-Qur’an Harus Indah dan Tidak Membosankan

Salah satu keunikan bahasa arab adalah keindahan sastranya tanpa kehilangan kekuatan materi kandungannya. Sedangkan bahasa lain hanya mampu salah satunya. Kalau bahasanya indah, kandungan isinya menjadi tidak terarah. Sebaliknya, kalau isinya informatif maka penyajiannya menjadi tidak asyik diucapkan.

Ada sebuah pintu perlintasan kereta api yang modern di Jakarta. Setiap kali ada kereta mau lewat, secara otomatis terdengar rekaman suara yang membacakan peraturan yang terkait dengan aturan perlintasan kereta. Awalnya, masyarakat senang mendengarkannya, tapi ketika setiap kali kereta mau lewat, suara itu terdengar lagi, maka orang-orang menjadi jenuh dan bosan. Bahkan mereka malah merasa terganggu dengan rekaman suara itu. Ada-ada saja komentar orang kalau mendengar rekaman itu berbunyi secara otomatis.

Tapi lihatlah surat Al-Fatihah, dibaca orang ribuan kali baik di dalam shalat atau di luar shalat, belum pernah ada orang yang merasa bosan atau terusik ketika diperdengarkan. Bahkan bacaan Al-Qur’an itu begitu sejuk di hati, indah dan menghanyutkan. Itu baru pendengar yang buta bahasa arab. Sedangkan pendengar yang mengerti bahasa arab, pasti ketagihan kalau mendengarnya.

Tidak ada satu pun bahasa di dunia ini yang bisa tetap terdengar indah ketika dibacakan, namun tetap mengandung informasi kandungan yang kaya, kecuali bahasa arab. Maka wajarlah bila Alloh SWT berfirman dengan bahasa arab.

Apa yang kami sampaikan ini baru sebagai kecil dari sekian banyak hikmah diturunkannya Al-Qur’an dengan bahasa arab. Kita tidak tahu apa jadinya bila Al-Qur’an ini tidak berbahasa arab. Mungkin bisa jadi Al-Qur’an hanya ada di musium saja.

وَلَوْ جَعَلْنَاهُ قُرْآناً أَعْجَمِيّاً لَّقَالُوا لَوْلَا فُصِّلَتْ آيَاتُهُ أَأَعْجَمِيٌّ وَعَرَبِيٌّ قُلْ هُوَ لِلَّذِينَ آمَنُوا هُدًى وَشِفَاء وَالَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ فِي آذَانِهِمْ وَقْرٌ وَهُوَ عَلَيْهِمْ عَمًى أُوْلَئِكَ يُنَادَوْنَ مِن مَّكَانٍ بَعِيدٍ

Dan jikalau Kami jadikan al-Quran itu suatu bacaan dalam bahasa selain Arab, tentulah mereka mengatakan, “Mengapa tidak dijelaskan ayat-ayatnya?… . [QS. Fushshilat: 44]

Wallohu a’lam bish-showab, Wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wa barakatuh

Responses

  1. alhamdulillah bermanfaat sekali suguhan bacaan ini….semoga tidak sampai disini saja tapi terus menerus berkarya, amin

    Alhamdulillah, artikelnya dapat memberikan manfaat bagi pembaca sekalian. Doakan agar tetap istiqomah…

  2. subhanallah maha suci allah… sangat bermanfaat

  3. subhanallah semuanya logic dan benar
    maha suci Allah

    iya, salah satu kriteria kebenaran adalah dia bersifat logis, atau bisa diterima akal sehat.

  4. Subhanallah, Maha Suci ALLAH dengan segala firman-Nya.
    Sungguh bermanfaat & sungguh sangat bisa diterima oleh akal manusia.

  5. Subhalanallah bagus banget..artikelnya..
    kata dosen bhs arab saya bahkan akhiran huruf dalam Al Qur’an memiliki makna..
    misalnya surat al ikhlas yang akhiran/rimanya selalu huruf /dal/ yang merupakan huruf qolqolah/mantul jadi menolak.. sehingga surat al ikhlas adalah untuk menolak Sesembahan2 lain selain Allah SWT..
    masih banyak lagi loh klo dikaji..
    karena artikel ini bagus boleh ya ana copy..
    syukran
    wassalamu’alaykum

  6. pokoke sipp. mau dilihat lewat mana juga Al Qur’an itu gak bakalan ngecewain. Kalamullah kok dilawan…
    kalau ada orang yang meragukan Al Aqur’an itu menunjukkan kekurang-akal(ajar)an dia. ditunjukin kebaikan Al Qur’an kok gak bisa nerima. malah maidu…(mendustakan) wo…awassssss…

    buat semua, baca Qur’an setiap hari yukkkk. jangan ngeblog mulu…
    sorry ikut promosi Al Qur’an di sini. (Qur’an kok pake promosi)

    >>>ayukkkk!!!

  7. tlg dong ana mau rujukan2nya

  8. bagus

  9. Subhanallah,,,
    Kata guru saya, bahkan Nabi Khidir, sang nabi penguji, hanya diberi satu huruf yang menjadi ilmu baginya, yakni huruf “Qaf” saja. Dan katanya lagi, tidak benar jika Nabi Nuh membuat perahu, karena ia bukan tukang, dan tidak memiliki samasekali alat pertukangan. Mu’jizat yang diberikan Allah kepada Nabi Nuh adalah huruf “Ba” yang kemudian menjadi bahtera bagi Nuh dan pengikutnya. Wallahualam,,,

  10. Saya belum pernah meneliti, tapi konon al-Qur’an juga memiliki keseimbangan kata. Jumlah kata “neraka” di dalam al-Qur’an sama banyaknya dengan kata “surga”, jumlah kata orang beriman sama banyaknya dengan kata kafir atau kufur, dan musim panas dan musim dingin sama banyaknya, masing-masing disebutkan satu kali. Wallahu’alam.

  11. Bismillahirrahmanirrahim.

    Saya setengah yakin, apakah Rasulullah benar-benar Nabi yang tidak bisa membaca, mengingat bangsa Arab pada masa itu sedang keranjingan membuat syair-syair, adalah merupakan hal menarik yang perlu dikaji. Saya belum sempat menanyakan hal ini kepada guru-guru hakiki, namun satu hal yang pasti adalah, al-Qur’an itu diturunkan ke dalam dada Muhammad, kemudian dibahasakan oleh Muhammad dengan bahasa manusia, yakni bahasa Arab, karena Nabi adalah bangsa Arab. Jadi malaikat Jibril tidak datang kepada Muhammad bukan menenteng sebuah buku catatan atau kertas yang bertuliskan ayat-ayat al-Qur’an, karena pada masa Rasulullah al-Qur’an itu hanya dihapalkan dan belum ditulis.

  12. Kita tahu bahwa Rasulullah menulis surat kepada raja-raja untuk mengajak mereka masuk Islam, jadi kemungkinan kata Iqra dan ummi bermakna ganda, mengingat tulisan di atas menjelaskan banyaknya perbendaharaan kata dalam bahasa Arab. Al-Qur’an mengatakan bahwa Nabi Isa telah mengabarkan kedatangan seorang Nabi yang ummi, sehingga saya semakin ragu, apa maknanya kata “buta huruf” dibesar-besarkan? Untuk sementara saya berpendapat, kemungkinan kata “ummi” memiliki kaitan dengan kata “Tauhid” [Syir]. Wallahu’alam.

  13. Ada hal menarik lain, bahwa seorang guru hakiki pernah berkata, janganlah engkau membaca [mengzahirkan] ayat-ayat al-Qur’an ketika bertemu syaitan, sebab syaitan tidak akan lari, sebaliknya, syaitan akan takjub mendengarnya. Kemudian guru itu berkata, ucapkanlah salam jika bertemu yang ghaib, “Salamun’alaikum bimasabartum”, jika ia sesuatu yang tidak baik, ia akan bergegas pergi; jika kamu yakin itu adalah makhluk yang tidak baik, maka diamlah berzikir dalam hati, karena di dalam dirimu ada tsir yang menjadi kekuatan dan mereka tidak menyukai orang yang mengtauhidkan zikirnya, atau ucapkanlah dalam hatimu, Subhanakallahumma waminallah Allahuakbar, tapat pada kata Allahuakbar, tunjuklah dirinya dengan telunjuk kananmu. Wallahu’alam.

  14. Kemudian sang guru melanjutkan, jika ia menjawab salam kamu maka ia adalah sesuatu yang baik. Jika kamu takbir dalam hati sambil menunjuknya maka sesuatu yang jahat pasti hancur. Kemudian saya bertanya, mengapa harus ditauhidkan dalam hati? Sang guru menjawab, jika dizahirkan maka ia tidaklah menjadi kekuatan, karena kekuatan itu ada di dalam dirimu, dan bangsa jin akan merampas sesuatu yang baik yang keluar dari mulutmu dan membawanya kepada dukun-dukun. Wallahu’alam

  15. Lalu sang guru mengingatkan, kamu telah melakukan kemusyrikan yang paling besar jika kamu takut kepada syetan atau bangsa jin. Jin sangat menyukai ritual yang menggunakan sesaji-sesaji, begitu pula makanan yang diupacarakan dengan ritual doa-doa, sekalipun menggunakan bacaan al-Qur’an, namun jin tetap berkumpul mengelilingi dan menjilati makanan-makanan tersebut, maka janganlah engkau menyentuhnya apalagi memakannya. Wallahu’alam.

  16. Dan jin itu suka memperdayai manusia, mengubah dirinya menyerupai binatang sesuai sifat yang ada dalam dirinya, bahkan jin itu mampu mengubah dirinya sehingga tampak seperti roh orang yang sudah mati, kemudian menyesatkan keluarga orang yang sudah mati tersebut. Maka perbanyaklah berzikir mengingat Allah di dalam hati. Di dalam al-Qur’an, banyak zikir-zikir yang diajarkan Allah kepada kita. Di mana pun, jika mendengar ayat-ayat suci al-Qur’an dibacakan, maka diam dan perhatikan, jika tidak, maka hukumnya berdosa,,, wallahu’alam

  17. “Kami turunkan al-Qur’an dalam bahasa Arab supaya kamu dapat memahaminya” (Q.S. Yusuf: 12)

    Alam semesta ini juga dikatakan sebagai ayat-ayat Allah. Al-Qur’an merupakan ketetapan Allah yang dibahasakan ke dalam bahasa manusia agar mudah dipahami.

    “Tidak akan terjadi suatu musibah di bumi ini, dan demikian tidak akan terjadi pada diri kamu, melainkan sudah tertulis [ditetapkan] dalam kitab sebelum Kami wujudkan kejadian-kejadian tersebut. Sesungguhnya yang demikian itu mudah bagi Allah” (Q.S. al-Hadid 57: 22)

    “Dan Kami tidak pernah mengajarkan syair kepada Muhammad karena itu tidak layak baginya [karena] al-Qur’an itu tak lain merupakan pengajaran-pengajaran [bimbingan] dari Tuhan dan bacaan yang berintikan penerangan yang menjelaskan” (Q.S. Yaa Siin: 69)

  18. Begitu kompleksnya sehingga kunci-kunci perbendaharaan tentang ilmu bumi, hukum sebab akibat, sejarah, ilmu agama, rahasia alam semesta, alam akhirat, jin, malaikat, dsb. dirangkum di dalam al-Qur’an, hingga sedetail- detailnya dalam kalimat dan hikmah serta rahasia atau balagah yang terkandung di dalam ayat demi ayat, kata demi kata dan huruf demi huruf.

  19. Iman dan ilmu haruslah seimbang. Meskipun iblis adalah ahli ibadah dan beriman kepada Allah namun iblis tidak dapat memahami ayat-ayat Allah sehingga melahirkan keangkuhan dalam dirinya. Hal demikian terjadi pada orang yang merasa pintar, karenanya ilmunya telah cukup, sehingga Allah tidak menambahkan lagi ilmu itu kepadanya. Allah menutup pintu hatinya dikarenakan kesombongannya sehingga cahaya kebenaran tidak dapat masuk ke hatinya. Padahal Allah telah berfirman, bahwa ilmu yang diberikan-Nya itu hanya sediki saja. Belum lagi ia memahami separuh dari ilmu yang sedikit itu maka ia menjadi sombong.

  20. Bismillahirrahmanirrahim.

    Al-Fatihah, selain disebut “tujuh ayat yang berulang-ulang”, ia juga dijuluki “UMMUL QUR’AN” atau “Induk” Kitab Suci al-Qur’an, membukakan hati saya bahwa julukan Nabi yang “Ummi”, secara harfiah bermakna “Ibu”, bukan “buta huruf”. Namun makna “Ummi” yang sebenarnya adalah “Pelindung” rahmat bagi sekalian alam, atau “Pemimpin”. Menurut saya, kata “Ummi” sepadan dengan kata “Adon” yang ada di dalam Kitab Mazmur 111, yang dikutip oleh Penginjil Matius (22: 44), Markus (12: 36), dan Lukas (20: 42), ketika Daud berkata, “YaHWaH [Tuhanku] berkata kepada Adon-ku”, yang juga terdapat di dalam Kitab Malachi pasal 3 ayat 1: “Dia adalah Adonai yang engkau inginkan, dan pesuruh yang dijanjikan.”

  21. Akan saya ulang kembali agar dapat dipahami oleh kaum muslim yang tidak memahami Bibel, bahwa kaum Yahudi meyakini jika Mesias akan lahir dari keturunan Daud atau “Anak Daud”. Namun hal ini disanggah oleh Yesus dalam Matius pasal 22, dengan ungkapan yang menyangkal. Kata Yesus, “Bagaimana mungkin Daud memanggilnya Adon-ku [Tuanku] sementara ia adalah anaknya?” yang bermakna, Mesias tidak mungkin Anak Daud, sebab Daud menyebutnya Tuanku. Artinya, bahwa Mesias adalah tuan atau pemimpinnya Daud, dan Daud tidak mungkin memiliki pemimpin pada masanya karena dia adalah seorang raja. Menurut Injil Barnabas, pernyataan Yesus inilah yang menyulut amarah imam-imam Yahudi.

  22. Menurut Abdul Ahad Daud, Kata “Adon” berarti “Pemimpin, Tuan, Pemilik”, atau sama dengan kata benda bahasa Arab dan Turki, “Amir, Sayyid, dan Agha”. Adon merupakan lawan kata dari “prajurit, budak, dan barang milik” (Muhammad in the Bible). Tapi sekarang kita tambah padanan kata dari “Adon”, yaitu “Ummiy”. Mari kita aminkan (benarkan). Ameen,,,

  23. “[Orang-orang beriman] telah MENGIKUTI Rasul, seorang Nabi yang UMMI, yang namanya mereka dapati tertulis dalam Taurat dan Injil. (Q.S. al- A’raaf: 157).

    Kita sudah ketahui bahwa “Adon” berarti “Pemimpin, Tuan, Sayyid”, dan seorang Pemimpin pasti memiliki pengikut, maka ayat di atas semakin mengukuhkan kita bahwa kata “Ummi” sangat sinonim dengan “Adon.” Perhatikan keserasian anonim pada kata yang diberi huruf besar, sangat sempurna, pemimpin orang-orang yang beriman. Selanjutnya, ayat 158 semakin mempertegas, “Katakanlah (hai Muhammad): ‘Hai seluruh umat manusia, sesungguhnya aku Rasul Allah atas kamu semuanya.'”

  24. “Semua perbendaharaan yang tersembunyi di langit dan di bumi telah tertulis dalam kitab yang terang. Sesungguhnya al-Qur’an ini banyak menceritakan kepada Bani Israil tentang hal-hal yang mereka perselisihkan. Dan sesungguhnya al-Qur’an adalah petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman” (Q.S. An Naml: 75- 77)

  25. “Dan agar aku mendakwahkan al-Qur’an [kepada manusia]. Siapa yang mendapat petunjuk, maka itu untuk kebaikan dirinya sendiri. Dan siapa yang sesat, maka katakanlah, ‘Sesungguhnya aku hanya salah seorang yang memberikan peringatan.'” (QS. An Naml: 92)

  26. Maksud kata “baca” di dalam al-Qur’an memilili tiga pengertian. Pertama, sebagai dakwah; kedua, sebagai bacaan shalat (Q.S. al-Qiyamah: 16- 18, dsb.); dan ketiga sebagai pengkajian ilmu. Sabda Rasulullah, “Janganlah engkau membaca al-Qur’an jika tidak dapat mengambil manfaatnya [dari yang kamu baca itu]“. Yasinan adalah perkara bid’ah. Jika hanya sekedar ingin mengkaji, mangapa harus surah Yaa Sin saja? Rasulullah hanya menganjurkan kita membisikkan Surah Yaa Siin di telinga orang-orang yang menghadapi sakratul maut. Anehnya, justru ada yang tidak memahami hikmah, rahasia di balik orang yang sekarat, justru membaca Surah Yaa Siin di rumah orang yang sudah meninggal.

  27. “Jika mayat telah dikuburkan maka semua urusan telah selesai”, artinya bahwa Nabi tidak menghendaki adanya perkara-perkara bid’ah. Peringatan hari ketiga, ketujuh, keempat puluh, dst. bagi orang yang sudah mati adalah bid’ah dan bukan ajaran Islam, melainkan warisan dari agama-agama kepercayaan pra-Islam. “Ikhlas” menerima ketentuan Allah, maka berduka hanya dibenarkan selama tiga hari. Menguburkan orang mati adalah perkara yang wajib disegerakan, jika tidak, maka akan menjadi siksaan bagi mayyit dan arwahnya. Disamping itu, arwah akan dikembalikan ke tubuhnya untuk ditanyai, maka juga merupakan siksaan yang berat jika tubuh mayat mulai rusak. Apakah mayyit ditanyai atau tidak ditanya lagi karena ketakwaan dan ilmu agamanya adalah perkara ghaib yang menjadi urusan Allah. Namun lebih sering kita temui, kepentingan perasaan yang masih hidup lebih diutamakan daripada kepentingan mayyit, sehingga penguburannya tertunda, hanya karena ada salah satu keluarganya yang belum hadir. Masyaallah!

  28. Tidak ada bid’ah ini dan bid’ah itu, karena hal-hal yang berhubungan dengan ibadah, dan sifatnya samar-samar adalah bid’ah, dan Nabi bersabda, “Bid’ah itu sesat!”, tanpa pernah mengelompokkannya.” Perkara-perkara di luar ibadah, cara menyikat gigi, berpakaian, dan hal-hal yang berhubungan dengan sains dan teknologi, selama dalam batas yang tidak melanggar hak orang lain dan asusila, tidak bisa dikategorikan sebagai bid’ah, karna Nabi bersabda, “Ikutilah samanmu.”

  29. Judul buku: 147 ILMUWAN TERKEMUKA DALAM SEJARAH ISLAM. Setelah kemunculan Islam, al-Qur’an benar-benar menjadi sumber ilmu pengetahuan di muka bumi. Salah satu ilmuwan Islam yang terkenal adalah Ave Cinna atau Ibnu Sina.

  30. terus bagaimana mas dengan ayat-ayat al qur’an yang berisikan do’a yang ditujukan kepada kaum mu’min apakah ini juga bid’ah, dan bagaimana dengan do’a pada waktu mensholatkan jenazah disitu juga ada doa untuk orang yang telah mati, apakah ini juga bid’ah, bagaimana dengan bacaan yang dibaca didalam takhiyat awal dan akhir yang mendoakan kaum sholeh, apakah ini jg bid’ah mas ? terus yang g bid’ah bgm ya ???
    saya kira orang yang melakukan hal2 yang mas anggap bid’ah juga punya dasar dan pegangan yang bisa dipertanggungjawabkan. jadi menurut saya, apa yang kita yakini kita jalankan dan apa yang mas yakini mas jalankan. mas selidiki dulu semua amal ibadah yang mas lakukan selama ini apakah tidak ada yang mengandung bid’ah, jangan2 mas jg melakukan bid’ah tanpa mas sadari, he he he

    >>> Memang perkara ibadah dan bid’ah memerlukan kajian yang rumit. Namun pada intinya, ibadah harus punya dasar yang kuat sebelum dilaksanakan. Kita, masing-masing individu, harus punya dalil yang cukup sebelum melaksanakan suatu ritual ibadah, jangan dibiasakan hanya ikut-ikut orang lain semata. Mengenai hal ini, mungkin artikel “Apakah Amalku Diterima?” bisa membantu memecahkan masalah ini. Wallohu a’lam.

  31. [...] (…mengenai alasan mengapa Alquran diturunkan dalam bahasa Arab, bisa dibaca di artikel “Alquran-Arab“…). Nah, mau tidak mau, suka ataupun tidak suka, tidak ada jalan kita sebagai umat Islam harus [...]

  32. SUBHANALLAH , ALHAMDULILLAH…..LA HAULA WALA QUWWATA ILLA BILLAH….

  33. Kalau mau benar ikuti Al-qur’an dan sunnah nabi. jgn mengikuti nenek moyangmu,,,,,bagi kaum yang berfikir,islam itu mudah.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 49 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: