Oleh: zuhudhi | 6 Juli 2009

Way of Life, antara Alloh-made vs Man-made

—————————————

Ketika Rub’iy bin Amer rodhiyallohu ’anhu bernegosiasi dengan Panglima Angkatan Bersenjata Persia bernama Rustum, beliau menyampaikan tiga pesan yang menjadi ucapan legendaris dalam sejarah Islam. Point ketiga dari pesan beliau berbunyi sebagai berikut:

”Sesungguhnya Alloh mengutus kami (ummat Islam) untuk mengeluarkan hamba-hamba Alloh (ummat manusia) dari kezaliman berbagai dien menuju keadilan Al-Islam.”

Kata dien seringkali diterjemahkan dengan istilah agama. Padahal dien merupakan suatu istilah yang bermakna jauh lebih luas daripada sekadar agama. Sebab agama pada galibnya diasosiasikan dengan agama Yahudi, Nasrani, Hindu, Budha dan lain sebagainya yang semuanya hanya terbatas pada sistem religi atau sistem keyakinan. Sedangkan kata dien berarti sistem hidup atau way of life dimana sistem religi hanya merupakan salah satu bagian daripadanya. Contoh way of life ialah Komunisme, Kapitalisme, Liberalisme, Sosialisme, Nasionalisme, Demokrasi, Theokrasi dan tentu saja Islam termasuk di dalamnya.

Perbedaannya ialah bahwa berbagai dien selain Al-Islam merupakan dien buatan manusia atau man-made way of lives. Sementara Islam merupakan satu-satunya dien ciptaan Alloh sehingga ia disebut Dienulloh (Alloh-made way of life). Seluruh dien buatan manusia atau man-made way of lives  pasti mengandung ketidaksempurnaan. Sebab ia dibuat oleh manusia yang tidak luput dari khilaf dan kesalahan. Sedangkan Islam merupakan dien yang sempurna karena diciptakan oleh Alloh Yang Maha Sempurna. Segenap dien buatan manusia sedikit banyak pasti mengandung kezaliman, sedangkan dienulloh Al-Islam merupakan satu-satunya dien yang akan mengantarkan manusia ke dalam hidup penuh keadilan.

Mengapa segenap dien selain Islam pasti melahirkan kezaliman? Karena segenap dien tersebut dibuat oleh manusia yang Alloh sendiri gambarkan sebagai makhluk yang zalim lagi bodoh. Manusia dikatakan zalim dan bodoh karena bersedia menerima amanah berat yang sebelumnya telah ditawarkan kepada langit, bumi dan gunung-gunung namun mereka semua enggan memikul amanah berat tersebut. Lalu manusia menerimanya. Maka Alloh sebut manusia sebagai makhluk yang zalim lagi bodoh.

”Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh.” (QS Al-Ahzab ayat 72)

Baca Lanjutannya…

Oleh: zuhudhi | 14 Mei 2009

Cuma Ada pada Seorang Mukmin

—————————————-

Karakter mengagumkan yang tidak ditemukan pada pribadi yang bukan mukmin

Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh mengagumkan urusan seorang mukmin. Sesungguhnya semua urusannya adalah baik. Dan hal itu tidak akan diperoleh kecuali oleh seorang mukmin. Apabila dia mendapatkan kesenangan, maka dia bersyukur. Maka hal itu merupakan kebaikan baginya. Dan apabila dia tertimpa kesusahan maka dia bersabar. Maka itu juga merupakan kebaikan baginya.” (HR. Muslim)

Dua pilar keimanan

Ibnul Qoyyim rohimahulloh di dalam Madarij as-Salikin menjelaskan bahwa iman itu terdiri dari dua bagian, satu bagian sabar dan satu bagian yang lain adalah syukur. Terdapat riwayat serupa dari Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam namun riwayat itu dilemahkan oleh Syaikh al-Albani (lihat ad-Dho’ifah [625]). Ibnul Qoyyim juga menggambarkan bahwa sabar bagi iman laksana kepala bagi tubuh seorang insan. Ungkapan serupa juga diriwayatkan dari Ali bin Abi Tholib rodhiyallohu’anhu. Sehingga, tidak ada iman pada diri orang yang tidak memiliki kesabaran, sebagaimana halnya tidak berfungsi tubuh apabila tidak ada kepalanya (lihat Hasyiyah Kitab at-Tauhid).

Demikian pula syukur, ia merupakan bukti keseriusan seorang hamba dalam mengabdi dan tunduk kepada Robbnya. Alloh ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan bersyukurlah kepada Alloh jika kalian benar-benar beribadah hanya kepada-Nya.” (QS. al-Baqarah : 172). Alloh menciptakan pendengaran, penglihatan, dan hati adalah untuk bersyukur kepada-Nya. Alloh ta’ala berfirman (yang artinya), “Alloh mengeluarkan kalian dari perut ibu-ibu kalian dalam keadaan kalian tidak mengetahui apa-apa, dan Alloh menciptakan untuk kalian pendengaran, penglihatan, dan hati mudah-mudahan kalian bersyukur (kepada-Nya).” (QS. an-Nahl : 78).

Syukur ketika mendapat nikmat

Syukur adalah ibadah yang sangat agung. Alloh ta’ala berfirman (yang artinya), “Ingatlah kalian kepada-Ku niscaya Aku pun akan mengingat kalian, dan bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kalian kufur.” (QS. al-Baqoroh: 152). Barangsiapa yang bersyukur kepada Alloh maka Alloh akan tambahkan nikmat kepada-Nya. Sebaliknya, barangsiapa yang justru kufur maka sesungguhnya siksaan Alloh sangatlah keras. Alloh berfirman (yang artinya), “Dan ingatlah ketika Robb kalian mengumumkan kepada kalian; Jika kalian bersyukur maka akan Aku tambahkan nikmat-Ku atas kalian dan jika kalian kufur, sesungguhnya siksa-Ku sangatlah keras.” (QS. Ibrohim : 7).

Hakikat dari syukur itu adalah mengakui di dalam hati bahwa nikmat yang ada ini adalah dari Alloh, memuji Alloh dengan lisannya, dan menggunakan nikmat-nikmat itu untuk taat kepada-Nya. Di dalam Madarij as-Salikin, Ibnul Qoyyim rohimahulloh memaparkan bahwa syukur itu akan tegak jika ditopang oleh lima pilar : [1] tunduk dan merendah kepada Dzat yang disyukuri -yaitu Alloh-, [2] cinta kepada-Nya, [3] mengakui bahwa nikmat itu adalah pemberian-Nya, [4] memuji-Nya -dengan lisan- atas limpahan nikmat tersebut, dan [5] tidak memanfaatkannya dalam perkara yang dibenci-Nya. Inilah lima pilar syukur, apabila salah satunya hilang maka cacatlah syukur yang ada pada diri seorang hamba.

Baca Lanjutannya…

Oleh: zuhudhi | 16 Maret 2009

Aliran Sesat, Kenali dan Hindari

Bila kita memperhatikan keadaan ummat Islam sekarang ini, terutama di Indonesia, sungguh sangat memprihatinkan. Bagaimana tidak, kondisi ummat saat ini bisa dibilang jauh dari sentuhan ilmu agama. Mereka banyak yang mengaku beragama Islam, namun perilaku mereka sama sekali tidak mencerminkan ajaran Islam, atau dengan kata lain tidak Islami. Parahnya  ada juga orang yang awam soal agama tetapi sok pintar, sok tahu soal perkara agama. Misalnya, ada oknum yang berkoar-koar menolak atau menerima sesuatu yang berkaitan dengan masalah agama, padahal ketika ditanyai tentang rukun sholat dan wudhu – yang termasuk ilmu dasar agama Islam yang wajib diketahui sebelum yang lainnya – dia tidak bisa menjawab! Apa tidak lancang orang yang seperti ini?! Yang lebih parahnya lagi, pendapat orang-orang seperti ini di-ekspos di media, sehingga terjadilah polemik di masyarakat! Yang proporsional seyogyanya perkara agama ya diserahkan kepada yang paham agama, bukan sembarangan ditanyakan kepada orang di pinggir jalan. Sebab orang yang tidak paham agama, bisa jadi dia bukan muslim, meskipun dia mengaku beragama Islam, sebab perilaku yang salah bisa membatalkan keislaman seseorang. Kalau status keislaman seseorang sudah batal, otomatis kafirlah dia. Masak perkara agama Islam ditanyakan kepada orang non-muslim, bukankah ini aneh??

Bukti lain dari jauhnya ummat dari sentuhan ilmu agama ini adalah banyaknya aliran yang mengatasnamakan Islam, namun ajarannya jauh dari Islam, bahkan cenderung sesat dan menyesatkan. Yang lebih mengherankan, aliran-aliran seperti ini ada saja pengikutnya! Bahkan jumlah pengikutnya tidak hanya puluhan, tetapi ada yang jumlahnya ribuan bahkan jutaan orang. Terlepas dari hal ini memang sudah qodarulloh (takdir dari Alloh), fenomena apakah ini?! Apakah ini karena kurang tersebarnya ilmu agama Islam di masyarakat? Kalau ini benar, muncul pertanyaan baru: Ke mana para da’i selama ini? Dilihat secara kuantitas, kelihatannya jumlah da’i tidak sedikit. Lihat saja di media-media massa, banyak da’i yang mengisi kolom-kolom artikel di surat-surat kabar harian. Apa kualitasnya yang kurang diperhatikan, atau materinya kurang mengena? Entahlah. Ini bisa jadi bahan renungan untuk para da’i.

Itulah sebabnya di sini saya ingin membantu tugas da’i – meskipun saya masih jauh untuk bisa disebut da’i – untuk mengingatkan ummat bahwa aliran sesat itu benar-benar ada dan agar ummat menjadi waspada terhadap aliran-aliran yang berkembang. Di sini tidak akan disebutkan nama dari aliran-aliran sesat tersebut. Saya serahkan sepenuhnya kepada pembaca untuk menilainya. Di sini saya berikan artikel yang membantu pembaca untuk menilai suatu aliran termasuk sesat atau tidak. Artikel ini saya sadur dari situs Buletin At-Tauhid. Pembahasan artikel ini termasuk lengkap dan komprehensif, sebab terdapat pembahasan latar belakang, ciri-ciri aliran sesat, dan memberikan solusi ataupun tips bagaimana menghindari aliran-aliran semacam ini. Selamat membaca.

—————————————

Sungguh Alloh Ta’ala Maha Bijaksana, telah menciptakan segala sesuatu berpasang-pasangan. Ada hitam, juga ada putih. Ada manis ada juga pahit. Ada terang dan ada gelap. Ada kebaikan, maka ada pula keburukan. Nah, maka jika ada jalan kebenaran, di sana pun ada jalan kesesatan.

Entah mengapa sebagian orang alergi dengan kata ‘sesat’ dan tidak mau membahasnya. Seakan-akan bagi mereka segala sesuatu itu benar dan tidak ada yang salah. Padahal Rosululloh shollallohu ’alaihi wa sallam sendiri seringkali mengisyaratkan adanya kesesatan dalam beragama dan senantiasa memperingatkan ummat agar menjauhinya. Diriwayatkan dari sahabat Ibnu Mas’ud rodhiyallohu’anhu, ia berkata: “Rosululloh shollallohu ’alaihi wa sallam pernah membuat garis dengan tangannya, lalu bersabda: ‘Ini jalan yang lurus’. Kemudian, beliau membuat beberapa garis di kanan-kirinya, lalu bersabda: ‘Ini semua adalah jalan-jalan yang sesat, pada masing-masing jalan ini ada setan-setan yang mengajak untuk masuk ke sana’ ” (HR. Ahmad, An Nasa’i dan Ad Darimi. Syaikh Al Albani dalam Misykatul Mashobih mengatakan bahwa hadits ini hasan)

Lalu apa pentingnya membahas tentang kesesatan dalam beragama? Perhatikan sebuah syair arab nan indah, yang dapat menjawab pertanyaan ini:

“Aku mengenal keburukan bukan untuk berbuat keburukan. Namun aku mengenalnya agar bisa menjauhinya. Karena orang yang tidak mengenal keburukan, biasanya akan terjerumus ke dalamnya”.

Jalan Kesesatan Itu Banyak

Tentu pembaca telah mengetahui bahwa sesuatu dikatakan sesat bila ia tidak berjalan pada jalan yang benar. Sebagaimana seorang musafir dari kota A ingin menuju kota B namun karena salah meniti jalan ia malah sampai ke kota C. Maka si musafir tersebut kita katakan ia telah tersesat. Demikian juga dalam beragama, seseorang dikatakan sesat dalam beragama jika ia tidak menempuh jalan atau metode beragama yang benar sesuai Al Qur’an, hadits dan pemahaman para sahabat. Kesesatan dalam beragama ini memiliki probabilitas yang banyak. Dengan kata lain, bentuk, cara dan pola kesesatan dalam beragama sangat beragam dan sangat mungkin akan terus bertambah dari zaman ke zaman.

Sebagaimana hadits yang telah lewat bahwa Rosululloh shollallohu ’alaihi wa sallam mengisyaratkan jalan kebenaran dengan sebuah garis dan mengisyaratkan kesesatan dengan garis yang banyak. Seolah-olah beliau ingin menyampaikan bahwa jalan kebenaran itu hanya 1 dan jalan kesesatan itu banyak. Al Qur’anul Karim pun menegaskan hal ini. Ketika mengabarkan tentang jalan kebenaran, Alloh Ta’ala menggunakan lafadz mufrod (tunggal), misalnya firman Alloh Ta’ala (yang artinya), “Tunjukkanlah kami shiroth (jalan) yang lurus” (QS.Al Fatihah: 6). Di sini shirothun dalam bentuk tunggal, sedangkan bentuk jamaknya adalah shuruthun. Sebaliknya, ketika menyebutkan tentang jalan kesesatan Alloh Ta’ala selalu menggunakan lafadz jamak. Misalnya firman Alloh Ta’ala (yang artinya), “Dan janganlah kamu mengikuti subul (jalan-jalan) mereka (karena jalan-jalan itu) akan memecah belah kamu dari jalan Alloh.” (QS.Al An’am: 153). Subulun adalah bentuk jamak dari sabiilun. Jadi, jalan kesesatan itu banyak. Sedangkan jalan kebenaran hanyalah satu.

Baca Lanjutannya…

Oleh: zuhudhi | 23 Februari 2009

Salah Kaprah dalam Memaknai Kalimat Tauhid

————————————

Masih terngiang-ngiang dalam ingatan kita ketika dulu zaman masih sekolah SD atau SMP, kita diajarkan bahwa makna kalimat tauhid “laa ilaaha illalloh” adalah “Tidak ada Tuhan selain Alloh”. Inilah makna yang selama ini terpatri dalam hati sanubari kita tanpa sedikit pun kita berfikir tentang kebenaran makna tersebut. Karena memang itulah yang diajarkan oleh guru-guru kita pada saat masih sekolah dulu. Kesalahfahaman ini tidak hanya dialami oleh masyarakat awam, bahkan orang-orang yang dikenal sebagai “cendekiawan” muslim pun salah faham (atau memang sengaja salah?? – zuh) tentang makna kalimat tauhid ini. Buktinya, di antara mereka ada yang mengartikan “laa ilaaha illalloh” sebagai “Tidak ada tuhan (“t” kecil) selain Tuhan (“t” besar)”.

Untuk Apa Membahas Makna Kalimat Tauhid?

Perlu digarisbawahi bahwa kalimat “laa ilaaha illalloh” yang diucapkan oleh seseorang tidak akan bermanfaat kecuali dengan memenuhi seluruh syarat dan rukunnya serta mengamalkan konsekuensinya. Hal ini seperti ibadah shalat yang tidak akan sah kecuali dengan memenuhi syarat dan rukunnya, serta tidak melakukan pembatal shalat. Di antara syarat “laa ilaaha illalloh” yang harus dipenuhi adalah seseorang harus mengetahui makna kalimat tersebut.

Alloh Ta’ala berfirman yang artinya, Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada sesembahan yang benar selain Alloh” (QS. Muhammad [47]: 19). Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa mati dalam keadaan mengetahui bahwa tidak ada sesembahan yang benar kecuali Alloh, maka dia akan masuk surga” (HR. Muslim).

Dari dalil-dalil dari Al Qur’an dan As-Sunnah tersebut, para ulama rahimahullah menyimpulkan bahwa salah satu syarat sah “laa ilaaha illalloh” adalah seseorang mengetahui makna “laa ilaaha illalloh” dengan benar.

Tidak Ada “Tuhan” selain Alloh

“Tidak ada Tuhan selain Alloh” merupakan makna kalimat “laa ilaaha illalloh” yang populer di kalangan kaum muslimin. Dalam hal ini, kata “ilah” diartikan dengan kata “Tuhan”. Namun perlu diketahui bahwa kata “Tuhan” dalam bahasa Indonesia memiliki dua makna. Pertama, kata “Tuhan” yang identik dengan pencipta, pengatur, penguasa alam semesta, pemberi rizki, yang menghidupkan, yang mematikan, dan yang dapat memberikan manfaat atau mendatangkan madharat. Kedua, kata “Tuhan” yang berarti sesembahan. Yaitu sesuatu yang menjadi tujuan segala jenis aktivitas ibadah.

Karena terdapat dua makna untuk kata “Tuhan”, maka kalimat “Tidak ada Tuhan selain Alloh” juga memiliki dua pengertian. Pengertian pertama, “Tidak ada pencipta, pemberi rizki, dan pengatur alam semesta selain Alloh”. Pengertian kedua, “Tidak ada sesembahan selain Alloh”. Oleh karena itu, dalam pembahasan selanjutnya kita akan meninjau apakah memaknai kalimat “laa ilaaha illalloh” dengan kedua pengertian tersebut sudah benar serta berdasarkan dalil-dalil dari Al Qur’an dan As-Sunnah?

Baca Lanjutannya…

Oleh: zuhudhi | 28 Januari 2009

Yahudi AS, Pindah ke Israel dan Masuk Islam

—————————————

Pada tahun 1998, Joseph Cohen seorang Yahudi Ortodoks kelahiran AS hijrah ke Israel karena keyakinannya yang sangat kuat pada ajaran Yudaisme. Ia kemudian tinggal di pemukiman Yahudi Gush Qatif di Gaza (Israel mundur dari wilayah Jalur Gaza pada tahun 2005).

Cohen tak pernah mengira bahwa kepindahannya ke Israel justru membawanya pada cahaya Islam. Setelah tiga tahun menetap di Gaza, Cohen memutuskan untuk menjadi seorang Muslim setelah ia bertemu dengan seorang syaikh asal Uni Emirat Arab dan berdiskusi tentang teologi dengan syaikh tersebut lewat internet. Setelah masuk Islam, Cohen mengganti namanya dengan nama Islam Yousef al-Khattab.

Tak lama setelah ia mengucapkan syahadat, istri dan empat anak Yousef mengikuti jejaknya menjadi Muslim. Sekarang, Yousef al-Khattab aktif berdakwah di kalangan orang-orang Yahudi, meski ia sendiri tidak diakui lagi oleh keluarganya yang tidak suka melihatnya masuk Islam.

“Saya sudah tidak lagi berhubungan dengan keluarga saya. Kita tidak boleh memutuskan hubungan kekeluargaan, tapi pihak keluarga saya adalah Yahudi dengan entitas ke-Yahudi-annya. Kami tidak punya pilihan lain, selain memutuskan kontak untuk saat ini. Kata-kata terakhir yang mereka lontarkan pada saya, mereka bilang saya barbar,” tutur Yousef tentang hubungan dengan keluarganya sekarang.

Baca Lanjutannya…

Oleh: zuhudhi | 26 Januari 2009

Hari Ini (26/01/09) Gerhana Lho!

Membaca salah satu berita di jagad maya, ternyata hari ini, Senin 26 Januari 2009 (bertepatan dengan 29 Muharrom 1430 H), akan terjadi gerhana. Gerhana yang terjadi adalah gerhana matahari yang diperkirakan terjadi mulai pukul 14.00-16.30 sore ini. Berikut beritanya.

————————————–

BANDUNG, (PRLM).- Ormas-ormas Islam di Jawa Barat menyerukan kaum Muslimin untuk melaksanakan salat dan pengumpulan dana pada saat gerhana matahari, Senin (26/1) ini. Gerhana tersebut tidak berkaitan dengan bencana alam yang kini kerap melanda maupun bencana lainnya seperti krisis global yang dampaknya lebih terasa pada tahun 2009.

Seruan tersebut dikemukakan Ketua Pimpinan Pusat (PP) Persatuan Islam (Persis) KH. Shiddieq Amin, Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia (DMI) Jabar HR Maulany, dan Ketua Nahdatul Ulama (NU) Kota Bandung, KH. Maftuh Kholil, Senin (19/1). Seruan sama juga dikatakan Ketua Persatuan Umat Islam (PUI) Jabar H. Djadja Djahari, Ketua Syarikat Islam (SI) Jabar KH. Nandang Koswara, Sekretaris Muhammadiyah Jabar Ustaz H. Jamjam Erawan, dan Ketua Mathlaul Anwar Jabar H. Fadhil Syamsuddin.

Menurut Ustaz Shiddieq, perisitiwa langka akan terjadi pada Senin (26/1) berupa gerhana matahari annulus atau hanya 92 persen matahari tertutup bayangan bulan. “Suasananya seperti di petang hari, ini mengingat hanya sebagian kecil saja sinar matahari yang menembus muka bumi di jalur gerhana,” katanya.

Jalur gerhana dari Samudera Hindia sekitar selatan perairan benua Afrika pada Pk 6.06 GMT (pukul 13.06 WIB), daratan Sumatra bagian Selatan, Kalimantan Barat-Tengah- Timur, sebagian provinsi Gorontalo dan berakhir di selatan Mindanao, Philipina pukul 17.52 WITA.

“Salat dilaksanakan ketika gerhana terjadi yang bisa dilaksanakan sekitar pukul 14.00-16.30 WIB,” ujarnya. (Sumber: pikiran-rakyat.com)

————————————–

Nah, bagaimana kita sebagai muslim menyikapi fenomena alam ini? Anda bisa membaca artikel ini.

Oleh: zuhudhi | 3 Januari 2009

Ilmu Dulu! Baru Amal

————————————–

Pembaca yang dimuliakan oleh Alloh ta’ala, kalau kita membicarakan Ilmu dalam islam, maka kita membicarakan sesuatu yang tidak ada habisnya untuk di bahas. Sejarah mencatat, kehidupan umat manusia sebelum diutusnya Nabi kita Muhammad sholallohu ‘alaihi wa sallam sangatlah jauh dari petunjuk ilahi. Norma-norma kebenaran dan akhlak mulia nyaris terkikis oleh kerasnya kehidupan, karena itulah masa tersebut masa jahiliyah, yaitu masa kebodohan.

Ketika keadaaan manusia seperti itu maka Alloh pun menurunkan Rosulnya, dengan membawa bukti keterangan yang jelas, supaya Rosul tersebut bisa membimbing manusia dari kegelapan menuju cahaya yang terang berderang dengan keterangan yang sangat jelas, dengan bukti-bukti yang sangat jelas, Alloh ta’ala berfirman dalam al-Qur’an, “Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. karena itu Barangsiapa yang ingkar kepada Thoghut (yaitu syaitan dan apa saja yang disembah selain dari Alloh ta’ala) dan beriman kepada Alloh, Maka Sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang Amat kuat yang tidak akan putus. dan Alloh Maha mendengar lagi Maha mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 256).

Islam adalah agama yang sarat (penuh) dengan ilmu pengetahuan, karena sumber ilmu tersebut adala wahyu yang Alloh ta’ala turunkan kepada Nabi kita Muhammad sholallohu ‘alaihi wa sallam dengan perantara malaikat jibril ‘alaihis salam. Alloh ta’ala Berfirman: “Dan tiadalah yang diucapkannya (Muhammad) itu menurut hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan.” (An-Najm: 3-4 ) Dengan ilmu inilah Beliau sholallohu ‘alaihi wa sallam tunjukkan semua jalan kebaikan, dan beliau peringatkan tentang jalan-jalan kebatilan. Nabi Muhammad sholallohu ‘alaihi wa sallam adalah Nabi yang terakhir dan sekaligus Rosul yang diutus kepada umat manusia dan jin. Maka ketika Rosulullah wafat, beliau telah mengajarkan ilmu yang paling bermanfaat dari wahyu Alloh ta’ala, ilmu yang sempurna, ilmu yang membawa kepada kebahagiaan dunia dan akhirat. Maka barang siapa mengambilnya maka ia telah mengambil bagian yang cukup untuk kebahagiaannya di dunia dan akhirat.

Ilmu Dahulu Sebelum Amal

Imam besar kaum muslimin, Imam Al-Bukhori berkata, “Al-’Ilmu Qoblal Qouli Wal ‘Amali”, Ilmu Sebelum Berkata dan Beramal. Perkataan ini merupakan kesimpulan yang beliau ambil dari firman Alloh ta’ala “Maka ilmuilah (ketahuilah)! Bahwasanya tiada sesembahan yang berhak disembah selain Alloh dan mohonlah ampunan bagi dosamu” (QS. Muhammad: 19). Dari ayat yang mulia ini, Alloh ta’ala memulai dengan ilmu sebelum seseorang mengucapkan syahadat, padahal syahadat adalah perkara pertama yang dilakukan seorang muslim ketika ia ingin menjadi seorang muslim, akan tetapi Alloh mendahului syahadat tersebut dengan ilmu, hendaknya kita berilmu dahulu sebelum mengucapkan syahadat…, kalau pada kalimat syahadat saja Alloh berfirman seperti ini maka bagaimana dengan amalan lainnya, tentunya lebih pantas lagi kita berilmu baru kemudian mengamalkannya. Ucapan ini beliau katakan ketika memberi judul suatu Bab di dalam kitab beliau “Shohihul Bukhori” dalam kitab Al-Ilmu.

Baca Lanjutannya…

Oleh: zuhudhi | 28 Nopember 2008

Amal Sholih di Awal Bulan Dzulhijjah

Jum’at, 30 Dzulqo’dah 1429 H.

Sebentar lagi kita, umat Islam, akan merayakan hari raya ‘Idul Adha, atau ‘Idul Qurban yang jatuh pada setiap tanggal 10 Dzulhijjah, yang insya Alloh tahun ini bertepatan dengan tanggal 8 Desember 2008 M. Di dalam hadits terdapat penjelasan mengenai beberapa keutamaan beramal sholih di bulan Dzulhijjah ini, yang amat sayang (Jawa: eman-eman) jika dilewatkan. Berikut artikel yang memuat mengenai amal-amal sholih yang bisa dilakukan di bulan Dzulhijjah.

—————————————

Dari Ibnu Abbas, Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ ». يَعْنِى أَيَّامَ الْعَشْرِ. قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ قَالَ « وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَىْءٍ ».

Tidak ada satu amal saleh yang lebih dicintai oleh Alloh melebihi amal saleh yang dilakukan pada hari-hari ini (yaitu 10 hari pertama bulan Dzul Hijjah).” Para sahabat bertanya: “Tidak pula jihad di jalan Alloh?” Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Tidak pula jihad di jalan Alloh, kecuali orang yang berangkat jihad dengan jiwa dan hartanya namun tidak ada yang kembali satupun.” (HR. Abu Daud no. 2438. Syaikh Al Albani dalam Shohih wa Dho’if Sunan Abi Daud mengatakan bahwa hadits ini shohih).

Hadits yang mulia ini menunjukkan keutamaan beramal di 10 hari pertama bulan Dzulhijjah.

Ibnu Rojab dalam Latho’if Ma’arif mengatakan, “Amalan yang kurang afdhol jika dikerjakan di waktu yang utama (seperti bulan Dzulhijjah, pen), lalu dibandingkan dengan amalan yang afdhol yang dikerjakan di bulan lainnya, maka amalan yang dikerjakan di waktu yang utama akan lebih unggul karena pahala dan ganjaran yang dilipatgandakan.” Bahkan sebagian ulama mengatakan bahwa amalan pada setiap hari di awal Dzulhijjah sama dengan amalan satu tahun, ada pula yang mengatakan sama dengan dua tahun, bahkan ada yang mengatakan sama dengan 1000 hari. Keutamaan ini semua berlandaskan pada hadits fadho’il yang lemah (dho’if), namun hal ini tetap menunjukkan keutamaan beramal pada awal Dzulhijjah berdasarkan hadits shohih yang ada.

Baca Lanjutannya…

Oleh: zuhudhi | 22 Nopember 2008

Rahasia Ke-syahidan Amrozi cs

Beberapa waktu yang lalu para tervonis hukuman mati yang dituduh melakukan peledakan di Pulau Bali, yaitu Amrozi (atau Amrozy) cs bertubi-tubi santer dibicarakan. Mulai dari media cetak, televisi maupun di situs-situs di internet memberitakannya seperti tidak kenal lelah, terutama ketika mendekati saat-saat eksekusi mati. Sepertinya semua perhatian masyarakat Indonesia saat itu terfokus pada berita tersebut. Mulai dari obrolan santai di pos-pos ronda, hingga dibicarakan di seminar-seminar, semua membahas mengenai hal ini. Yang dibahas pun beraneka rupa. Ada yang menghujat habis-habisan Amrozi cs, ada yang mendukung, dan ada juga yang no comment (ini berdasarkan pengalaman saya sehari-hari di lapangan). Namun sayang, kata-kata yang dilontarkan kebanyakan tidak diimbangi dengan data-data yang memadai, sehingga yang menghujat ya asal menghujat, dan yang mendukung pun juga hanya asal berbeda pendapat (bhs Jawa: geseh) saja dengan yang menghujat. Dan yang no comment hanya cari amannya saja, tidak mau menimbulkan polemik dengan rekan-rekannya (atau memang ngga’ ngeh??). Nah, sebenarnya apa sih yang sesungguhnya terjadi? Benarkah Amrozi cs ini pelaku peledakan bom di Pulau Bali? Benarkah pendapat yang menyatakan bahwa mereka mati sebagai syuhada (matinya mati syahid)? Berikut ini saya hadirkan artikel yang berhubungan dengan perbuatan Amrozi cs. Artikel ini saya kutip dari situs EraMuslim yang ditulis oleh Ustadz Ihsan Tandjung.

Menurut saya artikel inilah yang paling pas (sementara ini) yang dapat digunakan untuk menilai secara jernih perbuatan Amrozi cs dalam peristiwa Bom Bali, sebab artikel ini: komprehensif (pembahasan cukup lengkap dan menyeluruh), terdapat dalil dari Al-Quran dan As-Sunnah, dan tidak bersifat menghakimi siapa pun. Setelah membaca artikel ini saya berharap pembaca dapat menyikapi peristiwa Bom Bali dengan lebih arif dan bijaksana, sebelum memutuskan untuk mendukung, atau menghujat (atau tetap no comment??). Lebih jauh dari itu, artikel ini dapat membantu memahami mengapa ada pihak yang berpendapat bahwa Amrozi cs meninggal sebagai syuhada. Silakan beri penilaian seusai membaca.

————————————-

Begitu Amrozi, Imam Samudra dan Mukhlas menjalani eksekusi mati tengah malam jam 00.15 pada tanggal 9 November 2008 (cat: muncul angka 911 di sana, zuh) di Nusakambangan berbagai media Barat dan pro-Barat segera memberitakannya dengan suka-cita. Masyarakat Barat pada umumnya menganggap eksekusi mati ketiga muslim itu cukup memenuhi rasa keadilan, walaupun tidak mungkin menghidupkan kembali nyawa 202 korban jiwa efek ledakan Bom Bali.

Sebenarnya matinya tiga manusia di era penuh fitnah dewasa ini merupakan perkara biasa. Nyawa manusia kian tidak berharga. Inilah zaman dimana Nabi shollallohu ’alaih wa sallam telah sinyalir akan datang menjelang akhir zaman.

قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ بَيْنَ يَدَيْ السَّاعَةِ أَيَّامًا يُرْفَعُ فِيهَا الْعِلْمُ وَيَنْزِلُ فِيهَا الْجَهْلُ وَيَكْثُرُ فِيهَا الْهَرْجُ وَالْهَرْجُ الْقَتْلُ

”Sesungguhnya menjelang hari kiamat akan datang hari-hari dimana ilmu diangkat sedangkan kebodohan merebak dan maraklah al-haraj, al-haraj, yakni pembunuhan.” (HR Bukhory 6539)

Lalu mengapa kita harus peduli dengan eksekusi ketiga muslim terpidana mati ini? Bukankah mereka merupakan parasit di tengah masyarakat yang telah menebar teror bahkan membunuh ratusan jiwa tidak bersalah di Bali? Begitulah opini yang dibangun secara sistematis oleh berbagai media Barat dan pro-Barat.

Baca Lanjutannya…

Oleh: zuhudhi | 13 Nopember 2008

Memikirkan Kematian

—————————————

Manusia dalam bahaya

Sesungguhnya manusia senantiasa berada dalam keadaan rawan. Karena kematian senantiasa mengancamnya dari segala arah, bahkan kenyataannnya setiap detik ada orang yang meninggal. Baik karena bencana seperti banjir, longsor, gempa, atau karena konflik, kecelakaan, kejahatan, penyakit dan wabah, bahkan banyak di antara kita yang sehat wal’afiat, jauh dari wilayah konflik dan bencana serta hidup dengan aman sejahtera, namun mendadak meninggal.

Imam Bukhori meriwayatkan dalam kitab shohihnya, pasal hadits-hadits para nabi, bab kematian Nabi Musa ‘alaihis salam, dari Abu Huroiroh: ” Malaikat maut diutus kepada Nabi Musa (dengan menyerupai manusia) membawa kabar kematian. Maka Nabi Musa menampar mukanya tepat pada matanya. Lalu malaikatpun kembali kepada Alloh dan berkata: ya Robbi Engkau telah mengutusku kepada orang yang tidak menginginkan kematian. Alloh menjawab: baiklah katakan pada Musa agar meletakan tangannya pada tubuh sapi dan katakan bahwa usianya akan ditambah sebanyak bulu sapi yang tertutup oleh telapak tangannya itu, 1 helai sama dengan 1 tahun. Seteleh pesan itu disampaikan Nabi Musa ‘alaihis salam berkata: ya Robbi setelah itu apa? Alloh menjawab: “setelah itu adalah kematian”. Akhirnya Nabi Musa pun berkata: kalau demikian halnya matikanlah saya sekarang”.

Jadi masalahnya bukan bagaimana caranya kita menghindari kematian itu. Karena kematian itu pasti datang, baik ditunggu ataupun dilupakan, baik dalam keadaan genting ataupun aman, dalam keadaan senang atau sedih. Tapi masalahnya adalah bagaimana keadaan kita ketika kita sudah masuk ke alam barzakh (kubur) kemudian masuk ke alam Akhirat. Apakah kita akan masuk ke dalam golongan orang-orang mu’min atau sebaliknya masuk ke dalam golongan orang-orang berdosa dan kafir.

Baca Lanjutannya…

Tulisan Sebelumnya »

Kategori