Oleh: zuhudhi | 25 Maret 2008

Menghitung Tengah Malam dan Sepertiga Malam yang Akhir

Menghitung Tengah Malam dan Sepertiga Malam yang Akhir

Pendahuluan:

Kita, dalam kehidupan sehari-hari sering mendengar istilah “Tengah Malam”. Di dalam Islam kita mengenal istilah “Sepertiga-Malam-Terakhir”. Istilah ini berhubungan dengan ibadah sholat qiyamul lail atau sholat tahajjud, yang disyariatkan. Nah, pada pukul berapakah tepatnya istilah-istilah tersebut berada? Apakah istilah pertengahan malam, bila ditinjau dari syariat Islam, ditunjukkan dengan angka 12 di jam kita? Kalau tidak, bagaimana pula cara menentukannya? Barangkali juga muncul pertanyaan, apakah waktu sepertiga-malam-terakhir itu ajeg setiap harinya, ataukah berubah-ubah, atau bagaimana? Penjelasan di bawah ini diharapkan mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan tadi. Insya Alloh mudah dan sederhana.

Bagaimana kita menentukan pertengahan malam:

Pertama-tama, kita tentukan dulu waktu tenggelamnya matahari dan waktu terbit fajar.

Kemudian kita hitung jarak waktu antara keduanya.

Kemudian hasilnya kita bagi dua .

Lalu hasil pembagian tersebut kita tambahkan waktu tenggelamnya matahari.

Maka hasil dari penambahan tersebut adalah waktu pertengahan malam.

Secara matematis digambarkan berikut ini.

Waktu Tengah Malam =

Wkt Tenggelam Matahari + [ (Wkt Terbit Fajar – Wkt Tenggelam Matahari) / 2 ]

Misalnya, jika waktu tenggelamnya matahari adalah pukul 18.00 dan waktu terbit fajar esok hari adalah pukul 05.00, maka jarak waktu antara keduanya setelah kita hitung adalah 11 jam. Waktu 11 jam ini kita bagi menjadi dua, maka hasilnya adalah 5 jam 30 menit. Kemudian hasil pembagian tersebut kita tambahkan kepada waktu matahari tenggelam, maka 18.00 + 5.30 = 23.30, maka jadilah waktu pertengahan malam adalah 23.30 (pukul setengah 12 malam, -zuh).

Bagaimana kita menentukan sepertiga malam yang akhir:

Kita cari dulu selisih perbedaan waktu antara waktu matahari tenggelam dengan waktu fajar terbit sebagaimana di atas. Lalu hasilnya kita bagi tiga.

Jadi, pukul 18.00 + (11 jam / 3) = 18.00 + 3 jam 40 menit = pukul 01.20.

Hasil pembagian tersebut kemudian dipakai untuk mengurangi waktu terbit fajar keesokan hari (dalam contoh ini waktu terbit pukul 05.00).

Jadi, pukul 05.00 – (11 jam / 3) = 05.00 – 3 jam 40 menit = pukul 01.20.

Maka permulaan sepertiga malam yang akhir adalah pada pukul 01.20 pagi (dini hari).

Waktu ini tidaklah tetap, akan tetapi akan berubah-ubah dari satu musim ke musim yang lain, tergantung waktu terbit fajar dan tenggelamnya matahari.

Keutamaan sholat pada sepertiga malam yang akhir.

Dari Abu Huroiroh, bahwa Rosululloh sholallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Robb kami tabarroka wa ta’ala turun pada setiap malam ke langit dunia (terendah), yaitu saat tertinggal sepertiga malam yang akhir. Dia berfirman: “Siapa yang berdo’a kepadaKu akan Kukabulkan, siapa yang meminta kepadaKu akan Kupenuhi, dan siapa yang meminta ampun kepada Ku akan Kuampuni.” (HR. Bukhori Muslim)

Disadur dari:

Majalah Qiblati edisi 04 tahun III 01-2008/12-1428 dengan pengeditan seperlunya.

Keyword: Tahajud, sholat malam, salat, solat.

About these ads

Responses

  1. Assalamu’alaikum warahmatulloh wabarokatuh, makasih mas tomi, saya jadi tau gimana cara menghitung sepertiga malam terakhir untuk pelaksanaan QL. Syukron
    Wassalamu’alaikum warahmatulloh Wabarokatuh..

    Wa’alaikumsalam warohmatulloh wabarokatuh. Sama-sama akh Dimas. Tolong informasikan hal ini kepada yang lain. Bisa jadi hanya sedikit umat muslim yang mengetahui hal ini. Jazakalloh.

  2. Assalamualaikum,

    Terimakasih artikelnya. Tentang penghitungan saya mau tanya, apa waktu “malam” bukan dihitung dari waktu Isya’ sampai waktu fajr/subuh? Karena, misalnya, walaupun sunnahnya di akhir malam, shalat tahajjud kan boleh juga di “sepertiga malam awal”, tapi tetap harus setelah shalat Isya’ kan.

    Di artikel waktu antara fajr dan “waktu matahari terbit” tidak dihitung waktu “malam” (saya setuju soal ini), tapi kenapa waktu antara maghrib dan Isya’ disebut “malam”?

    Waktu maghrib ada twilight–masih ada cahaya remang-remang di langit–yang kalau difoto trus eksposurnya pas, keliatan bagus birunya (subuh juga mirip tapi lebih keunguan–tentu dua-duanya keliatan jelas kalau langitnya cerah). Sementara kalau setelah Isya’ memang langitnya sudah benar-benar gelap.

    Tolong kasitau ya kalau ada update sumber yang lebih jelas lagi, saya juga masi nyari. Makasih.

    Wassalamualaikum

  3. Salam,

    tambahan dikit. Untungnya kalau dihitung Isya’ jam 7 pm dan Subuh 4.30 am, dapet angka “1/3 malam terakhir”nya sama: mulai 1.20 am.

    Nah sekarang tinggal bangunnya nih, saya target jam 2 dulu deh–doain ya. harus tidur lebih awal ya? Jam 9? Jam 8? 8.30 deh..

    Utk yang udah rajin bangun malem, doain kita ya yang pada mau ikutan… jazakumullah khairan katsira

    wassalamualaikum

  4. Assalamualaikum

    Misi Mas numpang tanya…
    Sejak kapan 18.00 + 3 jam 40 menit = pukul 01.20?? setahu saya 18.00 + 3 jam 40 menit = pukul 21.40, apa mungkin saya yang salah? mohon pencerahannya

    >>> Wa’alaikumussalam
    Anda benar Mas Ryo. Ada kesalahan dalam penulisan artikel saya di atas.

    Kalimat yang tertulis 18.00 + (11/3) = 18.00 + 3 jam 40 menit = 01.20

    seharusnya tertulis 05.00 – (11/3) = 05.00 – 3 jam 40 menit = 01.20

    Sepenuhnya kesalahan saya, yaitu pada saat pengetikan. Artikel aslinya, yang ada di Majalah Qiblati, tidak tertulis yang salah seperti itu. Baik, akan saya ralat, saya sertakan kalimat yang salah agar pembaca sebelumnya bisa menyadari kesalahan tulisan saya sebelum Anda koreksi. Harap maklum. Terima kasih. Syukron.

  5. Assalamualaikum

    cuma mu bilang makasih,,
    artikel nya mantabh

    >>> Wa’alaikumussalam warohmatulloh. Sama-sama, terima kasih juga Kang Ujang. Sering-sering mampir ke situs saya ini.

  6. wah, ternyata pertanyaan saya sudah terjawab…
    makasih mas ralatnya, karena setelah saya cari di sebelah ,ternyata penulisannya saya sama seperti itu…
    boleh tanya lagi kan mas?
    mengutip kalimat “Robb kami tabarroka wa ta’ala turun pada setiap malam ke langit dunia (terendah), yaitu saat tertinggal sepertiga malam yang akhir”. yang ingin saya tanyakan adalah, Mulai kapan seharusnya kita solat malam (tahajud)? sebelum sepertiga malam akhir atau pas di waktu malam akhir?

    >>> Sholat Tahajud (atau Tahajjud) adalah sholat sunah yang dilakukan pada malam hari setelah tidur terlebih dahulu, sebab arti Tahajud adalah bangun pada malam hari. Jadi, Tahajud bisa dilakukan kapan saja asal di malam hari dan setelah bangun tidur. Mengenai sepertiga malam yang terakhir, waktu tersebut (hanyalah) merupakan waktu yang paling afdhol (paling utama) dilakukannya Tahajud, berdasarkan hadits yang Anda kutip di atas.

  7. maaf ralat “karena setelah saya cari di sebelah ,ternyata penulisannya saya sama seperti itu” Seharusnya “karena setelah saya cari di sebelah ,ternyata penulisannya sama seperti itu”

  8. Assalamu’alaykum Wr Wb..
    akh, saya minta ijin ngopy nggiih…insya Allah mau tak sebarkan biar makin banyak orang yg tau.. Jazakallah khoir..

    >>> Nggiiih…. Monggo silakan saja. Asal jangan lupa menyertakan alamat blog saya ini. Syukron. Waiyyaka.

  9. Terimkasih bagus sekali artikelnya… posting juga di http://www.ceklagi.com/socialnews

  10. terimakasih dengan info ini, saya jadi tau cara menghitungnya…..sepertiga malam terakhir…

  11. saya sangat ingin melakukan shalat malam, tapi saya bekerja dari jam 8 pagi sampai jam 23 malam.

    Jadi pulang kerja sampe rumah jam 24, dan harus bangun lagi maks jam 5.30 (mengejar waktu subuh)…

    Sementara untuk persiapan kerja saya mulai jam 6 (mandi, sarapan, dll) agar bisa berangkat dari rumah jam 7.

    Bagaimana ya triknya supaya saya bisa shalat malam? karena waktu tidur saya hanya 5 jam/hari…

    >>> Hmmm… Trik dari saya sederhana: Anggaplah sholat malam sebagai sebuah kewajiban! atau dengan kata lain, anggaplah sholat malam itu penting!

    Mengapa demikian? Sebab selama ini Anda tidak melakukan sholat malam (padahal Anda ingin sekali melakukannya), bukan karena Anda tidak sempat, tetapi karena Anda belum/tidak mementingkan sholat malam!

    Coba Anda pikirkan, apakah ketika Anda (maaf) kebelet buang air besar, Anda akan tetap melakukan aktivitas lain, dan mengabaikan rasa kebelet Anda?? Jelas tidak mungkin. Anda pasti tetap akan menyempatkan untuk melakukan buang air besar di antara kepadatan aktivitas Anda. Ini karena Anda ‘terpaksa’ harus mementingkan buang air besar di atas kepentingan yang lainnya. Mengapa hal ini tidak diterapkan untuk melakukan sholat malam?! Tanyakan pada diri Anda sendiri. (Toh pastinya Anda juga menyempatkan diri untuk melakukan sholat-wajib 5 waktu di sela-sela kegiatan Anda sehari-hari, bukan? Perlakukanlah sholat malam seperti itu juga ‘kan bisa. Lagipula minimal roka’at/rekaat sholat malam adalah 2 rokaat, ditambah sholat witir minimal 1 rokaat, jumlahnya hanya 3 roka’at!, paling-paling hanya membutuhkan waktu sekitar 10 menit!).

    Wallohu a’lam. Baik, selamat melakukan sholat malam! :)

  12. IJIN NGOPI BUAT DISIMPEN DAN SHARE YA MAS, THANKS

    >>> silakan. Kalau di-share jangan lupa sumbernya disertakan. Syukron.

  13. pertanyaan saya terjawab sudah.
    syukran..
    ^^

  14. terima kasih utk artikelnya yg bermanfaat. teruslah berjuang :D
    wassalam

  15. nice artikel ^^

  16. makasih

  17. MEMANK SUSAH untuk SHLAT TAHAJUD BRO..PANTAS SAJA KALOQ ORANG NGELAKUINYA PASTI DAPAT RAHMAT DARI ALLAH…KARNA DIA BERSEDIA MENGORBANKAN TIDURNYAAA dengan ibadah kepada Allah..PASTINYA ALLAH BERBUAT LEBIH DARI YG DIA BUAT KE ALLAH..

  18. assalamu’alaikum wr…wb..
    saya baru saja gabung dan membaca,
    subhannallah,terimakasih krn mau berbagi ilmu islam,
    semoga kta semua selalu dpt syafaatNYA,Amiin yaa robbalalamin

  19. Assalamu’alækm?
    Wach… Sukron Z’ Atz inf0r5sinya… M0g’ bs jalani’n dgn bk. Amien?

  20. Terima kasih, Sukron

  21. bukanya sepertiga malam itu jam 02.30 malam. .
    Ko malah 1.20 malah yang bener yang mana eh. .

  22. [...] Majalah Qiblati edisi 04 tahun III 01-2008/12-1428 dengan pengeditan seperlunya oleh Zuhudhi [...]

  23. artikel yang bagus

  24. Assalamu’alaikum , saya mau tanya, apakah shalat isya’ itu lebih baik pada sepertiga malam terakhir dan di gabungkan dengan shalat tahajud?? saya masih bingung, tolong kirim jawabanya lewat email snitchcovlax@gmail.com

  25. Assalamu’alaykum,

    saya mau tanya untuk penghitungan waktu tengah malam di daerah-daerah berhari panjang. berdasar cara perhitungan di atas, saya coba aplikasikan pada kondisi waktu seperti berikut: jika waktu terbit fajar pukul 3.30 dan waktu tenggelam matahari pukul 19.30, maka waktu tengah malam = waktu tenggelam matahari + [(waktu terbit fajar - waktu tenggelam matahari)/2]
    = 19.30 + [16/2]
    = 03.30, jadi waktu tengah malam adalah pukul 03.30

    terimakasih, mohon koreksi jika ada kesalahan

    Wassalamu’alaykum

  26. Wa’alaikumussalam warohmatulloh. Mas/mbak bernet, rumusnya sudah benar namun angkanya masih kurang pas. Bilangan yg dibagi bukan 16, namun 8, karena jam 03.30 dikurangi 19.30 adalah 8 jam. Jadi, perhitungannya:
    waktu tengah malam = waktu tenggelam matahari + [(waktu terbit fajar - waktu tenggelam matahari)/2]
    = 19.30 + [8/2]
    = 23.30
    Waktu tengah malam-nya adalah pukul 11.30 malam. Begitu.
    Mudah-mudahan dipahami.

  27. […] Sumber : http://zuhud.wordpress.com/2008/03/25/menghitung-tengah-malam-dan-sepertiga-malam-yang-akhir/ […]

  28. Great work! This is the type of information that should be shared across the web.
    Disgrace on Google for no longer positioning this put up
    higher! Come on over and seek advice from my web site .

    Thank you =)

  29. Assalamu’alaikum
    Saya mau tanya apakah
    Waktu Tenggelam Matahari = waktu awal magrib
    Waktu Terbit Matahari = waktu awal subuh
    Mohon dibantu, karena jadwal sholat yang biasa kita temui dimasyarakat hanya jadwal 5 sholat waktu plus waktu imsyak.

    Wasalam

  30. Assalamualaikum wr.Wb
    mohon maaf nih saya ingin bertanya
    sebenarnya shalat tahajud itu harus sampai jam berapa ya

    mohon pencerahannya ya

    wasalamualaikum wr.Wb

  31. […] 1. Al Muntaqo min Kitaabi At Targhiib wa At Tarhiib lil Mundziri, Dr. Yusuf Al Qaradhawi, Darul Wafa, Al Manshuroh, Mesir, Cetakan ke-2 Tahun 1993 2. Majalah Qiblati Edisi 04 Tahun III 01-2008/12-1428 3. Malang Nian Orang Yang Tidak Shalat, Muhammad Abdul Malik Az Zaghabi, Penerjemah Abdul Rosyad Shiddiq, Pustaka Al Kautsar, Cetakan Pertama, Maret 2000 4. Pengembaraan Sang Duta Halilintar Jundullah, Taufiq Mustafa SE. MBA. 5. Sholaatul Mu’min, Dr. Sa’id bin ‘Ali bin Wahf Al Qahthani 6. Siyar A’lamin Nubala, Adz Dzahabi, Tahqiq Syu’aib Al Arna’uth, Mu’assasah Ar Risalah, Cetakan Ke-XI, Tahun 1422 H/2001 7. http://zuhud.wordpress.com/2008/03/25/menghitung-tengah-malam-dan-sepertiga-malam-yang-akhir/ […]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 49 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: