Sholat adalah perkara yang pertama dihisab pada hari kiamat. Akan tetapi sangat disayangkan banyak kaum muslimin yang belum memahami tatacara sholat yang sesuai dengan contoh Rosululloh sholallohu alaihi wassalam. Padahal beliau telah bersabda:
Sholatlah kalian sebagaimana (kalian) melihat aku sholat (HR Bukhori, Muslim, Ahmad)
Berikut ini beberapa foto yang menunjukkan kesalahan-kesalahan yang sering dilakukan oleh sebagian kaum muslimin:
Kesalahan dalam penempatan diri di dalam barisan sholat:
Kesalahan-kesalahan dalam bersujud:
Kesalahan di akhir sholat:
Dan berikut ini beberapa hal yang benar, yang kemungkinan sedikit dari kaum muslimin yang mengetahuinya:
Adapun mengenai hal-hal yang berhubungan dengan sholat dan tatacara pelaksanaannya, akan dibahas dalam artikel di kesempatan yang lain. Insyaa Alloh.
Sumber: VCD Sifat Sholat Nabi SAW oleh Al Markaz

assalamualaikum..
fren, gw bisa minta lewat japri gak ???di tempat gw gak kliatan..
trim ya…
Oleh: jenglot on 29 Agustus 2007
at 6:27 PM
assalamualaikum..
mau tanya dan mohon maaf,
apakah selama ini kalau saya sholat seperti gambar diatas sholat saya tidak diterima oleh Alloh…..?
seingat saya, saya berusaha sholat dengan segenap hati dan pikiran serta perasaan saya untuk berdialog dengan Alloh swt.
kadang2 saya tak perhatikan bagaimana posisi tangan saya bagaimana posisi siku saya bagaimana posisi telapak tangan saya,
tapi yg saya tau pasti…..pada saat sujud saya sujud ( tidak berkacak pinggang). pada saat rukuk saya rukuk (tidak jongkok) danseterusnya.
jadi intinya apakah lebih baik mempersalah salahkan orang sholat dari pada membahas esensi dari pada sholat itu sendiri….?
terimakasih….mohon maaf.
wassalamualaikum wr wb.
Oleh: abangan on 18 April 2008
at 1:49 PM
assalamu’alaikum wr wb.
terimakasih atas pencerahan nya…. saya senang sekali dengan penjelasan bapak zuhudhi yang secara gamblang menjelaskan masalah ini.
jelas sekali Rosulullah SAW adalah panutan hidup saya, saya mencintai Beliau setelah Alloh SWT.
saya kurang tahu apakah amalan sholat yg saya lakukan selama ini menjadi percuma atau tidak…(mudah mudahan sih tidak) … yang jelas dengan sholat saya berusaha menjauhi perbuatan keji dan munkar. semoga saya bisa istiqomah menjalankannya.
tapi saya tidak bermaksud menciptakan sendiri gerakan gerakan baru dalam sholat seperti yang disebutkan bapak zuhudhi.
dan Astaghfirullaa hal’adziem….
semoga saja saya tidak termasuk manusia yang munafik meskipun saja tumit saya tidak bersentuhan dengan jamaah disebelah saya…. semoga saja saya tidak menjadi umat yang munafik meskipun setelah sholat saya mengusapkan kedua telapak tangan saya ke muka saya. TT
sejak jatuhnya kejayaan islam andalusia… buku buku artikel sains, kedokteran dan segala ilmu pengetahuan telah disadur habis habisan dan diakui sebagai karya ciptaan mereka orientalis barat…. maka yang disisakan hanyalah buku buku soal berdoa memohon bersholat tadarus tajwid…. umat Islam sekarang hanya berkutat dalam hal masalah ini saja tiada habisnya, saling tuding menganggap kelompoknya paling benar. menyalahkan kelompok itu. tapi lupa bahwa membaca alqur’an tidak semata mata hanya membaca…. mencari ilmu dari alam juga termasuk membaca qur’an.
bagaimana sekarang kita telah dibuat tak berdaya. sepertinya kalau saja Rosulullah hidup dijaman ini tentu beliau menangis melihat umatnya.
wtf….saya sudah membaca kitab yang bapak referensikan dari al-albany….saya punya format pdf yg tersimpan di komputer saya.
yang berminat bia menghubungi email saya.
sekali lagi mohon maaf…. saya tetep saja senang mengunjungi situs ini….mungkin saya akan mereferensikan kepada beberapa teman saya. artikel-artikel yang lain sudah saya baca. dan bagus sekali semoga bapak mendapat catatan amal dari usaha ini. saya menunggu artikel selanjutnya.
sekali lagi mohon maaf jika saya salah berkata kata.
wassalamu’alaikum wr wb.
Oleh: abangan on 21 April 2008
at 4:56 PM
Kesalahan selanjutnya, bahwa fiqih golongan lain “Salah”.. “Fiqih-ku saja yang benar”
Oleh: erdosam on 28 April 2008
at 11:44 AM
saya orang gemk..mana bisa jari kaki kaki saya rapat ke orang…perut pinggang saya besar…bisa2 orang yg disamping saya jatuh..gimana?
Oleh: iwan on 2 Juli 2008
at 12:12 PM
Bisa kirim gambar sifat sholat nabi. Terima kash.
Oleh: Mas on 16 September 2008
at 6:20 AM
Ass. Wr. Wb.
Untuk sdr. Abangan, klo boleh saya mau minta di kirimin format pdf kitab yang anda punya. Semoga ALLAH SWT membalas budi baik anda.
email saya : yvan_mel@telkom.net
Oleh: MUH ERPHAND L on 24 September 2008
at 1:13 PM
Assalamu’alaikum
Terima kasih atas tulisannya,bermanfaat skali..
ijin mengcopynya ya mas
Semoga Allah membalasnya..
Oleh: iduy on 8 Oktober 2008
at 10:19 AM
Mas, saya download video sifat sholat Nabi SAW dari Youtube.com, pertanyaannya apakah itu termasuk pembajakan kah ? apakah perbuatan itu haram ??
Terima kasih banyak
Wasalamu ‘alaikum
Oleh: Yanuarto on 1 Januari 2009
at 11:39 PM
Benar kata pak Zuhudi, sholat yang benar itu tidak mengangkangkan kaki. Dan jika berjamaah kaki tidak perlu dirapatkan. Pada saat kaki kanan naik ke sajadah didahului dengan ucapan basmalah, dan tidak bergeser lagi dari tempatnya kecuali kaki kiri. Seluruh jari-jari tangan dirapatkan, dan jari-jari kaki sujud seluruhnya ketika kita sujud. Telapak tangan menghadap ke kiblat setiap kali takbir pada saat melakukan perubahan gerak. Tangan tidak boleh diseret ketika bangkit dari rukuk, tetapi diangkat, seperti orang mengangkat stempel (jika diseret maka ia akan diseret pada hari kemudian). Siku tidak boleh rapat ke lantai (seperti anjing). Ketika akan berdiri, tangan tidak boleh bertumpu ke lantai, jika ingin bertumpu maka bertumpulah pada kedua paha jika sulit berdiri.
Oleh: Capunk on 25 Maret 2009
at 7:38 AM
Apa yang dilakukan pak Zuhudi sudah sangat baik. Semuanya benar krn ukuran kebenaran itu didasarkan pada ilmu yg di dpt oleh seseorg. Mengapa harus lebih baik? Karena bukan shalat yang memasukkan seseorang ke dalam surga, melainkan karena Rahmat Allah, dan rahmat itu hanya dapat diperoleh dengan shalat yang benar, dan yang paling benar itu adalah ketika rahmat mulai terasa dingin dalam dada disusul dengan munculnya rasa sedih karena rindu, kemudian tangisan dalam shalatnya, maka benarlah fiqihnya.
Oleh: Capunk on 25 Maret 2009
at 8:06 AM
Saya tidak akan membenarkan sekte karena nabi tidak mengenal sekte. Saya hanya membenarkan syariat karena itulah dasar agama, saya juga membenarkan tarekat, hakikat, dan ma’rifat karena mereka adalah orang yang mencari kebenaran, sebagaimana sabda Rasulullah, “maka carilah kebenarannya”, dan kebenaran hanya diperoleh melalui ilmu. “perbedaan itu adalah rahmat”, tentu tidak salah, karena dalam tiga bahasa al-Qur’an, satu ayat dapat dimaknai sebagai ilmu alam, sebagai ajaran moral, dan sebagai bimbingan dalam beribadah. Yang salah adalah ketika kita menjadikan al-Qur’an sebagai sesuatu yang musyrik, azimat, dsb.
Oleh: Capunk on 25 Maret 2009
at 8:23 AM
Jika kebenaran itu hanya satu, untuk apa diciptakan tujuh surga? Untuk apa diciptakan malaikat, jin, dan manusia? Jin dan malaikat adalah ahli ibadah, tetapi mereka memiliki batasan, sebagaimana malaikat tidak mampu menemani Muhammad karena sifatnya hanya mampu menembus sampai langit yang tujuh saja, atau ia akan hancur? Fiqihnya benar jika ilmunya hanya sampai di situ, karena tidak ada ahli yang mengajarkannya, oleh karena itu Allah tidak membebaninya, kecuali, “Sesuai kemampuan hamba-Ku.” Tetapi Allah sangat mencintai hamba-Nya, sehingga selalu menginginkan yang terbaik buat hamba-Nya.
Oleh: Capunk on 25 Maret 2009
at 8:37 AM
Satu kesalahan kecil saja tidak dapat dipandang remeh. Nabi menggambarkan, bahwa percikan najis saja dapat menjadi masalah besar. Namun demikian, Nabi tidak ingin menakut-nakuti ummatnya dalam perkara yang memberatkan, sehingga beliau tidak menjelaskan hakikatnya. Allah tidak membebani hamba-Nya jika pengetahuan mereka hanya sampai di situ, oleh karenanya Allah memberikan hak istimewa, sebagai hak memberikan syafaat dari Rasul yang dicintai-Nya.
Oleh: Capunk on 25 Maret 2009
at 8:46 AM
Ilmu yang diberikan-Nya itu hanya sedikit, maka tidak pantas kita mengatakan “fiqih sayalah yang paling benar.” Islam bukanlah agama yang dogmatis, karenanya setiap hamba- hamba Allah dapat melakukan penyelidikan yang merdeka. Sabda Nabi, “Shalat hanya kusariatkan, maka carilah kebenarannya”, dan Allah tidak akan menyia-nyiakan usahanya, sehingga “Allah mengangkat derajat orang-orang yang berilmu.”
Oleh: Capunk on 25 Maret 2009
at 9:00 AM
Alqur’an sering menggambarkan tentang orang yang buta hatinya, sehingga orang-orang beriman itu dikelompokkan menjadi munafik, musyrik dan fasik. Orang beriman yang kurang ilmunya ibarat orang buta yang ingin mengetahui bentuk gajah. Semuanya memiliki pendapat yang benar, tetapi bukan yang paling benar. Ada anekdot tentang tiga makmum dalam shalat berjamah. Makmum pertama tiba-tiba berkata dalam shalat,” Imam kita salah membaca surah!”, makmum kedua membentak,”Tidak sah sholat kamu karena berbicara dalam shalat!”, dan makmum terakhir nyelutuk dalam shalat, “Kalau begitu, cuma shalat saya yang paling benar!”.
Oleh: Capunk on 25 Maret 2009
at 9:17 AM
Ketika saya mengatakan bahwa Nabi yang Ummi bukanlah Nabi yang buta huruf, maka saya ditentang, ketika saya mengatakan hadits-hadits yang menjanjikan pahala-pahala bagi orang yang sholat di masjid hanya untuk orang yang malas di masa Rasulullah, maka saya dihujat. Tidak ada yang mau membahas makna “Ikhlas”, atau “Terangilah rumahmu” dengan bacaan-bacaan sholat, karena yang benar menurut mereka adalah menggantung tulisan ayat-ayat suci di dinding mereka, atau anjuran membaca ayat-ayat suci al-Qur’an. Semuanya tidak salah selama hal itu tidak ada hubungannya dengan bid’ah dan kemusyrikan, tetapi ada baiknya jika kita cari kebenarannya menurut hakikinya.
Oleh: Capunk on 25 Maret 2009
at 9:34 AM
Kemudian saya tidak berani lagi mengatakan bahwa bid’ah mengusap wajah ketika usai sholat. Kadang-kadang apa yang sudah menjadi tradisi sulit untuk diubah. Perintah sholat berjama’ah di masjid di dalam al-Qur’an hanya hari jumat saja. Shalat wajib di masjid pun baik bagi orang-orang yang berada di luar rumah. Tapi hendaknya kita pahami adab-adabnya. Hendaklah sholat Tahiyyatul masjid sebelum duduk di masjid, kecuali menjelang magrib, atau jika hanya duduk di serambinya; tidak ngobrol dalam masjid, tidak mengeraskan bacaan shalatnya, dsb. yang dapat menggangnggu kekhusyukan ibadah orang lain. Dalam ibadah jum’at bahkan dilaknat orang yang berbicara ketika khotbah dimulai, sekalipun hanya berbisik atau hanya mengeluarkan satu kata.
Oleh: Capunk on 25 Maret 2009
at 9:50 AM
Shalat Taraweh adalah hal yang tidak lazim di zaman Rasulullah. Rasulullah memang pernah shalat Taraweh di masjid pada bulan Ramadhan, tetapi hanya tiga kali seumur hidupnya. Pada hari yang pertama beliau shalat Taraweh, orang-orang mulai mengetahui, sehingga pada hari yang kedua mereka mulai mengikuti Nabi, lalu berita mulai menyebar sehingga pada hari yang ketiga masjid mulai penuh sesak dengan orang yang ingin shalat teraweh di masjid karena malas melakukan shalat sendiri di rumah. Pada hari yang keempat Nabi tidak muncul karena takut jika shalat Taraweh di masjid dianggap sebagai kewajiban. Kemudian beliau menganjurkan memperbanyak “shalat Lail” (tengah malam) pada bulan Ramadhan di rumah mereka masing-masing.
Oleh: Capunk on 25 Maret 2009
at 10:04 AM
Niat. Segala perbuatan hendaknya dimulai dengan niat. Dalam ilmu hakiki, niat ada yang dibacakan dan ada yang tidak. Sebenarnya, ketika muncul keinginan di dalam hati, itu sudah merupakan niat, maka ketika langsung dilaksanakan dengan segera maka tidak perlu lagi mengucapkan niatnya, karena hati lebih hakiki dari pada mulut dan ungkapan. “Ketukan pertama adalah dari Allah, ketukan kedua datangnya dari setan”. Ketika muncul ketukan pertama yang mengingatkan kita untuk shalat, dan kita langsung pergi wudlhu lalu sholat, maka tidak perlu lagi berniat. Kecuali jika setelah berwudlhu kita berbicara dengan orang lain atau tidak langsung sholat, maka niat perlu diulang atau diucapkan.
Oleh: Capunk on 27 Maret 2009
at 5:49 AM
“Ketukan kedua datangnya dari setan.” Ketika bisikan Ilahi muncul sebagai ketukan pertama maka, maka nafsu atau iblis akan menyerang melalui otak dengan akal-akalan. Kata “sebentar, nanti dulu, dsb. ” akan muncul. Pada kondisi ini niat perlu diulang. Ketika Allah bertanya kepada nafsu, “Siapakah Aku?”, nafsu menjawab, “Aku adalah aku dan Engkau adalah Engkau!” sehingga nafsu dimasukkan ke dalam neraka. Tiga kali nafsu ditanya dan nafsu menjawab dengan jawaban yang sama, sehingga tiga kali dimasukkan ke dalam neraka. Pada kali yang keempat nafsu menjawab, “Engkaulah Allah, Tuhan kami!”, kemudian ia dibebaskan.
Oleh: Capunk on 27 Maret 2009
at 6:04 AM
Ada kesalahan dalam menempatkan “basmalah”. Niat tidak dimulai dengan basmalah, tetapi pekerjaannya yang didahului dengan basmalah. Niat dulu, setelah itu baru kita mengucapkan basmalah ketika hendak mengerjakan wudlhu. Demikian pula ketika hendak sholat, kaki kanan yang lebih dahulu naik ke atas sajadah yang gerakannya disertai basmalah. Dalam kondisi tertentu, misalnya sholat dalam keadaan duduk di atas kendaraan, tidak perlu menggunakan basmalah, kecuali ketika hendak tayammum.
Oleh: Capunk on 27 Maret 2009
at 6:22 AM
Zikir wajib diamalkan tetapi kadang-kadang kita lupa, dan itu manusiawi, Allah Maha Tahu dan Maha Bijaksana. Ketika niat dibisikkan ke hati kita, masukkan secepatnya zikir, ucapkan dalam hati, “zatullah sifatullah”. Umumnya ahli hakiki jarang menggunakan niat ketika wudlhu, mereka hanya mengsucikan air wudlhu dengan ilmu yang di dapatkannya [sebentar kita akan bagi ilmunya]. Sebenarnya ini bukan niat dan bukan pula do’a, melainkan ilmu. Hanya, agar tidak membingungkan, kita sebut saja hal ini sebagai “niat”, karena butuh waktu, tempat dan akan keluar jauh jika harus dibahas sekarang. Ilmunya. Di dalam hati, niat ini hendaknya selalu dimulai dengan ucapan, “Subhanakallamma”.
Oleh: Capunk on 27 Maret 2009
at 6:42 AM
Kadang-kadang, wajar kita mencurigai sesuatu agar kita tidak tergiring pada bid’ah dan kesesatan. Namun orang yang benar- benar beriman pasti diberi signal, firasat, ilham atau ilmu untuk dapat membedakan mana yang benar dan mana yang sesat. “Carilah kebenarannya”, berarti masih samar-samar dalilnya di dalam syariat, tetapi kebenarannya “pasti” ada di dalam al-Qur’an karena al-Qur’an adalah inti dari semua ilmu pengetahuan. Jika anda ragu untuk melangkah ke Hakiki, lebih baik tidak usah mengamalkannya, karena keragu-raguan tidak akan pernah mendatangkan hasil. Kuncinya adalah keteguhan hati, dan ketika anda melangkah ke maqam yang tertinggi maka ujiannya juga besar, tetapi ujiannya terjamin. Ada pun ujian-ujian umumnya berasal dari kelemahan-kelemahan yang ada di dalam diri kita sendiri. Apakah kita benar-benar hamba yang ikhlas atau bukan.
Oleh: Capunk on 27 Maret 2009
at 7:01 AM
Anda tidak perlu repot-repot bertarekat, yang belum tentu mendatangkan hasil yang anda inginkan, kalau syariat anda lemah, justru sebaliknya, jin yang menipupu yang akan datang menyesatkan anda, karena mungkin anda belum memahami karakter dan kemampuan mereka. Ibaratnya, saya tinggal menyuap anda, selanjutnya bagaimana anda mencernanya. Ketika anda mulai mengamalkan ilmu hakiki, zikir-zikir anda akan bekerja dan mulai mengasah kepekaan perasaan anda. Anda akan tahu di mana anda sedang berada, dan jika tempat itu tidak baik, anda akan menjadi gelisah. Anda akan dapat membedakan seorang penipu dan bukan penipu, dsb. Contoh lainnya, misalnya anda sedang berada di tempat perjudian, tiba-tiba anda akan merasa gelisah. Dan jika anda bertahan di tempat itu, rasa gelisah akan meningkat, dan keringat anda akan mulai bercucuran.
Oleh: Capunk on 27 Maret 2009
at 7:16 AM
Pertama, mulailah mengenal diri anda, khususnya kelemahan anda. Ketika anda melangkah ke maqam tertinggi, iblis yang datang pun akan berjuang mati-matian merintangi anda. Itu adalah hukum yang sudah ditetapkan. Anda adalah manusia biasa yang disertai dengan unsur nafsu, dan nafsu dapat ditundukkan ke arah yang positif, karena nafsunyalah sehingga Izazil dapat memperoleh gelar al-Muqarrabun, dan karena nafsunya pula yang membuatnya dilaknat. Karena agamanya tidak dibarengi ilmu, maka ia tidak mengenal kelemahan yang ada di dalam dirinya sendiri.
Oleh: Capunk on 27 Maret 2009
at 7:30 AM
Ibadah yang paling disukai Allah, di luar yang wajib, adalah yang tetap dan berkesinambungan, bukan yang banyak tapi sesaat. Anda dapat memilih di antara salah satunya, misalnya mengamalkan puasa senin-kamis, tahajjud, atau dluha. Masing-masing merupakan pintu kebaikan yang memiliki manfaat yang berbeda-beda. Namun hindarilah keinginan-keinginan ketika anda akan beribadah. Keinginan-keinginan itu adalah nafsu. Allah tidak akan menolak, tapi Dia hanya akan memberikan satu jika kita menyelipkan keinginan. Jika kita ikhlas, maka Allah akan memberikan dengan tidak terbatas. Manusiawi jika keinginan itu ada, Allah Maha Tahu, sehingga Allah tidak perlu digurui dengan ungkapan-ungkapan. Cukup amalkan dan laksanakan, selanjutnya Allah lebih mengetahui apa yang dibutuhkan hamba-Nya.
Oleh: Capunk on 27 Maret 2009
at 7:54 AM
Kita hanyalah manusia biasa yang bisa saja berhadapan dengan masalah. Jangan putus asa, ungkapkan ketidak berdayaan anda dengan puasa tiga hari berturut-turut, yang diakhiri dengan tahajjud. Setelah tahajjud, duduklah sebentar berzikir, sambil merenungi persoalan anda.
Allah telah bersumpah dalam tempat-tempat sholat:
“DEMI WAKTU DLUHA”
“DAN DEMI MALAM APABILA TELAH SUNYI SENYAP”
“TUHANMU TIDAK MENINGGALKANMU DAN TIDAK PULA BENCI KEPADAMU”
“DAN SESUNGGUHNYA, AKHIR [USAHA]MU ITU LEBIH BAIK DARIPADA PERMULAANNYA”
“DAN TUHAN AKAN MEMBERIKAN KEPADA KAMU PERTOLONGAN LANTAS KAMU MERASA SENANG”
“DIA MENDAPATI KAMU [LAKSANA] SEORANG [ANAK] YATIM, LALU DIA MELINDUNGIMU”
“DAN DIDAPATINYA KAMU SEBAGAI ORANG YANG BINGUNG LALU DIA MUNUNJUKKAN KEPADAMU [JALAN KELUAR]”
“DAN DIDAPATINYA KAMU SEBAGAI SEORANG YANG KEKURANGAN, MAKA DIA MEMBERIMU KECUKUPAN”
(Q.S AD DHUHA: 1- 8)
Oleh: Capunk on 27 Maret 2009
at 8:24 AM
“SESUNGGUHNYA USAHA KAMU BERMACAM-MACAM” [Q.S. AL-LAIL: 4]
Pengamalan ibadah ilmu hakiki, intinya, seluruh amalannya adalah ditauhidkan, atau bahasa awamnya adalah disyirkan atau dirahasiakan dalam hati. Tidak ada suara, kecuali suara hati, atau lebih dalam yaitu rasa dan perasaan. Mulailah akrabkan diri anda dengan zikir, yang lafadznya “Zatullah Sifatullah”. Perhatikan denyutan dari dalam diri anda, dengarkan, seolah-olah suara denyutan itu berzikir, atau ubah bunyinya menjadi zikir. Gunakan rasa dan perasaan, biarkan zikir itu mengasah perasaan anda, rasakan zikir itu dipompakan ke seluruh darah anda, hingga terasa di kulit anda. Tahap pertama memang diupayakan, selanjutnya hanya diingat. Perhalus suara yang keluar, makin lama makin pelan dan halus. Jika anda pernah mendengar musik atau orang yang berbicara, maka pasti masih terngiang di telinga anda, itulah contoh cara mengingat zikir dalam tingkat kehalusan.
Oleh: Capunk on 27 Maret 2009
at 8:48 AM
Pertahankan zikir. Ada kalanya kita lupa, tapi itu manusiawi. Ingat, jantung akan berdetak selama anda masih hidup, jika anda sudah melatih hati anda dan terbiasa berzikir, maka pada saat anda lupa, maka tubuh akan berzikir dengan sendirinya. Saat anda sadar bahwa anda lupa, kembalikan zikir anda atau ingatlah, kapan dan di mana saja dan dalam keadaan apa pun. Hindari bid’ah dengan wara’. Waspadalah, ia dapat menjatuhkan anda dari maqam anda dalam sekejap mata. Adapun dosa, karena kita tidak luput dari dosa, akan meracuni sedikit tubuh dengan rasa malas. Obatnya adalah puasa.
Oleh: Capunk on 27 Maret 2009
at 9:08 AM
Dalam ilmu hakiki, buang air besar masuk dalam kategori hadats besar, sehingga diharuskan mandi, kecuali tidak ada air atau sakit, cukup dengan tayammum, begitu pula ketika hendak sholat. Setiap akan membersihkan diri atau mandi, lakukan pengecekan terlebih dahulu dengan jari tengah atau telunjuk tangan kiri. Jika agak sulit, gunakan sedikit sabun untuk memudahkan jari anda masuk. Pada liang terdapat syaraf yang dapat merangsang seluruh kotoran keluar. Jika kita rajin mengamalkannya sebelum mandi, Insyaallah tidak akan merepotkan orang yang memandikan jenazah kita pada saat kita meninggal dunia.
Oleh: Capunk on 27 Maret 2009
at 9:23 AM
Kita tidak tahu perkara kematian karena itu merupakan urusan Allah. Mungkin lima tahun lagi, mungkin tahun depan, bulan depan, atau mungkin besok, tidak ada yang tahu. Tetapi alangkah baiknya jika kematian itu datang dan kita siap dalam keadaan yang suci bersih, karena yang kita hadapi juga adalah makhluk suci, sehingga bagaimana ia memperlakukan kita, kembali kepada bagaimana kita memperlakukan diri kita. Wudlu adalah cahaya di atas cahaya, karenanya orang-orang yang dapat melihat perkara ghaib enggan melepaskan wudlunya, sekalipun ia akan berangkat tidur. Mereka berwudlhu, bersahadat, lalu takbir, dan tidur laksana orang yang shalat.
Oleh: Capunk on 27 Maret 2009
at 9:43 AM
Setelah buang air besar hendaknya beristinja sebelum mandi. Istinja juga penting bagi kesehatan, sebab jika anda langsung mandi menyiram kepala maka panas akan naik ke otak. Sebelum mandi dan istinja, sucikan air yang akan digunakan. Jalankan zikir, tatap air, lalu ucapkan dalam hati:
“Subhanakallahumma,
Ha…
Hu…
Hi…
Asyhaduanlailahaillallah asyhadu annamuhammadarrasulullah
Ha…
Hu…
Hi…
Subhanakallahumma,
Sucikanlah air ini dengan cahaya nurullahi dan cahaya nurummuhammad ke dalam air ini, agar dapat kugunakan untuk mengsucikan diri, sehingga dapat mengsucikan, membersihan, dan menjadi obat bagi diriku karena Allah lillahi ta’ala.”
Oleh: Capunk on 27 Maret 2009
at 10:01 AM
Ambil air yang telah disucikan dengan menggunakan tangan kanan, disertai ucapan basmalah.
Siram ibu jari tangan kiri disertai shalawat, lalu tekan ke pusat. Bersihkan pusat sambil ditekan dan diputar, serta disiram.
Siram jari telunjuk tangan kanan disertai shalawat, lalu gosokkan telunjuk ke selangkangan kaki kanan, sambil disiram.
Seterusnya, siram jari tengah disertai shalawat, lalu gosokkan ke selangkangan kaki kiri sambil disiram.
Siram jari manis disertai shalawat lalu gosokkan ke sulbiah, ujung tulang ekor, sambil disiram atau dibersihkan.
Kemudian siram jari kelingking, lalu bersihkan lubang kemaluan.
Salawat yang digunakan, ALLAHUMMASALLI ALA MUHAMMAD WA ALA MUHAMMAD. Terakhir, ambil air disertai basmalah, kemudian ucapkan, SUBHANAKALLAHUMMA WAMINALLAH ALLAHU AKBAR. [air jatuh ke atas kepala tepat pada kata, Alahu Akbar]. Lakukan 3X, kemudian mandi seperti biasa.
Oleh: Capunk on 27 Maret 2009
at 10:20 AM
Sangat baik sekali menjaga wudlhu, sekalipun di luar sholat. Sehabis mandi, ketika akan keluar rumah, dan ketika akan tidur. Jika anda ingin wudlu anda sempurna, sucikan air wudlu anda terlebih dahulu.
SUBHANAKALLAHUMMA,
HA…
HU…
HI…
ASYHADUANLAILAHAILLALLAH ASYHADUANNAMUHAMMADARRASULULLAH,
HA…
HU…
HI…
SUBHANAKALLAHUMMA,
SUCIKANLAH AIR INI DENGAN CAHAYA NURULLAHI DAN CAHAYA NURUMMUHAMMAD KE DALAM AIR INI, SEHINGGA DAPAT KUGUNAKAN BERWUDLHU, SUCI, BERSAMA ALLAH SUBHANA WATA’ALA, SEHINGGA DAPAT MENGSUCIKAN, MEMBERSIHKAN DAN MENJADI OBAT BAGI DIRIKU, KARENA ALLAH LILLAHI TA’ALA.
BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM.
Kemudian mulailah berwudlhu, cukup dengan setimba air, dengan mengusap atau membasuh. Usahakan air wudlhu mengenai mata.
Oleh: Capunk on 27 Maret 2009
at 12:36 PM
TAFAKKUR
“Tafakkur sesaat kepada Allah lebih baik daripada beribadah selama enam puluh tahun”.
Lebih baik, maksudnya besar keutamaannya. Ahli-ahli tasawwuf dan orang yang menerima ilmu Hakiki, biasanya melakukan tafakkur ketika akan shalat. Maksud tafakkur adalah merendahkan diri dihadapan Allah, menyarahkan segalanya kepada Allah, karena hanya Allah yang Maha Tahu. Tafakkur dapat menenangkan perasaan yang gelisah, agar dapat shalat dengan khusyuk, tenang, halus, dan tidak tergesa-gesa oleh nafsu.
Oleh: Capunk on 27 Maret 2009
at 12:53 PM
Dikelilingi oleh pembesar-pembesar malaikat yang bertasbih memuji Allah, ketika Roh masuk ke patung tubuh adam, melalui ubun-ubun, maka terciptalah otaknya, sekitar 400 tahun, roh sampai ke mata, lalu hidung, sehingga ia bersin, maka Allah melalui Jibril, mengajarkannya hamdalah. Baru saja roh sampai ke dadanya, tiba-tiba Adam hendak berdiri, sementara tubuhnya belum sempurna, firman Allah, “Manusia itu bersifat tergesa-gesa”.
Oleh: Capunk on 27 Maret 2009
at 1:13 PM
Allah suka disembah secara sembunyi- sembunyi, dan Allah menyukai orang yang beribadah secara sembunyi- sembunyi.
Jalankan zikir anda ketika akan mulai berwudlhu. Setelah wudlhu, tanpa berbicara kepada siapa pun, kecuali hanya memperhatikan zikir-sikir, segera menuju ke sajadah. Berdiri tegak, ucapkan dalam hati salam biasa,
ASSALAMU’ALAIKUM WARAHMATULLAHI WABARAKATUH.
Kemudian pandang bahu kanan, ucapkan salam kepada Rasulullah di dalam hati,
ASSALAMU’ALAIKUM YA NABI, YA RASUL ALLAHU AKBAR.
Kemudian pandangan dipalingkan ke arah bahu kiri, ucapka salam malaikat,
SALAMUNALAIKUM BIMASABARTUM.
Langkahkan kaki kanan naik ke atas sajadah diiringi ucapan basmalah dalam hati. Kaki kanan tetap pada posisinya dan tidak bergerak kemana-mana lagi, hanya kaki kiri yang boleh bergerak. Kemudian duduk untuk tafakkur.
Oleh: Capunk on 27 Maret 2009
at 1:32 PM
Duduklah senyaman mungkin, pertemukan kedua telapak tangan, saling genggam, rilekskan tubuh anda. Tenang…, kosongkan pikiran dari hal-hal duniawi, singkirkan dosa-dosa anda, hadirkan kerinduan, kecintaan, dan ketidak berdayaan. Masukkan zikir-zikir ke dalam hati anda. Bagi yang masih betah di syariat, ucapkan zikir apa saja yang anda ketahui, hanya dalam hati. Untuk yang berminat naik ke tingkat hakiki, ucapkan dalam hati,
SUBHANAKALLAHUMMA,
HA…
HU…
HI…
ASYHADUANLAILAHAILLALLAH ASYHADUANNAMUHAMMADARRASULULLAH,
HA…
HU…
HI…
SUBHANAKALLAHUMMA,
KASIHANILAH NABI-MU MUHAMMAD S.A.W.
RAHMATILAH, BERKATILAH, DAN AMPUNILAH DIA KARENA ALLAH LILLAHI TA’ALA.
[konon, ketika kita ucapkan bacaan ini, Nabi akan berseru dari tempatnya saat ini, "ummatku..., ummatku..., umatku...!"]
Oleh: Capunk on 27 Maret 2009
at 2:16 PM
Kemudian lanjutkan,
“SUBHANAKALAHUMMA,
HA…
HU…
HI…
ASYHADUANLAILAHAILLALLAH ASYHADUANNAMUHAMMADARRASULULLAH,
HA…
HU…
HI…
SUBHANAKALLAHUMMA,
KUSERAHKAN EMPAT ZIKIR MILIKMU, KARENA SEMUA YANG ADA PADA KAMI ADALAH MILIKMU,
HUWALLAHU AHAD ZATULLAH SIFATULLAH [Rasakan ia masuk melalui denyutan di ubun-ubun, turun ke hati. Jumlahnya tidak ditentukan]
LAILAHAILLALLAHU YAHU AHAD ZATULLAH SIFATULLAH [Rasakan ia berdenyut dari sulbiah menuju ke hati],
AHU AHAD ZATULLAH SIFATULLAH [rasakan ia masuk melalui denyutan di antara kedua alis, dan rasakan ia masuk ke hati]
ALLAHU AHAD ZATULLAH SIFATULLAH [rasakan zikir ini berdenyut, dari bawah pusat menuju ke hati]
Saya tidak menentukan jumlahnya, seikhlas dan sekemampuan anda saja. Kemudian berdiri untuk melaksanakan sholat.
Oleh: Capunk on 27 Maret 2009
at 3:38 PM
Kemudian lanjutkan,
“SUBHANAKALAHUMMA,
HA…
HU…
HI…
ASYHADUANLAILAHAILLALLAH ASYHADUANNAMUHAMMADARRASULULLAH,
HA…
HU…
HI…
SUBHANAKALLAHUMMA,
KUSERAHKAN EMPAT ZIKIR MILIKMU, KARENA SEMUA YANG ADA PADA KAMI ADALAH MILIKMU,
HUWALLAHU AHAD ZATULLAH SIFATULLAH [Rasakan ia masuk melalui denyutan di ubun-ubun, turun ke hati. Jumlahnya tidak ditentukan]
LAILAHAILLALLAHU YAHU AHAD ZATULLAH SIFATULLAH [Rasakan ia berdenyut dari sulbiah menuju ke hati],
AHU AHAD ZATULLAH SIFATULLAH [rasakan ia masuk melalui denyutan di antara kedua alis, dan rasakan ia masuk ke hati]
ALLAHU AHAD ZATULLAH SIFATULLAH [rasakan zikir ini berdenyut, dari bawah pusat menuju ke hati]
Saya tidak menentukan jumlahnya, seikhlas dan sekemampuan anda. Kemudian berdiri untuk melaksanakan sholat.
Oleh: Capunk on 27 Maret 2009
at 3:55 PM
Mengapung ketika takbir, maksudnya bukan menahan nafas. Benar tidak bernafas, tapi bukan menahan. Coba tariklah nafas anda dalam-dalam, kemudian lepaskan. Pada saat kosong tidak bernafas itulah yang disebut mengapung.
“Subhanakallahumma, saya berniat memasuki sholat…, makmum karena Allah lillahi ta’ala”
“Allahu Akbar”
Tangan bergerak naik bersamaan takbir, jangan sampai putus dan berakhir bersamaan ketika tangan mendarat di antara pusat dan dada.
Telapak tangan kiri mendarat bersamaan kata “Hu”, menyusul telapak tangan kanan mendarat di atas pundak telapak tangan kiri bersamaan kata “Bar”. Tidak ada yang saling mendahului. Do’a Iftitah,
SUBHANAKALLAHUMMA WABIHAMDIKA WATABARAKASMUKA WATAALA JADDUKA WALAILAHA ILLA GAIRUKA.
Oleh: Capunk on 27 Maret 2009
at 4:17 PM
Turunkan pikiran ke dada, ikat pikiran dengan zikir, dan biarkan hati membaca bacaan sholat.
Rapatkan hati dan pikiran menjadi satu agar setan tak mudah masuk. Jika pikiran tidak dipusatkan pada zikir, ia akan menerawang kemana-mana.
Jari-jari tangan dirapatkan. Ketika sujud, jari-jari kaki disujudkan pula, dilipat ke dalam.
Setelah selesai salam, jangan ubah posisi duduk. Rapatkan kembali kedua telapak tangan, saling genggam ucapkan dalam hati,
SUBHANAKALLAHUMMA,
Ha…
Hu…
Hi…
Asyhaduanlailahaillallah asyhaduannamuhammadarrasulullah
Ha…
Hu…
Hi…
Subhanakallahumma, kasihanilah nabimu Muhammad S.A.W., rahmatilah, berkatilah, dan ampunilah dia karena Allah lillahi ta’ala.
Ucapkan salam biasa ke depan, salam nabi di kanan, salam malaikat di kiri.
Oleh: Capunk on 27 Maret 2009
at 4:49 PM
ADAB JUM’AT HAKIKI
Mandi, memotong kuku, berwudlhu [dan tidak berbicara lagi hingga usai jumatan], sunnat berpakaian putih yang bersih, Tahiyatul masjid, duduk berzikir dlm hati, mendengarkan khotbah sambil berzikir dlm hati agar dpt memahami makna khotbah, sholat jumat, pulangnya sunnat melalui jalan berbeda, setibanya di rumah langsung sholat sunnat dua rakaat.
Hal-hal di atas tidak seluruhnya menjadi kewajiban jika situasi tidak mendukung. Sama saja dengan kita shalat di atas kendaraan, kita tidak dituntut harus begini dan begitu jika kondisi tidak memungkinkan. Yang bahaya adalah ketika kita dengan sengaja meninggalkan shalat jum’at.
Oleh: Capunk on 27 Maret 2009
at 6:07 PM
Cara tidur yang baik menurut ahli hakiki adalah berwudlu terlebih dahulu, kemudian duduk di atas tempat yang akan ditiduri, syahadat di dalam hati:
ASYHADUANLAHAILLALLAH ASYHADUANNAMUHAMMADARRASULULLAH
Kemudian baring biasa, angkat takbir seperti hendak shalat. Posisi kedua tangan seperti orang shalat. Teruslah berzikir hingga anda tertidur. Tidak apa-apa anda membayangkan kisah-kisah perjuangan para nabi, dsb. Anda dapat menggunakan zikir rahasia, zikir roh, atau zikir pengiring ‘zatullah sifatullah’ saja.
Disaat bangun, duduk sebentar, bacalah shalawat,
ALLAHUMMASSALLI ALA MUHAMMAD WA ALA MUHAMMAD
Usap seluruh tubuh anda, tidak perlu ada tiupan. Kemudian turun ke lantai dengan kaki kanan disertai ucapan basmalah dalam hati.
Oleh: Capunk on 27 Maret 2009
at 6:29 PM
Dalam hadits Qudsy dikatakan, “Jika ia berjalan sambil berzikir, maka ia berjalan bersama-Ku”
Dalam Hadits Qudsy yang lain, Allah juga menyatakan, “Aku segan dengan orang-orang yang wara’”
Begitu besar cinta Allah kepada hamba-hamba-Nya. Sesungguhnya kebaikan apa pun yang dikerjakan manusia akan kembali pada diri mereka, demikian pula sebaliknya.
Bencana-bencana yang terjadi adalah akibat perbuatan manusia juga. Tatkala bid’ah dan kemusyrikan merajalela ditengah-tengah kaum beriman, mereka diperingatkan bahwa tidak ada penolong lain selain dari Dia, dan bahwa kerusakan agama akan merusak dan merugikan manusia itu sendiri.
Allah hanya ingin mengangkat manusia kepada kemuliaan, jika perlu lebih mulia dari malaikat-malaikat-Nya.
Allah tidak menghukum, hanya memperingatkan. Adakah yang menyadari sebuah bencana peringatan sehingga mengoreksi diri, ataukah semakin bertambah kemusyrikannya?
Oleh: Capunk on 27 Maret 2009
at 7:26 PM
Tampaknya Anda sudah “mulai berani” menunjukkan jati diri Anda dengan tulisan-tulisan Anda, Saudara Capunk. Padahal dari awal Anda terkesan “misterius”, apalagi dengan ID Capunk, yang tidak disertai keterangan diri apapun. Sebenarnya kalau Anda mau membuat situs tersendiri, dari komentar-komentar Anda di situs saya ini sudah bisa dibuat puluhan halaman.
Sebenarnya cukup menarik hal-hal yang Anda sampaikan. Hanya saja, Ada beberapa hal yang mengganggu saya. Saya akan memberi beberapa tanggapan dan kritikan. Pertama, beberapa tulisan Anda memuat hadits dan hadits Qudsi, namun di sana tidak diberi keterangan mengenai siapa perowi (periwayat) hadits tersebut atau derajat haditsnya (apakah shohih, dhoif, hasan, atau seperti apa). Ini sangat penting, sebab di kalangan umat beredar juga “hadits-hadits” yang diaku-aku datangnya dari Rosululloh shollallohu ‘alaihi wassallam, padahal oleh ulama terpercaya, hadits tersebut tidak diakui keshohihannya, bahkan ada yang termasuk hadits palsu, yang tentu saja hadits seperti ini tidak boleh diterima apalagi diamalkan.
Kemudian, beberapa tulisan Anda menggunakan kata “konon“, padahal Anda sedang menjelaskan masalah ibadah. Bagaimana sebuah “konon” bisa dipakai untuk menguatkan kebenaran?? Apalagi ini menyangkut sebuah ibadah. Padahal Anda (menurut tulisan Anda sendiri) melarang adanya bid’ah dalam agama. Memang benar sebuah bid’ah (hal yang baru, menyangkut ibadah) terlarang dalam Islam.
Dari ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha berkata: Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassallam bersabda: “Barangsiapa yang mengamalkan satu amalan yang dibuat-buat dalam ajaran kami (agama) padahal amalan itu bukan berasal dari agama ini, maka amalan tersebut tertolak.” (HR. Bukhori – Muslim)
Hadits dari Jabir bin Abdulloh Rodhiyallohu ‘anhu bahwasanya Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa Sallam sering mengatakan dalam khutbahnya:
“Amma ba’ad. Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah firman Alloh dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad Shollallohu ‘alaihi wassallam dan seburuk-buruk perkara adalah yang dibuat-buat dan setiap bid’ah itu sesat.” (HR. Muslim, no.867)
Jika memang yang Anda tuliskan memang berasal dari Rosululloh shollallohu ‘alaihi wassallam, maka tunjukkanlah.
Baik, saya tunggu klarifikasi dari Anda. Terima kasih.
Oleh: zuhudhi on 27 Maret 2009
at 8:35 PM
Bismillahirrahmanirrahim.
Terimakasih. Adalah tindakan terpuji jika dalam hal ibadah kita penuh kehati-hatian.
Kadang banyak hal-hal yang tidak semuanya dapat saya ungkapkan di sini karena sifatnya tidaklah umum dipahami orang, dan yang saya takutkan jika mendatangkan fitnah bagi ilmu-ilmu hakiki, seperti tasawwuf. Adakah yang berani mengada-adakan sesuatu tentang ilmu Allah? Berbuat satu dosa saja akan membuat kita gelisah seumur hidup, apalagi mengada-adakan sesuatu yang berhubungan dengan ibadah.
Oleh: Capunk on 28 Maret 2009
at 9:31 AM
Satu-satunya ulama yang kami kagumi pada masa ini hanyalah Ustadz Abu Sangkan. Sebenarnya ilmu hakiki tidak bersifat umum, dan oleh sang guru, saya dilarang keras mengajarkannya kepada siapa pun karena takut menimbulkan fitnah. Mungkin saya telah melanggar, namun saya hanya pernah mendengar Hadits Rasulullah, “Ajarkanlah walau hanya satu ayat”. Dan jika anda ragu, abaikan saja. Jika ingin menghujat, hujatlah diri saya, jangan ilmunya. Mohon di hapus tulisan-tulisan yang membuat bapak tidak berkenan, karena apa yang saya bagikan hanya saya tuliskan di sini.
Wassalam wr. Wb.
Oleh: Capunk on 28 Maret 2009
at 10:11 AM
Mengapa saya tidak menulis yang meriwayatkannya? Ketika sang guru mengajak kami tafakkur berzikir dalam hati, kemudian muncul rahmat yang menyerupai kabut tebal yang dingin, kemudian muncul suara, “Aku ada sebelum dunia ini ada, dan aku hanya mendatangi orang-orang yang takarrua”, haruskah saya menulis perawinya sementara suara itu kami dengar sendiri? Saya bukanlah ahli agama, saya sangat jarang mencatat, apa yang saya baca atau dengar cuma terngiang di kepala saya, karena saya yang belajar hanya dituntut mengamalkan, dan tidak pernah dituntut menjadi penceramah.
Oleh: Capunk on 28 Maret 2009
at 10:26 AM
Awalnya saya hanyalah orang yang rusak, yang tiba-tiba muncul dalam sebuah majlis zikir karena diajak sahabat. Namun dosa-dosa yang ada dalam diri saya membuat saya tidak dapat duduk tenang dalam majlis itu, apalagi ketika saya mulai mengamalkan zikir tubuh dalam hati, yang muncul hanyalah tangisan, dan kadang-kadang tubuh saya terguncang, bahkan terlempar dan membentur dinding [anehnya karena kepala saya tidak terasa sakit sekalipun terbentur dinding]. Akhirnya saya bertobat.
Oleh: Capunk on 28 Maret 2009
at 10:55 AM
Kemudian minuman keras dan drug saya hentikan. Pada pagi hari, dipertengahan tahun 2002, semua benda-benda bertuah dan azimat-azimat dari paranormal dan kyai saya kumpulkan jadi satu, lalu saya bakar di halaman rumah saya, kemudian melakukan shalat taubat. Malam hari, sekitar pukul 23.30, sepulang kerja, saya mandi, mematikan lampu kamar, lalu shalat Isya dengan menggunakan shalat hakiki. Pada saat itulah muncul cahaya berputar-putar di atas sajadah tempat sujud saya. Saya sempat takut, namun saya tahan. Usai shalat, saya nyalakan semua lampu dalam rumah, kemudian tidur di sofa ruang tamu, saya tidak berani tidur di kamar. Akhirnya saya akui, inilah ajaran yang benar.
Oleh: Capunk on 28 Maret 2009
at 11:10 AM
Saya juga pernah berkenalan dengan Akbar Muis Haris. Dia selalu memakai sorban. Konon di pernah pingsan, dan ketika sadar tiba-tiba ia mampu menghafal al-Qur’an. Tapi guru hakiki saya mengingatkan saya agar tidak terlalu akrab dengan Akbar, sebab yang membimbingnya adalah jin. Namun saya setengah yakin dengan ucapan guru saya sehingga saya tetap akrab dengan Akbar.
Oleh: Capunk on 28 Maret 2009
at 11:27 AM
Suatu hari saya mengajak Akbar ke rumah saya, tetapi rumah terkunci. Orang tua saya sedang ke Makasar, dan adik saya, Nadya, sedang ke sekolah, dan kunci dibawanya. Tiba-tiba Akbar menawarkan pertolongan dan saya iyakan. Kemudian Akbar seberti menarik sesuatu dari kerongkongannya, ajaib, kunci rumah saya keluar dari mulutnya. Saya semakin yakin dengan Akbar dan mulai jarang menghadiri majlis zikir kami.
Oleh: Capunk on 28 Maret 2009
at 11:40 AM
Akbar sering mengeluarkan benda-benda aneh dari mulutnya, seperti batu-batu dan permata. Kadang-kadang ia tidur dengan menyilangkan kaki, lalu kedua telunjuk dan ibu jarinya membentuk segi tiga dan diletakkan di dadanya, dan arwah-arwah [mungkin juga jin] yang mengaku sebagai tokoh-tokoh terkenal masuk ke tubuhnya satu persatu dan berkomunikasi dengan kami. Tetapi Allah tampaknya ingin menunjukkan kepada saya siapa Akbar yang sebenarnya. Suatu malam Akbar tidur di kamar saya, tetapi saya sholat Isya dahulu lalu menyusul tidur di dekatnya. Dalam keadaan saya tertidur, tetapi juga sadar [karena saya dapat melihat dengan jelas], seekor ular besar hitam masuk ke bawah bantal, tepat di bawah kepala Akbar. Saya merinding dan mulai merenungi ucapan guru hakiki saya.
Oleh: Capunk on 28 Maret 2009
at 12:01 PM
Akbar sempat memasukkan sesuatu ke tubuh saya, lalu mengambil golok untuk mengetesnya. Karena takut dengan benda tajam, saya lari, tetapi Akbar mengejar saya dan menghantamkan goloknya berkali-kali ke punggung saya. Tidak ada luka, hanya seperti goresan. Mengetahui hal ini membuat marah guru hakiki saya, sehingga saya dimandinya. Setelah dimandikan, malamnya saya bermimpi, dari ujung jari-jari tangan saya keluar binatang-binatang menjijikkan [tampaknya menandakan bahwa ilmu yang dimasukkan Akbar yang keluar], seperti tikus, kecoa, dsb.
Oleh: Capunk on 28 Maret 2009
at 12:16 PM
Saya bukanlah ahli agama, bukan ustadz, dan tidak pernah duduk di sekolah agama. Bahkan dulunya saya hanyalah seorang pendosa, karena berbagai maksiat telah pernah saya kerjakan. Mungkin hanya satu kebaikan yang ada dalam diri saya, karena saya mudah iba dan kasihan melihat orang yang kesusahan, orang yang sangat tua, dan mudah memberikan apa saja yang saya miliki. Dulu sebelum ikut pengkajian hakiki, shalat saya hanya shalat magrib. Entah mengapa, adzan maghrib sangat syahdu sehingga gelisah jika meninggalkannya. Dengan latar belakan yang seperti ini, memang saya tidak layak untuk didengar, apalagi saya bukan ustadz yang memahami ilmu agama, tidak hafal banyak al-Qur’an maupun hadits.
Oleh: Capunk on 28 Maret 2009
at 12:33 PM
Saya tidak ingin dikenal, dan saya tidak menginginka materi atau apa pun dari apa yang saya lakukan, kecuali ikhlas, agar sholat benar-benar dapat merubah kita, agar shalat benar-benar dapat mencegah korupsi, mencegah bid’ah, kemusyrikan, dan bencana alam. Dengan syariat yang dipahami, dengan ilmu yang dimiliki, sama-sama kita mengubah kondisi ummat, mempersatukan, tanpa ada kelompok ini dan itu. Jika Allah membing saya dan beberapa orang lainnya dengan ilmu-Nya, mungkin karena dosa saya sudah sangat banyak. Sementara ustadz dan lain-lainnya tidak berdosa, kalaupun ada, mungkin hanya sedikit, sehingga tidak diberikan ilmu ini. Wallahualam.
Oleh: Capunk on 28 Maret 2009
at 1:09 PM
Ratusan ayat-ayat suci dan puluhan hadits Nabi dibacakan dan dikaji di majlis yang hanya berjumlah belasan orang, dan beberapa hadits-hadits Qudsy yang pernah dibacakan kepada ummat-ummat terdahulu diperdengarkan kembali secara ghaib, namun tidak satu pun yg saya catat, mengingat kami hanya dibimbing dan dituntut mengamalkan, dan dilarang mengajarkan atau menyebarkannya. Tanpa pertimbangan, saya telah melakukan pelanggaran. Jika ilmu ini dapat mencegah kemungkaran, malapetaka, dan bencana alam, mengapa hanya saya yang boleh mempelajarinya? Guru saya hanya takut jika ajaran ini dihujat, dan hal ini sudah pernah terjadi, karena ustadz-ustadz di daerah kami yang mempertahankan bid’ah ritual barzanji dalam acara pernikahan, khitanan, kematian, dsb., mereka tersinggung dan melaporkan kami ke polisi. Apa yang terjadi? Angin kencang yang menumbangkan pohon-pohon, reda dengan redanya murka sang guru. Sejak saat itu, kami dilarang keras menyebarkan ilmu ini.
Oleh: Capunk on 28 Maret 2009
at 3:11 PM
Saudara Capunk menulis:
Bagaimana Anda bisa yakin kalau suara yang muncul tersebut bukan suara jin dan sebangsanya yang mengaku sebagai Nabi??
Memang dari cerita-cerita Anda, pengalaman spiritual Anda luar biasa. Jarang ada orang yang mempunyai pengalaman seperti Anda. Termasuk pertemuan Anda dengan seseorang yang bernama Akbar Muis Haris. Kemudian Anda menyadari bahwa ada kesalahan pada ilmu Mas Akbar tersebut. Biasanya orang-orang yang menggunakan ilmu seperti itu juga mempunyai ilmu kebal terhadap senjata. Jelas jin berperan di sini! Manusia normal tidak akan pernah bisa mempunyai kemampuan seperti itu. Bahkan sekelas Nabi pun! Rosululloh shollallohu ‘alaihi wassallam, ketika di Perang Uhud beliau terluka.
Bukhori, Muslim dan Tirmidzi meriwayatkan dari Anas bin Malik, “Ketika muka Nabi terluka pada peperangan Uhud sampai pecah tulang rahang dan mukanya, beliau sambil mengusap darah dari mukanya berkata, “Bagaimanakah suatu kaum akan selamat setelah melukai dan memecahkan tulang rahang Nabinya?” Kemudian waktu Nabi mendoakan mereka Alloh menurunkan ayat: “Urusan itu bukan urusanmu sedikit pun.”
Saudara Capunk menulis:
Memang yang Anda sampaikan di sini benar-benar tidak umum! Tetapi bukan itu yang menjadi masalah. Permasalahan agama bukan dilihat umum atau tidaknya suatu perkara di masyarakat, tetapi lebih kepada teladan/ajaran Rosululloh Muhammad shollallohu ‘alaihi wassallam. Jika suatu perkara memang diajarkan oleh Rosululloh shollallohu ‘alaihi wassallam, maka dikerjakan, jika tidak diajarkan maka dijauhi. Sebab agama Islam telah sempurna, tidak ada penambahan, apalagi pengurangan.
Imam Malik rohimahulloh berkata :
Barangsiapa yang mengada-adakan dalam Islam sesuatu kebid’ahan (hal baru dalam agama, zuh) dan menganggapnya baik berarti ia telah menuduh Rosululloh telah berkhianat dalam menyampaikan risalah. Karena Alloh telah berfirman : “Pada hari ini telah Aku sempurnakan bagi kalian agama kalian.[QS. Al-Maidah: 3]” Maka apa yang waktu itu (pada masa Rosululloh dan para shahabat beliau) bukan bagian dari agama, (maka) pada hari ini pun bukan bagian dari agama.” (Lihat Al I’tisham oleh Imam Syathibi halaman 37)
Kemudian dari Anda muncul istilah ustadz hakiki, ilmu hakiki, dsb. Istilah-istilah tersebut memang ada di ajaran tasawwuf, atau disebut juga aliran sufi. Aliran ini telah difatwa sesat oleh ulama-ulama terpercaya. Salah satunya adalah fatwa yang dikeluarkan oleh Lajnah Daimah Saudi Arabia. Untuk lebih tahu apa dan bagaimana Sufi itu, silakan download artikel mengenai Hakikat Sufi di sini. Atau silakan membaca mengenai pembahasan Sufi dan kesesatan ajarannya di sini, atau di sini. Artikel-artikel tersebut akan dapat menjawab pertanyaan: “Apakah ilmu Tasawwuf/Sufi bagian dari Islam?” Silakan Anda membacanya dengan seksama, insya Alloh Anda akan menemukan kebenaran di sana.
Wallohu a’lam bishshowab.
NB: Saya tidak akan menghapus komentar siapa pun, selama masih dalam batas-batas komentar yang wajar ( tetapi wajar menurut saya,
)
Oleh: zuhudhi on 30 Maret 2009
at 9:49 PM
asslkum.wr.wb
apakah wajib hukumnya dalam sholat menempelkan kaki dg kaki makmum sebelahnya,bukankah yang berdasarkan hadis rosul itu merapatkan shofnya menempelkan pundak.apakah antum sudah merasa pasti sholatnya di terima oleh alloh.bagaimana antum melihat solatnya nabi,lewat jalur mana,ulama mana yang antum ikuti.jangan suka menyalahkan cara solat orang lain belum tentu solat antum itu yang benar.pelajari aja kitab tauhid karena nanti di alam barzah yang akan di tanyakan malaikat munkar wa nakir yang pertama itu bukan masalah muamalah,akan tetapi masalah ketuhanan baru kenabian baru muamalah. trimakasih dari wong deso
Oleh: abimanyu on 23 Januari 2010
at 9:56 AM
assalamu ‘alaikum wr.wb
alafu ustadz capunnk,antum kebanyakan tidur sehingga mimpi yang aneh2 dan kebanyakan mengkhayal.ana ingin nanyaapakah setelah surat al maidah ayat 3 turun itu sudah tidak ada surat lagi yang di wahyukan alloh swt kpd nabi, antum banyak2lah belajar aqoid 50, wajib mustahil,jaiz bagi alloh dan rosululloh insya alloh antum nanti akan ma’ghul tentang makrifat billah wamakrifaturrosul. tafakaru fii kholqillah wala tafakaruu fii dzatillah. ini perintah syar’i wajib benar. awwalu wajibin ‘alal insaani makrifatul illahi bistiqon
Oleh: abimanyu on 23 Januari 2010
at 12:09 PM
Hey there I’m Michael and I’ve been reading the forum for a while now and it’s about time that I said Howdy and introduced myself. I’m 25 and run a fitness equipment business with my brother and live in sunny San Diego, California with my 2 fantastic children. I love running and badminton but hate mushrooms…and I guess that’s all you need to know http://www.mysmiley.net/imgs/smile/happy/happy0071.gif
Oleh: Alangeadderry on 30 Maret 2010
at 1:37 PM
assalamu alaikum warohmatullahi wa barokatuh , mau nanya, biasanya orang indonesia kebanyakan, biasanya ada undangan yasinan atau tahlilan pada suatu acara tertenu, hal tersebut dibolehkan atau tidak, ada yg mengatakan tidak boleh, menurut anda bagaimana ya wasalamu alaikum warohmatullahi wabarokatuh
>>> wa’alaikumussalam warohmatullohi wabarokatuh. Memang mengenai acara yasinan atau tahlilan diperlukan pembahasan yang mendalam. Silakan Anda cari rujukan-rujukan yang membahas mengenai hal ini. Yang penting niat Anda tulus untuk mencari kebenaran, insya Alloh akan akan mendapatkan jawaban dari pertanyaan Anda. Yang bisa saya jawab di sini, karena saya juga baru seorang tholabul ‘ilmi (pencari ilmu), adalah mengenai pendapat pribadi saya.
Sebelumnya saya jelaskan dulu yasinan dan tahlilan yang mana yang dimaksud. Jika yang dimaksud yasinan adalah membaca/mengucapkan surat Yaasiin yang merupakan bagian dari isi Al-quran, silakan saja dilakukan kapan pun dan di mana pun sepanjang tidak melanggar syariat (yang melanggar misal: membaca Surat Yaasiin keras-keras di jam-jam istirahat sehingga mengganggu orang lain, membacanya di dalam WC/kamar mandi, dll). Kemudian jika tahlilan adalah mengucapkan tahlil, juga silakan saja. Bahkan yasinan dan tahlilan seperti ini dianjurkan. Namun, akan menjadi masalah adalah ketika acara yasinan dan/atau tahlilan diadakan khusus untuk acara tertentu, misal yasinan yang dimaksudkan untuk mendoakan seseorang yang sudah meninggal (pada hari ke 7, 40, atau ke 100, dst sejak hari meninggal). Untuk yasinan/tahlilan yang seperti inilah yang perlu kajian yang mendalam. Itulah tadi yang saya katakan silakan cari rujukan-rujukannya.
Nah, berikutnya, saya ingin mengatakan bahwa bagi saya pribadi, acara seperti ini (yasinan untuk peringatan orang mati, atau yang sejenisnya), tidak ada dasarnya/tidak diajarkan dalam Islam. Rujukan yang saya gunakan paling sedikit ada 2:
- Hadits/atsar, yang artinya berikut ini:
Dari Jarir bin Abdullah Al Bajalii, “Kami (yakni para Shahabat semuanya) memandang/menganggap (yakni menurut madzhab kami para shahabat) bahwa berkumpul-kumpul di tempat ahli mayit dan membuatkan makanan sesudah ditanamnya mayit termasuk dari bagian meratap.”
[Sanad Hadits ini shahih dan rawi-rawinya semuanya tsiqat (dapat dipercaya) atas syarat Bukhori dan Muslim; dikeluarkan oleh Imam Ibnu Majah (No. 1612) dan Imam Ahmad di musnadnya (2/204)]
Perbuatan meratap terlarang menurut agama, dasarnya dari hadits yang artinya berikut ini:
Dari Abu Malik Al-Asy’ary Radahiyallahu ‘anhu, sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Apabila wanita yang meratap tangis tidak bertaubat sebelum dia meninggal, maka dia akan dibangkitkan pada hari kiamat, dan ditubuhnya dikenakah jubah yang penuh ‘ter dan zirah’ yang penuh penyakit kudis” [Hadits shohih, ditakhrij Muslim 6/235, Ahmad 5/334, dari hadits Abu Malik, Ibnu Majah, hadits nomor 1582 dari hadits Ibnu Abbas]
- Cek perbuatan para salafusholih (yaitu generasi awal-awal umat ini yang sholih, dari kalangan shahabat Nabi sholallohu ‘alaihi wassallam, para tabi’in, dan tabi’ut tabi’in). Mereka adalah generasi terbaik dari umat ini, berdasarkan hadits yang artinya: “Sebaik-baik umat manusia adalah generasiku (shahabat), kemudian orang-orang yang mengikuti mereka (tabi’in) dan kemudian orang-orang yang mengikuti mereka lagi (tabi’ut tabi’in).” (Muttafaq ‘alaih).
Saya belum/tidak menemukan satu pun riwayat yang memberitakan bahwa yasinan untuk acara kematian diadakan oleh orang-orang generasi tersebut. Jika mereka yang merupakan generasi terbaik saja tidak melakukan, mengapa kita yang tidak jelas statusnya (generasi apa?), berani melakukannya? Jika ada hal yang disyariatkan, jelas generasi terbaik dari umat ini pastilah akan berlomba-lomba dalam melakukannya.
Demikian. Wallohu a’lam.
Oleh: gandung37 on 14 September 2010
at 8:12 AM
kakinya srimpung2an kali ya dalam merapatkan barisan
Oleh: ari on 29 September 2010
at 2:54 PM
Assalamu’alaikum…
saya haxa ingin memberi gambaran tentang pengalaman saya saja.
saya bingung hrs bagaimana, saya memang dari kecil d ajarkan tuk shalat dengan cara merapatkan kaki seperti yg saudara jelaskan. tapi permasalahanx adalah sangat lah sulit tuk melakukanx ketika qt shalat berjama’ah d masjid2, karena para makmum yg lain tidak terbiasa melakukan tata cara shalat yg seperti saya td. sehingga ketika kaki saya mencoba tuk merapatkanx dengan kaki mereka, secara spontan kaki mereka menjauh.
Oleh: gilang on 9 Oktober 2010
at 10:07 PM
kemudian saya mencoba tuk melebarkan jangkauan kaki saya, tapi hal tsb malah membuat mereka risih dan m’ganggu kekhusyukkan shalat saya dan shalat mereka. karena kejadian tsb, kemudian d hari2 berikutx saya tidak melakukan ta2 cara shalat yg seperti itu lg hingga skrg.
pertanyaanx adalah apakah saya salah telah meninggalkan ta2 cara shalat yg seperti itu (karena saya mengetahui yg sebenarx, tapi saya tdk melakukanx)?
Oleh: gilang on 9 Oktober 2010
at 10:27 PM
kemudian saya mencoba tuk melebarkan jangkauan kaki saya, tapi hal tsb malah membuat mereka risih dan m’ganggu kekhusyukkan shalat saya dan shalat mereka. karena kejadian tsb, kemudian d hari2 berikutx saya tidak melakukan ta2 cara shalat yg seperti itu lg hingga skrg.
pertanyaanx adalah apakah saya salah telah meninggalkan ta2 cara shalat yg seperti itu (karena saya mengetahui yg sebenarx, tapi saya tdk melakukanx)?
Oleh: gilang on 9 Oktober 2010
at 10:27 pm
>>>>> hal tersebut juga sering saya alami sewaktu saya shalat berjamah…..yang mau saya tanyakan adalah , apakah kita shalat terus mengikut imam atau pikiran kita harus di sibukkan dengan merapatkan barisan dengan orang di samping kita.
atas jawaban nya saya ucapkan terima kasih.
Assalamu’alaikum warahmatullahiwabarakatuh
Oleh: dsdensyah4 on 21 Januari 2011
at 11:31 AM
Assalamualaikum, saya mau tanya ttg tata cara shalat berjamaah. Surat apa yg dibaca oleh makmum ketika imam membaca sebuah surat setelah Surat Alfatihah
Oleh: Lizarazu on 21 Februari 2011
at 3:52 PM
kenapamenggusap muka dianggap salah..???
Oleh: nusantara on 18 April 2011
at 6:09 PM
Red tea china tea sale:da hong pao,oolong tea,jin jun mei,lapsang souchong,red tea,china tea,chinese tea.Wu Yi Shan Tea of High Quality Worldwide Orders are Accepted:lapsang souchong
Oleh: red tea on 24 April 2011
at 2:39 AM
semua praktek shalat yg ada di sini kurang detail, gimana mau khusu kl shalat harus dirapetin kaya gito, takbirpun susah,
Oleh: ade on 6 Mei 2011
at 7:33 AM
asalmualikum ustadz..
ustadz saya mau tanya masalah qunut di waktu subuh.. ada hadits yg berpendapat qunut di waktu subuh adalah sunah, tapi ada yg mengatakan bhwa qunut secara terus-menerus adalah bid’ah. nah gimana ituh ustadz..?
makasih ustadz
Oleh: insan on 18 Mei 2011
at 8:09 PM
Ada baiknya saudara Zuhudi belajar banyak ilmu Fiqih…….Perbedaan itu membawa rahmad..saya turut mendukung gerakan sholat yang anda buat….tapi sebelum anda menyalahkan orang sholat?…..apakah anda sudah melakukan penelitian ke beberapa negara Islam sebut aja Arab saudi..Iraq..Quwait..dsb…kalau saudara melakukan penelitian tersebut anda bisa menyalahkan orang….” terima kasih wassalam….
Oleh: Ahmad on 21 Agustus 2011
at 10:26 AM
Assalamu’alaikum warohmatullohi wabarakatuh..
Pak ustadz, saya mau nanya nih..gimana posisi sujud yang benar untuk wanita…apakah sama dengan kaum pria…begitu juga posisi waktu kita shalat berjamaah…biasanya kami kaum wanita tidak bersentuhan tumit karena batas yg kami pakai adalah selebar sajadah kami…dgn kata lain kita tidak berdempetan (hanya bersentuhan pundak saja)…apakah hal ini sudah benar…saya selalu mengusap wajah selesai shalat sambil membaca Astaghfirullah dgn maksud mohon ampun kpd Allah SWT & juga saya selalu sujud sambil membaca tasbih dgn maksud saya selalu bersyukur atas rahmat yg Allah SWT berikan selama ini…berarti harus dihilangkan ya pak Ustadz kebiasaan ini…mohon penjelasannya.. makasih banyak ya pak…Wa’alaikum salam….
Oleh: tri astini on 4 November 2011
at 12:08 PM
mengpa sholat batal jika hidung menyentuh sajadah?
Oleh: najwa zami faradisa on 30 November 2011
at 12:59 PM
orang kalau ilmunya pada dangkal, senengnya berdebat masalah seperti ini terus. sampai kiamat juga gak akan selesai….
antum semua keliatan pemula2 dalam agama.
ngaji nahfu, shorof, dan kitab fikih aja belum khatam atau bahkan sama skali gak tau.
Oleh: Omah Tawon on 2 Januari 2012
at 9:37 PM
berlandaskan hadits dan alqur’an langsung tanpa imam yg 4, hal itu tidak cukup, untuk memahami kedua pusaka tersebut, kita msh awam.
karena itu dalam beribadah dan muamalah sudah d rangkum oleh imam yang 4 (Hanafi Syafii Hanbalu Ahmad) yg mana mereka telah mengambil dr al-quran dan hadits.
yg perlu diperhatikan. masalah imam dan makmum ketika sendirian, yg perlu d tegaskan adalah makmum agak mundur sedikit dr tumit imam, bukan sejajar.
karena yg d ukur adalah belakang tumit.
biila kita maju sedikit saja baik ketika berdiri maupun sujud, maka shalatnya tidak sah…coba pelajari etika imam dan makmum….
Oleh: abdi on 10 Maret 2012
at 2:40 PM