Oleh: zuhudhi | 14 November 2009

Tauhid, Hal Terpenting dalam Beragama (Islam)

———————————–

Tauhid adalah sesuatu yang sudah akrab di telinga kita. Namun tidak ada salahnya kita mengingat beberapa keutamaannya. Karena dengan begitu bisa menambah keyakinan kita atau meluruskan tujuan sepak terjang kita yang selama ini mungkin keliru. Karena melalaikan masalah tauhid akan berujung pada kehancuran dunia akhirat.

Tujuan diciptakannya makhluk hidup adalah untuk bertauhid

Alloh Ta’ala berfirman,”Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku” (Adz Dzariyaat: 56). Imam Ibnu Katsir rahimahulloh berkata, yaitu tujuan mereka Kuciptakan adalah untuk Aku perintah agar beribadah kepada-Ku, bukan karena Aku membutuhkan mereka. (Tafsir Al Qur’anul ‘Adzhim, Tafsir surat Adz Dzariyaat). Makna menyembah-Ku dalam ayat ini adalah mentauhidkan Aku, sebagaimana ditafsirkan oleh para ulama salaf.

Tujuan diutusnya para Rosul adalah untuk mendakwahkan  tauhid

Alloh Ta’ala berfirman, ”Sungguh telah Kami utus kepada setiap umat seorang Rosul (yang mengajak) sembahlah Alloh dan tinggalkan thoghut” (An Nahl: 36). Thoghut adalah sesembahan selain Alloh. Syaikh As Sa’di berkata, Alloh Ta’ala memberitakan bahwa hujjah-Nya telah tegak kepada semua umat, dan tidak ada satu umatpun yang dahulu maupun yang belakangan, kecuali Alloh telah mengutus dalam umat tersebut seorang Rosul. Dan seluruh Rosul itu sepakat dalam menyerukan dakwah agama yang satu yaitu beribadah kepada Alloh saja tidak boleh ada satupun sekutu bagi-Nya (Tafsir karimirrohman, Tafsir surat An Nahl). Beribadah kepada Alloh dan mengingkari thoghut itulah hakekat makna tauhid.

Tauhid adalah kewajiban pertama dan terakhir

Rosul memerintahkan para utusan dakwahnya agar menyampaikan tauhid terlebih dulu sebelum yang lainnya. Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Mu’adz bin Jabal rodhiyallohu ta’ala ‘anhu. Jadikanlah perkara yang pertama kali kamu dakwahkan ialah agar mereka mentauhidkan Alloh.” (riwayat Bukhori dan Muslim). Nabi juga bersabda, ”Barang siapa yang perkataan terakhirnya Laa ilaaha illalloh niscaya masuk surga” (riwayat Abu Dawud, Ahmad dan Hakim dihasankan Al Albani dalam Irwa’ul Gholil).

Tauhid adalah kewajiban yang paling wajib

Alloh berfirman, ”Sesungguhnya Alloh tidak mengampuni dosa syirik, dan Alloh mengampuni dosa selain itu bagi orang-orang yang Dia kehendaki ” (An Nisaa’: 116). Sehingga syirik menjadi larangan yang terbesar. Sebagaimana syirik adalah larangan terbesar maka lawannya yaitu tauhid menjadi kewajiban yang besar pula. Alloh menyebutkan kewajiban ini sebelum kewajiban lainnya yang harus ditunaikan oleh hamba. Alloh Ta’ala berfirman, ”Sembahlah Alloh dan janganlah kamu menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, dan berbuat baiklah kepada orang tua” (An Nisaa’: 36).

Kewajiban ini lebih wajib daripada semua kewjiban, bahkan lebih wajib daripada berbakti kepada orang tua. Sehingga seandainya orang tua memaksa anaknya untuk berbuat syirik maka tidak boleh ditaati. Alloh berfirman, ”Dan jika keduanya (orang tua) memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya . . . “ (Luqman: 15).

Baca Lanjutannya…

Oleh: zuhudhi | 7 Oktober 2009

KAPAN MUSIBAH YANG MELANDA INDONESIA BERAKHIR…

Belakangan ini musibah demi musibah melanda negeri kita, Indonesia. Berikut ini saya sajikan artikel yang membahas perkiraan mengapa musibah di Indonesia datang silih berganti, ditinjau dari mata hati dan kacamata agama. Artikel ini saya pilih sebab pembahasannya cukup menyeluruh, masuk akal, aktual dan adil. Silakan disimak.

————————————-

Bencana

bencana - memilukan

Musibah berkepanjangan yang melanda bangsa Indonesia ini kalau kita hitung mulai dari pertengahan 1997, saat ini telah memasuki tahun yang keduabelas.

Musibah nasional yang berawal dari krisis moral, krisis ekonomi, krisis keamanan, krisis politik, hingga bencana alam silih berganti yang tiada henti, berupa banjir bandang dan tanah longsor dimana-mana, gempa dan tsunami di aceh, di Jogja, di Jawa Barat serta semburan lumpur panas Lapindo dan masih sederet musibah lagi yang terus melanda negeri ini dan kita juga tidak tahu bencana apalagi yang akan ditimpakan Alloh kepada kita, karena kelihatannya bangsa ini juga sudah terbiasa dengan segala bencana tanpa tahu apa kesalahan yang diperbuatnya, dan kami juga yakin tak seorangpun tahu kapan musibah yang melanda bangsa Indonesia ini akan berakhir, hanya Alloh-lah yang tahu.

Sudah banyak upaya yang ditempuh bangsa ini agar bisa segera keluar dari musibah berkepanjangan tersebut, mulai dari do’a sampai memilih Pemimpin/Presiden baru.

Do’a yang dipanjatkan kepada Sang Pencipta juga beragam cara, ada yang sesuai dengan tuntunan Agama tapi banyak juga yang dengan cara masing-masing.

Dalam hal memilih Pemimpin/Presiden, sejak kejatuhan Soeharto tahun 1998, Republik ini telah berganti empat Presiden, mulai dari Tehnokrat, Kiai, Nasionalis sampai Jendral, dan para Presiden tersebut dengan cara masing-masing kelihatannya juga berusaha untuk keluar dari musibah dengan melibatkan para pakar kepercayaannya, namun kenyataannya sampai saat ini musibah juga masih terus berlanjut.
Kalau kita mau jujur, bangsa Indonesia ini sebenarnya adalah bangsa yang dimanjakan oleh Alloh dengan kekayaan alamnya yang melimpah ruah: mulai dari kekayaan lautnya, saking kayanya meskipun setiap hari dicuri berjuta-juta ton oleh nelayan asing kekayan laut kita tidak habis-habisnya; kekayaan tambangnya, mulai tambang emas, perak, biji besi, timah, minyak, gas dll. ; kekayaan hutannya, beribu-ribu jenis tanaman yang hanya tumbuh di negeri ini, bahkan kayu terbaik di Dunia (jati) dulu hanya tumbuh di tiga negara salah satunya Indonesia . Kesuburan tanahnya yang luar biasa, apapun yang kita tanam pasti akan tumbuh dengan baik, mulai dari buah-buahan, sayur-sayuran dan banyak lagi yang kalau mau kita hitung kita tidak akan mampu menghitungnya, tidak ada satu negarapun di Dunia ini yang kekayaan alamnya menyamai Indonesia, sampai-sampai ada seorang guru besar dari Al-Azhar Kairo, tercengang waktu berkunjung ke Batu-Malang, dia berucap kagum : “subhanalloh… ini adalah sebagian dari sorga yang Alloh berikan kepada manusia“

Timbul pertanyaan, kenapa Negara Indonesia yang kaya raya bisa jatuh miskin dan tertimpa musibah yang berkepanjangan, padahal mayoritas rakyatnya beragama Islam, yang katanya Islam menjamin pemeluknya mendapat keselamatan, kesejahteraan dan kebahagiaan dunia dan akhirat, kalau begitu dimana letak kebenaran Islam tersebut.

Jawabnya tentu kita tidak boleh berprasangka buruk kepada Alloh, maha suci Alloh dari segala kesalahan yang sekecil apapun, Alloh adalah Zat yang maha sempurna termasuk sempurna menciptakan jagad raya beserta seluruh isinya dengan segala aturannya (Islam).

Islam memang berarti selamat/damai/sejahtera, tapi Islam juga berarti perilaku patuh/ tunduk dan Islam juga merupakan suatu sistim berupa aturan dari Alloh untuk seluruh mahluk ciptaannya, termasuk juga aturan untuk manusia, atau dengan kata lain Islam bukan hanya sekedar pengakuan yang tertulis dalam KTP, atau hanya pengakuan secara lisan

Jadi pengertian Islam sebenarnya adalah suatu sistim yang berlaku untuk seluruh ciptaan Alloh di jagad raya ini berupa: “ perilaku patuh/tunduk kepada aturan Alloh sehingga Alloh menjamin pelakunya pasti selamat/damai /sejahtera dan bahagia dunia dan akhirat.

Coba kita renungkan sejenak, mengapa bumi/tatasurya kita ini yang usianya sudah berjuta tahun, bahkan menurut hitungan para ahli sudah mencapai 12 milyar tahun, semua masih berjalan normal, jawabnya tentu karena kepatuhan (Islam) kepada Alloh, coba seandainya bumi tidak patuh kepada Alloh atau keluar dari garis edar yang ditetapkan oleh Alloh, sudah pasti akan hancur berantakan bertabrakan dengan planet lain.

Kepatuhan ciptaaan Alloh tersebut disampaikan didalam Al-Qur’an :

surat An-Nahl (XVI) ayat 49, yang artinya :

“dan hanya kepada Alloh sajalah bersujud segalanya yang ada di langit, maupun yang ada di bumi, sejak binatang-binatang yang berkeliaran, hingga para malaikat. Lagi pula mereka tidak pernah sombong”.

surat Ali –Imron (III) ayat 83, yang artinya :

“Apakah mereka akan mencari agama lain dari Agama Alloh ? padahal seluruh mahkluk yang ada di langit dan di bumi semuanya menyatakan patuh kepadaNya, suka atau tidak suka. Dan kepada-Nya-lah mereka dikembalikan.

Manusia memang mahluk yang diistimewakan olkeh Alloh, selain diciptakan sebagai sebaik-baik kejadian “laqod kholaqnal insanaa fii ahsani taqwim“, manusia juga diberi kelebihan lainnya yaitu kemerdekaan, tapi kenapa dengan beberapa kelebihan yang diberikan oleh Alloh tersebut kebanyakan manusia malah tidak patuh kepada Alloh ?

Ternyata justru kelebihan berupa kemerdekaan inilah yang disalahgunakan oleh manusia, padahal dengan kemerdekaan tersebut Alloh ingin menguji kepatuhan manusia sekaligus memberikan penghargaan (reward) berupa Sorga bagi yang patuh (Islam), dan hukuman (punish) berupa Neraka bagi yang tidak patuh (kafir).

Oleh karena itu kita (umat Islam) wajib instrospeksi, mengapa musibah yang menimpa bangsa ini seakan tiada akhirnya, apakah perilaku kita selama ini sudah patuh dan tunduk pada aturan Alloh (Islam), atau justru sebaliknya perilaku kita menentang aturan Alloh (kafir), mari kita renungkan…

1. Kita termasuk bangsa yang bebal dan berani menentang Alloh:

- Bangsa kita memang termasuk bangsa yang bebal dan berani menantang Alloh, Agama selalu mengajarkan kita supaya kita menjaga lingkungan, namun yang terjadi justru sebaliknya, lingkungan kita rusak, hutan-hutan yang merupakan kekayaan alam sekaligus paru-paru dunia dibabat dan dibakar membabi buta, perut bumi dibor/ dikeruk isinya tanpa memikirkan akibatnya;

- Alloh dengan jelas melarang semua bentuk perbuatan maksiat (pelacuran, perjudian dan minuman keras) tapi kenapa hal tersebut justru tumbuh subur di negeri ini yang katanya mayoritas penduduknya beragama Islam. Mengapa diskotek yang jelas-jelas sarangnya minuman keras, ekstasi, sabu-sabu dsb. yang terang-terangan merusak moral generasi bangsa direstui? ada yang beralasan kalau tidak ada diskotek tidak ada turis yang masuk ke negeri ini, mengapa jaminan turis mengalahkan jaminan Alloh;

“ Jika sekiranya penduduk kota-kota itu beriman dan bertaqwa, niscaya Kami bukakan untuk mereka pintu-pintu rahmat dari langit dan bumi” (Al-A’rof 96)

Baca Lanjutannya…

Oleh: zuhudhi | 27 Juli 2009

Jihadkah Bom Bunuh Diri?!

Disebabkan adanya peristiwa pengeboman (plus bunuh diri dari pelakunya) yang marak terjadi (baru-baru ini adalah peristiwa pengeboman Hotel JW Marriot dan Ritz Carlton di Jakarta pada tanggal 17 Juli 2009 / 23 Rojab 1430 H yang lalu) (baru-baru ini adalah peristiwa pengeboman Hotel JW Marriott dan Ritz Carlton di Jakarta pada tanggal 17 Juli 2009 / 24 Rojab 1430 H yang lalu — jika memang benar sebuah bom bunuh diri), dan adanya pertanyaan melalui komentar di blog ini, maka saya tampilkan artikel yang saya kutip (dengan beberapa pengeditan, tentu tanpa mengurangi esensi) dari situs muslim.or.id, berikut ini.

————————————–

Beberapa tahun yang silam pernah terjadi pengeboman dan perusakan di kota Riyadh, saat itulah Syeikh Abdul Muhsin Al Abbad Al Badr angkat suara, “Alangkah miripnya kata tadi malam dengan semalam. Sesungguhnya peristiwa pemboman dan perusakan di kota Riyadh dan senjata-senjata lain yang digunakan di kota Makkah maupun Madinah pada awal tahun ini (1424 H, sekitar tahun 2003) merupakan hasil rayuan setan yang berupa bentuk meremehkan atau berlebih-lebihan dalam beragama. Sejelek-jeleknya perbuatan yang dihiasi oleh setan adalah yang mengatakan bahwa pengeboman dan perusakan adalah bentuk jihad. Akal dan agama mana yang menyatakan membunuh jiwa, memerangi kaum muslimin, memerangi orang-orang kafir yang mengadakan perjanjian dengan kaum muslimin, membuat kekacauan, membuat wanita-wanita menjanda, menyebabkan anak-anak menjadi yatim, dan meluluhlantakkan bermacam bangunan sebagai jihad(?)

Selanjutnya kita akan melihat berbagai ayat dan hadits yang menjelaskan bahwa syariat-syariat terdahulu juga menjelaskan hukuman keras terhadap pembunuhan. Juga akan dijelaskan pula mengenai bahaya akibat membunuh sesama muslim, hukum bunuh diri dan hukum membunuh orang kafir yang mengadakan perjanjian dengan kaum muslimin.

Beratnya Hukuman Pembunuhan Menurut Syariat Terdahulu

Alloh Ta’ala berfirman mengenai kedua anak Adam yang saling membunuh,

فَطَوَّعَتْ لَهُ نَفْسُهُ قَتْلَ أَخِيهِ فَقَتَلَهُ فَأَصْبَحَ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Maka hawa nafsu Qobil menjadikannya menganggap mudah membunuh saudaranya, sebab itu dibunuhnyalah. Maka jadilah ia seorang di antara orang-orang yang merugi.” (Qs. Al Maidah: 30)

Begitu pula hukuman keras bagi Bani Israel yang membunuh seorang manusia, Alloh Ta’ala berfirman,

مِنْ أَجْلِ ذَلِكَ كَتَبْنَا عَلَى بَنِي إِسْرَائِيلَ أَنَّهُ مَنْ قَتَلَ نَفْسًا بِغَيْرِ نَفْسٍ أَوْ فَسَادٍ فِي الأرْضِ فَكَأَنَّمَا قَتَلَ النَّاسَ جَمِيعًا وَمَنْ أَحْيَاهَا فَكَأَنَّمَا أَحْيَا النَّاسَ جَمِيعًا

“Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Isroil, bahwa: barang siapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barang siapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya.” (Qs. Al Maidah: 32)

Bahkan bagi anak Adam yang membunuh saudaranya, dia akan terus menanggung dosa orang-orang sesudahnya yang melakukan pembunuhan. Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ تُقْتَلُ نَفْسٌ ظُلْمًا إِلاَّ كَانَ عَلَى ابْنِ آدَمَ الأَوَّلِ كِفْلٌ مِنْ دَمِهَا . وَذَلِكَ لأَنَّهُ أَوَّلُ مَنْ سَنَّ الْقَتْلَ

“Tiada pembunuhan yang terjadi karena kezhaliman melainkan anak Adam yang pertama (yakni Qobil) yang akan menanggung dosa pembunuhan tersebut karena dialah yang pertama kali melakukannya.” (HR. Bukhari no. 32 dan Muslim no. 1677)

Baca Lanjutannya…

Oleh: zuhudhi | 6 Juli 2009

Way of Life, antara Alloh-made vs Man-made

—————————————

Ketika Rub’iy bin Amer rodhiyallohu ’anhu bernegosiasi dengan Panglima Angkatan Bersenjata Persia bernama Rustum, beliau menyampaikan tiga pesan yang menjadi ucapan legendaris dalam sejarah Islam. Point ketiga dari pesan beliau berbunyi sebagai berikut:

”Sesungguhnya Alloh mengutus kami (ummat Islam) untuk mengeluarkan hamba-hamba Alloh (ummat manusia) dari kezaliman berbagai dien menuju keadilan Al-Islam.”

Kata dien seringkali diterjemahkan dengan istilah agama. Padahal dien merupakan suatu istilah yang bermakna jauh lebih luas daripada sekadar agama. Sebab agama pada galibnya diasosiasikan dengan agama Yahudi, Nasrani, Hindu, Budha dan lain sebagainya yang semuanya hanya terbatas pada sistem religi atau sistem keyakinan. Sedangkan kata dien berarti sistem hidup atau way of life dimana sistem religi hanya merupakan salah satu bagian daripadanya. Contoh way of life ialah Komunisme, Kapitalisme, Liberalisme, Sosialisme, Nasionalisme, Demokrasi, Theokrasi dan tentu saja Islam termasuk di dalamnya.

Perbedaannya ialah bahwa berbagai dien selain Al-Islam merupakan dien buatan manusia atau man-made way of lives. Sementara Islam merupakan satu-satunya dien ciptaan Alloh sehingga ia disebut Dienulloh (Alloh-made way of life). Seluruh dien buatan manusia atau man-made way of lives  pasti mengandung ketidaksempurnaan. Sebab ia dibuat oleh manusia yang tidak luput dari khilaf dan kesalahan. Sedangkan Islam merupakan dien yang sempurna karena diciptakan oleh Alloh Yang Maha Sempurna. Segenap dien buatan manusia sedikit banyak pasti mengandung kezaliman, sedangkan dienulloh Al-Islam merupakan satu-satunya dien yang akan mengantarkan manusia ke dalam hidup penuh keadilan.

Mengapa segenap dien selain Islam pasti melahirkan kezaliman? Karena segenap dien tersebut dibuat oleh manusia yang Alloh sendiri gambarkan sebagai makhluk yang zalim lagi bodoh. Manusia dikatakan zalim dan bodoh karena bersedia menerima amanah berat yang sebelumnya telah ditawarkan kepada langit, bumi dan gunung-gunung namun mereka semua enggan memikul amanah berat tersebut. Lalu manusia menerimanya. Maka Alloh sebut manusia sebagai makhluk yang zalim lagi bodoh.

”Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh.” (QS Al-Ahzab ayat 72)

Baca Lanjutannya…

Oleh: zuhudhi | 14 Mei 2009

Cuma Ada pada Seorang Mukmin

—————————————-

Karakter mengagumkan yang tidak ditemukan pada pribadi yang bukan mukmin

Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh mengagumkan urusan seorang mukmin. Sesungguhnya semua urusannya adalah baik. Dan hal itu tidak akan diperoleh kecuali oleh seorang mukmin. Apabila dia mendapatkan kesenangan, maka dia bersyukur. Maka hal itu merupakan kebaikan baginya. Dan apabila dia tertimpa kesusahan maka dia bersabar. Maka itu juga merupakan kebaikan baginya.” (HR. Muslim)

Dua pilar keimanan

Ibnul Qoyyim rohimahulloh di dalam Madarij as-Salikin menjelaskan bahwa iman itu terdiri dari dua bagian, satu bagian sabar dan satu bagian yang lain adalah syukur. Terdapat riwayat serupa dari Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam namun riwayat itu dilemahkan oleh Syaikh al-Albani (lihat ad-Dho’ifah [625]). Ibnul Qoyyim juga menggambarkan bahwa sabar bagi iman laksana kepala bagi tubuh seorang insan. Ungkapan serupa juga diriwayatkan dari Ali bin Abi Tholib rodhiyallohu’anhu. Sehingga, tidak ada iman pada diri orang yang tidak memiliki kesabaran, sebagaimana halnya tidak berfungsi tubuh apabila tidak ada kepalanya (lihat Hasyiyah Kitab at-Tauhid).

Demikian pula syukur, ia merupakan bukti keseriusan seorang hamba dalam mengabdi dan tunduk kepada Robbnya. Alloh ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan bersyukurlah kepada Alloh jika kalian benar-benar beribadah hanya kepada-Nya.” (QS. al-Baqarah : 172). Alloh menciptakan pendengaran, penglihatan, dan hati adalah untuk bersyukur kepada-Nya. Alloh ta’ala berfirman (yang artinya), “Alloh mengeluarkan kalian dari perut ibu-ibu kalian dalam keadaan kalian tidak mengetahui apa-apa, dan Alloh menciptakan untuk kalian pendengaran, penglihatan, dan hati mudah-mudahan kalian bersyukur (kepada-Nya).” (QS. an-Nahl : 78).

Syukur ketika mendapat nikmat

Syukur adalah ibadah yang sangat agung. Alloh ta’ala berfirman (yang artinya), “Ingatlah kalian kepada-Ku niscaya Aku pun akan mengingat kalian, dan bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kalian kufur.” (QS. al-Baqoroh: 152). Barangsiapa yang bersyukur kepada Alloh maka Alloh akan tambahkan nikmat kepada-Nya. Sebaliknya, barangsiapa yang justru kufur maka sesungguhnya siksaan Alloh sangatlah keras. Alloh berfirman (yang artinya), “Dan ingatlah ketika Robb kalian mengumumkan kepada kalian; Jika kalian bersyukur maka akan Aku tambahkan nikmat-Ku atas kalian dan jika kalian kufur, sesungguhnya siksa-Ku sangatlah keras.” (QS. Ibrohim : 7).

Hakikat dari syukur itu adalah mengakui di dalam hati bahwa nikmat yang ada ini adalah dari Alloh, memuji Alloh dengan lisannya, dan menggunakan nikmat-nikmat itu untuk taat kepada-Nya. Di dalam Madarij as-Salikin, Ibnul Qoyyim rohimahulloh memaparkan bahwa syukur itu akan tegak jika ditopang oleh lima pilar : [1] tunduk dan merendah kepada Dzat yang disyukuri -yaitu Alloh-, [2] cinta kepada-Nya, [3] mengakui bahwa nikmat itu adalah pemberian-Nya, [4] memuji-Nya -dengan lisan- atas limpahan nikmat tersebut, dan [5] tidak memanfaatkannya dalam perkara yang dibenci-Nya. Inilah lima pilar syukur, apabila salah satunya hilang maka cacatlah syukur yang ada pada diri seorang hamba.

Baca Lanjutannya…

Oleh: zuhudhi | 16 Maret 2009

Aliran Sesat, Kenali dan Hindari

Bila kita memperhatikan keadaan ummat Islam sekarang ini, terutama di Indonesia, sungguh sangat memprihatinkan. Bagaimana tidak, kondisi ummat saat ini bisa dibilang jauh dari sentuhan ilmu agama. Mereka banyak yang mengaku beragama Islam, namun perilaku mereka sama sekali tidak mencerminkan ajaran Islam, atau dengan kata lain tidak Islami. Parahnya  ada juga orang yang awam soal agama tetapi sok pintar, sok tahu soal perkara agama. Misalnya, ada oknum yang berkoar-koar menolak atau menerima sesuatu yang berkaitan dengan masalah agama, padahal ketika ditanyai tentang rukun sholat dan wudhu – yang termasuk ilmu dasar agama Islam yang wajib diketahui sebelum yang lainnya – dia tidak bisa menjawab! Apa tidak lancang orang yang seperti ini?! Yang lebih parahnya lagi, pendapat orang-orang seperti ini di-ekspos di media, sehingga terjadilah polemik di masyarakat! Yang proporsional seyogyanya perkara agama ya diserahkan kepada yang paham agama, bukan sembarangan ditanyakan kepada orang di pinggir jalan. Sebab orang yang tidak paham agama, bisa jadi dia bukan muslim, meskipun dia mengaku beragama Islam, sebab perilaku yang salah bisa membatalkan keislaman seseorang. Kalau status keislaman seseorang sudah batal, otomatis kafirlah dia. Masak perkara agama Islam ditanyakan kepada orang non-muslim, bukankah ini aneh??

Bukti lain dari jauhnya ummat dari sentuhan ilmu agama ini adalah banyaknya aliran yang mengatasnamakan Islam, namun ajarannya jauh dari Islam, bahkan cenderung sesat dan menyesatkan. Yang lebih mengherankan, aliran-aliran seperti ini ada saja pengikutnya! Bahkan jumlah pengikutnya tidak hanya puluhan, tetapi ada yang jumlahnya ribuan bahkan jutaan orang. Terlepas dari hal ini memang sudah qodarulloh (takdir dari Alloh), fenomena apakah ini?! Apakah ini karena kurang tersebarnya ilmu agama Islam di masyarakat? Kalau ini benar, muncul pertanyaan baru: Ke mana para da’i selama ini? Dilihat secara kuantitas, kelihatannya jumlah da’i tidak sedikit. Lihat saja di media-media massa, banyak da’i yang mengisi kolom-kolom artikel di surat-surat kabar harian. Apa kualitasnya yang kurang diperhatikan, atau materinya kurang mengena? Entahlah. Ini bisa jadi bahan renungan untuk para da’i.

Itulah sebabnya di sini saya ingin membantu tugas da’i – meskipun saya masih jauh untuk bisa disebut da’i – untuk mengingatkan ummat bahwa aliran sesat itu benar-benar ada dan agar ummat menjadi waspada terhadap aliran-aliran yang berkembang. Di sini tidak akan disebutkan nama dari aliran-aliran sesat tersebut. Saya serahkan sepenuhnya kepada pembaca untuk menilainya. Di sini saya berikan artikel yang membantu pembaca untuk menilai suatu aliran termasuk sesat atau tidak. Artikel ini saya sadur dari situs Buletin At-Tauhid. Pembahasan artikel ini termasuk lengkap dan komprehensif, sebab terdapat pembahasan latar belakang, ciri-ciri aliran sesat, dan memberikan solusi ataupun tips bagaimana menghindari aliran-aliran semacam ini. Selamat membaca.

—————————————

Sungguh Alloh Ta’ala Maha Bijaksana, telah menciptakan segala sesuatu berpasang-pasangan. Ada hitam, juga ada putih. Ada manis ada juga pahit. Ada terang dan ada gelap. Ada kebaikan, maka ada pula keburukan. Nah, maka jika ada jalan kebenaran, di sana pun ada jalan kesesatan.

Entah mengapa sebagian orang alergi dengan kata ‘sesat’ dan tidak mau membahasnya. Seakan-akan bagi mereka segala sesuatu itu benar dan tidak ada yang salah. Padahal Rosululloh shollallohu ’alaihi wa sallam sendiri seringkali mengisyaratkan adanya kesesatan dalam beragama dan senantiasa memperingatkan ummat agar menjauhinya. Diriwayatkan dari sahabat Ibnu Mas’ud rodhiyallohu’anhu, ia berkata: “Rosululloh shollallohu ’alaihi wa sallam pernah membuat garis dengan tangannya, lalu bersabda: ‘Ini jalan yang lurus’. Kemudian, beliau membuat beberapa garis di kanan-kirinya, lalu bersabda: ‘Ini semua adalah jalan-jalan yang sesat, pada masing-masing jalan ini ada setan-setan yang mengajak untuk masuk ke sana’ ” (HR. Ahmad, An Nasa’i dan Ad Darimi. Syaikh Al Albani dalam Misykatul Mashobih mengatakan bahwa hadits ini hasan)

Lalu apa pentingnya membahas tentang kesesatan dalam beragama? Perhatikan sebuah syair arab nan indah, yang dapat menjawab pertanyaan ini:

“Aku mengenal keburukan bukan untuk berbuat keburukan. Namun aku mengenalnya agar bisa menjauhinya. Karena orang yang tidak mengenal keburukan, biasanya akan terjerumus ke dalamnya”.

Jalan Kesesatan Itu Banyak

Tentu pembaca telah mengetahui bahwa sesuatu dikatakan sesat bila ia tidak berjalan pada jalan yang benar. Sebagaimana seorang musafir dari kota A ingin menuju kota B namun karena salah meniti jalan ia malah sampai ke kota C. Maka si musafir tersebut kita katakan ia telah tersesat. Demikian juga dalam beragama, seseorang dikatakan sesat dalam beragama jika ia tidak menempuh jalan atau metode beragama yang benar sesuai Al Qur’an, hadits dan pemahaman para sahabat. Kesesatan dalam beragama ini memiliki probabilitas yang banyak. Dengan kata lain, bentuk, cara dan pola kesesatan dalam beragama sangat beragam dan sangat mungkin akan terus bertambah dari zaman ke zaman.

Sebagaimana hadits yang telah lewat bahwa Rosululloh shollallohu ’alaihi wa sallam mengisyaratkan jalan kebenaran dengan sebuah garis dan mengisyaratkan kesesatan dengan garis yang banyak. Seolah-olah beliau ingin menyampaikan bahwa jalan kebenaran itu hanya 1 dan jalan kesesatan itu banyak. Al Qur’anul Karim pun menegaskan hal ini. Ketika mengabarkan tentang jalan kebenaran, Alloh Ta’ala menggunakan lafadz mufrod (tunggal), misalnya firman Alloh Ta’ala (yang artinya), “Tunjukkanlah kami shiroth (jalan) yang lurus” (QS.Al Fatihah: 6). Di sini shirothun dalam bentuk tunggal, sedangkan bentuk jamaknya adalah shuruthun. Sebaliknya, ketika menyebutkan tentang jalan kesesatan Alloh Ta’ala selalu menggunakan lafadz jamak. Misalnya firman Alloh Ta’ala (yang artinya), “Dan janganlah kamu mengikuti subul (jalan-jalan) mereka (karena jalan-jalan itu) akan memecah belah kamu dari jalan Alloh.” (QS.Al An’am: 153). Subulun adalah bentuk jamak dari sabiilun. Jadi, jalan kesesatan itu banyak. Sedangkan jalan kebenaran hanyalah satu.

Baca Lanjutannya…

Oleh: zuhudhi | 23 Februari 2009

Salah Kaprah dalam Memaknai Kalimat Tauhid

————————————

Masih terngiang-ngiang dalam ingatan kita ketika dulu zaman masih sekolah SD atau SMP, kita diajarkan bahwa makna kalimat tauhid “laa ilaaha illalloh” adalah “Tidak ada Tuhan selain Alloh”. Inilah makna yang selama ini terpatri dalam hati sanubari kita tanpa sedikit pun kita berfikir tentang kebenaran makna tersebut. Karena memang itulah yang diajarkan oleh guru-guru kita pada saat masih sekolah dulu. Kesalahfahaman ini tidak hanya dialami oleh masyarakat awam, bahkan orang-orang yang dikenal sebagai “cendekiawan” muslim pun salah faham (atau memang sengaja salah?? – zuh) tentang makna kalimat tauhid ini. Buktinya, di antara mereka ada yang mengartikan “laa ilaaha illalloh” sebagai “Tidak ada tuhan (“t” kecil) selain Tuhan (“t” besar)”.

Untuk Apa Membahas Makna Kalimat Tauhid?

Perlu digarisbawahi bahwa kalimat “laa ilaaha illalloh” yang diucapkan oleh seseorang tidak akan bermanfaat kecuali dengan memenuhi seluruh syarat dan rukunnya serta mengamalkan konsekuensinya. Hal ini seperti ibadah shalat yang tidak akan sah kecuali dengan memenuhi syarat dan rukunnya, serta tidak melakukan pembatal shalat. Di antara syarat “laa ilaaha illalloh” yang harus dipenuhi adalah seseorang harus mengetahui makna kalimat tersebut.

Alloh Ta’ala berfirman yang artinya, Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada sesembahan yang benar selain Alloh” (QS. Muhammad [47]: 19). Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa mati dalam keadaan mengetahui bahwa tidak ada sesembahan yang benar kecuali Alloh, maka dia akan masuk surga” (HR. Muslim).

Dari dalil-dalil dari Al Qur’an dan As-Sunnah tersebut, para ulama rahimahullah menyimpulkan bahwa salah satu syarat sah “laa ilaaha illalloh” adalah seseorang mengetahui makna “laa ilaaha illalloh” dengan benar.

Tidak Ada “Tuhan” selain Alloh

“Tidak ada Tuhan selain Alloh” merupakan makna kalimat “laa ilaaha illalloh” yang populer di kalangan kaum muslimin. Dalam hal ini, kata “ilah” diartikan dengan kata “Tuhan”. Namun perlu diketahui bahwa kata “Tuhan” dalam bahasa Indonesia memiliki dua makna. Pertama, kata “Tuhan” yang identik dengan pencipta, pengatur, penguasa alam semesta, pemberi rizki, yang menghidupkan, yang mematikan, dan yang dapat memberikan manfaat atau mendatangkan madharat. Kedua, kata “Tuhan” yang berarti sesembahan. Yaitu sesuatu yang menjadi tujuan segala jenis aktivitas ibadah.

Karena terdapat dua makna untuk kata “Tuhan”, maka kalimat “Tidak ada Tuhan selain Alloh” juga memiliki dua pengertian. Pengertian pertama, “Tidak ada pencipta, pemberi rizki, dan pengatur alam semesta selain Alloh”. Pengertian kedua, “Tidak ada sesembahan selain Alloh”. Oleh karena itu, dalam pembahasan selanjutnya kita akan meninjau apakah memaknai kalimat “laa ilaaha illalloh” dengan kedua pengertian tersebut sudah benar serta berdasarkan dalil-dalil dari Al Qur’an dan As-Sunnah?

Baca Lanjutannya…

Oleh: zuhudhi | 28 Januari 2009

Yahudi AS, Pindah ke Israel dan Masuk Islam

—————————————

Pada tahun 1998, Joseph Cohen seorang Yahudi Ortodoks kelahiran AS hijrah ke Israel karena keyakinannya yang sangat kuat pada ajaran Yudaisme. Ia kemudian tinggal di pemukiman Yahudi Gush Qatif di Gaza (Israel mundur dari wilayah Jalur Gaza pada tahun 2005).

Cohen tak pernah mengira bahwa kepindahannya ke Israel justru membawanya pada cahaya Islam. Setelah tiga tahun menetap di Gaza, Cohen memutuskan untuk menjadi seorang Muslim setelah ia bertemu dengan seorang syaikh asal Uni Emirat Arab dan berdiskusi tentang teologi dengan syaikh tersebut lewat internet. Setelah masuk Islam, Cohen mengganti namanya dengan nama Islam Yousef al-Khattab.

Tak lama setelah ia mengucapkan syahadat, istri dan empat anak Yousef mengikuti jejaknya menjadi Muslim. Sekarang, Yousef al-Khattab aktif berdakwah di kalangan orang-orang Yahudi, meski ia sendiri tidak diakui lagi oleh keluarganya yang tidak suka melihatnya masuk Islam.

“Saya sudah tidak lagi berhubungan dengan keluarga saya. Kita tidak boleh memutuskan hubungan kekeluargaan, tapi pihak keluarga saya adalah Yahudi dengan entitas ke-Yahudi-annya. Kami tidak punya pilihan lain, selain memutuskan kontak untuk saat ini. Kata-kata terakhir yang mereka lontarkan pada saya, mereka bilang saya barbar,” tutur Yousef tentang hubungan dengan keluarganya sekarang.

Baca Lanjutannya…

Oleh: zuhudhi | 26 Januari 2009

Hari Ini (26/01/09) Gerhana Lho!

Membaca salah satu berita di jagad maya, ternyata hari ini, Senin 26 Januari 2009 (bertepatan dengan 29 Muharrom 1430 H), akan terjadi gerhana. Gerhana yang terjadi adalah gerhana matahari yang diperkirakan terjadi mulai pukul 14.00-16.30 sore ini. Berikut beritanya.

————————————–

BANDUNG, (PRLM).- Ormas-ormas Islam di Jawa Barat menyerukan kaum Muslimin untuk melaksanakan salat dan pengumpulan dana pada saat gerhana matahari, Senin (26/1) ini. Gerhana tersebut tidak berkaitan dengan bencana alam yang kini kerap melanda maupun bencana lainnya seperti krisis global yang dampaknya lebih terasa pada tahun 2009.

Seruan tersebut dikemukakan Ketua Pimpinan Pusat (PP) Persatuan Islam (Persis) KH. Shiddieq Amin, Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia (DMI) Jabar HR Maulany, dan Ketua Nahdatul Ulama (NU) Kota Bandung, KH. Maftuh Kholil, Senin (19/1). Seruan sama juga dikatakan Ketua Persatuan Umat Islam (PUI) Jabar H. Djadja Djahari, Ketua Syarikat Islam (SI) Jabar KH. Nandang Koswara, Sekretaris Muhammadiyah Jabar Ustaz H. Jamjam Erawan, dan Ketua Mathlaul Anwar Jabar H. Fadhil Syamsuddin.

Menurut Ustaz Shiddieq, perisitiwa langka akan terjadi pada Senin (26/1) berupa gerhana matahari annulus atau hanya 92 persen matahari tertutup bayangan bulan. “Suasananya seperti di petang hari, ini mengingat hanya sebagian kecil saja sinar matahari yang menembus muka bumi di jalur gerhana,” katanya.

Jalur gerhana dari Samudera Hindia sekitar selatan perairan benua Afrika pada Pk 6.06 GMT (pukul 13.06 WIB), daratan Sumatra bagian Selatan, Kalimantan Barat-Tengah- Timur, sebagian provinsi Gorontalo dan berakhir di selatan Mindanao, Philipina pukul 17.52 WITA.

“Salat dilaksanakan ketika gerhana terjadi yang bisa dilaksanakan sekitar pukul 14.00-16.30 WIB,” ujarnya. (Sumber: pikiran-rakyat.com)

————————————–

Nah, bagaimana kita sebagai muslim menyikapi fenomena alam ini? Anda bisa membaca artikel ini.

Oleh: zuhudhi | 3 Januari 2009

Ilmu Dulu! Baru Amal

————————————–

Pembaca yang dimuliakan oleh Alloh ta’ala, kalau kita membicarakan Ilmu dalam islam, maka kita membicarakan sesuatu yang tidak ada habisnya untuk di bahas. Sejarah mencatat, kehidupan umat manusia sebelum diutusnya Nabi kita Muhammad sholallohu ‘alaihi wa sallam sangatlah jauh dari petunjuk ilahi. Norma-norma kebenaran dan akhlak mulia nyaris terkikis oleh kerasnya kehidupan, karena itulah masa tersebut masa jahiliyah, yaitu masa kebodohan.

Ketika keadaaan manusia seperti itu maka Alloh pun menurunkan Rosulnya, dengan membawa bukti keterangan yang jelas, supaya Rosul tersebut bisa membimbing manusia dari kegelapan menuju cahaya yang terang berderang dengan keterangan yang sangat jelas, dengan bukti-bukti yang sangat jelas, Alloh ta’ala berfirman dalam al-Qur’an, “Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. karena itu Barangsiapa yang ingkar kepada Thoghut (yaitu syaitan dan apa saja yang disembah selain dari Alloh ta’ala) dan beriman kepada Alloh, Maka Sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang Amat kuat yang tidak akan putus. dan Alloh Maha mendengar lagi Maha mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 256).

Islam adalah agama yang sarat (penuh) dengan ilmu pengetahuan, karena sumber ilmu tersebut adala wahyu yang Alloh ta’ala turunkan kepada Nabi kita Muhammad sholallohu ‘alaihi wa sallam dengan perantara malaikat jibril ‘alaihis salam. Alloh ta’ala Berfirman: “Dan tiadalah yang diucapkannya (Muhammad) itu menurut hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan.” (An-Najm: 3-4 ) Dengan ilmu inilah Beliau sholallohu ‘alaihi wa sallam tunjukkan semua jalan kebaikan, dan beliau peringatkan tentang jalan-jalan kebatilan. Nabi Muhammad sholallohu ‘alaihi wa sallam adalah Nabi yang terakhir dan sekaligus Rosul yang diutus kepada umat manusia dan jin. Maka ketika Rosulullah wafat, beliau telah mengajarkan ilmu yang paling bermanfaat dari wahyu Alloh ta’ala, ilmu yang sempurna, ilmu yang membawa kepada kebahagiaan dunia dan akhirat. Maka barang siapa mengambilnya maka ia telah mengambil bagian yang cukup untuk kebahagiaannya di dunia dan akhirat.

Ilmu Dahulu Sebelum Amal

Imam besar kaum muslimin, Imam Al-Bukhori berkata, “Al-’Ilmu Qoblal Qouli Wal ‘Amali”, Ilmu Sebelum Berkata dan Beramal. Perkataan ini merupakan kesimpulan yang beliau ambil dari firman Alloh ta’ala “Maka ilmuilah (ketahuilah)! Bahwasanya tiada sesembahan yang berhak disembah selain Alloh dan mohonlah ampunan bagi dosamu” (QS. Muhammad: 19). Dari ayat yang mulia ini, Alloh ta’ala memulai dengan ilmu sebelum seseorang mengucapkan syahadat, padahal syahadat adalah perkara pertama yang dilakukan seorang muslim ketika ia ingin menjadi seorang muslim, akan tetapi Alloh mendahului syahadat tersebut dengan ilmu, hendaknya kita berilmu dahulu sebelum mengucapkan syahadat…, kalau pada kalimat syahadat saja Alloh berfirman seperti ini maka bagaimana dengan amalan lainnya, tentunya lebih pantas lagi kita berilmu baru kemudian mengamalkannya. Ucapan ini beliau katakan ketika memberi judul suatu Bab di dalam kitab beliau “Shohihul Bukhori” dalam kitab Al-Ilmu.

Baca Lanjutannya…

Tulisan Sebelumnya »

Kategori