Posted by: zuhudhi | 15 Juni 2008

Kaidah Memahami Ayat dalam Al Quran

Bagi sebagian orang, tidak terkecuali sebagian dari kaum muslimin, meragukan penafsiran dari Alquran. Bahkan penafsiran dari ahli tafsir sekalipun. Menurut mereka, setiap orang mempunyai hak untuk menafsirkan sesuatu, termasuk Alquran, sekehendak hati masing-masing. Sebab, menurut mereka, tingkat intelektualitas masing-masing orang berbeda-beda, dan ini sangat mempengaruhi dalam hal menafsirkan suatu peristiwa. Di sini saya katakan: okelah, kalau untuk menafsirkan peristiwa duniawi, maka masing-masing boleh menafsirkan sekehendak hati, asal tetap berpegang kepada asas-asas ilmiah. Namun, saya katakan tidak demikian dengan penafsiran Alquran! Sebab untuk kasus ini diperlukan beberapa kaidah yang sangat ketat. Saya katakan sangat ketat sebab selain kaidahnya memang baku, si pelaku penafsir (ahli tafsir) juga harus tsiqoh (dapat dipercaya) dan berilmu. Nah, di sini akan saya tampilkan kaidah-kaidah penafsiran Alquran, beserta beberapa contoh ayatnya. Artikel ini saya sadur dari terjemahan Kitab “Kaifa Nafhamul Qur’an” karya Syaikh Muhammad Ibn Jamil Zainu. Sebagai berikut.

Kaidah/Cara Memahami Nash Alquran:

1. Memahami Ayat dengan Ayat

Menafsirkan satu ayat Qur’an dengan ayat Qur’an yang lain, adalah jenis penafsiran yang paling tinggi. Karena ada sebagian ayat Qur’an itu yang menafsirkan (baca, menerangkan) makna ayat-ayat yang lain. Contohnya ayat, yang artinya: “Ketahuilah, sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak pernah merasa cemas dan tidak pula merasa bersedih hati.” (Yunus : 62)
Lafadz auliya’ (wali-wali), diterangkan/ditafsirkan dengan ayat berikutnya yang artinya : “Yaitu orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa.” (Yunus : 63)

Berdasarkan ayat di atas maka setiap orang yang benar-benar mentaati perintah-perintah Allah dan meninggalkan larangan-larangan-Nya, maka mereka itu adalah para wali Allah. Tafsiran ini sekaligus sebagai bantahan orang-orang yang mempunyai anggapan, bahwa wali itu ialah orang yang mengetahui perkara-perkara yang gaib, memiliki kesaktian, di atas kuburnya terdapat bangunan kubah yang megah, atau keyakinan-keyakinan batil yang lain. Dalam hal ini, karamah bukan sebagai syarat untuk membuktikan orang itu wali atau bukan. Karena karamah itu bisa saja tampak bisa pula tidak.

Adapun hal-hal aneh yang ada pada diri sebagian orang-orang sufi dan orang-orang ahli bid’ah, adalah sihir, seperti yang sering terjadi pula pada orang-orang majusi di India dan lain sebagainya. Itu sama sekali bukan karamah, tetapi sihir seperti yang difirmankan Allah, artinya: “Terbayang kepada Musa, seolah-olah ia merayap cepat lantaran sihir mereka.” (Thaha: 66)

Baca Lanjutannya…

Posted by: zuhudhi | 30 April 2008

Kisah Aneh Seorang Pendeta yang Masuk Islam

Senin, 22 Mei 06

Mungkin kisah ini terasa sangat aneh bagi mereka yang belum pernah bertemu dengan orangnya atau langsung melihat dan mendengar penuturannya. Kisah yang mungkin hanya terjadi dalam cerita fiktif, namun menjadi kenyataan. Hal itu tergambar dengan kata-kata yang diucapkan oleh si pemilik kisah yang sedang duduk di hadapanku mengisahkan tentang dirinya. Untuk mengetahui kisahnya lebih lanjut dan mengetahui kejadian-kejadian yang menarik secara komplit, biarkan aku menemanimu untuk bersama-sama menatap ke arah Johannesburg, kota bintang emas nan kaya di negara Afrika Selatan di mana aku pernah bertugas sebagai pimpinan cabang kantor Rabithah al-’Alam al-Islami di sana.

Pada tahun 1996, di sebuah negara yang sedang mengalami musim dingin, di siang hari yang mendung, diiringi hembusan angin dingin yang menusuk tulang, aku menunggu seseorang yang berjanji akan menemuiku. Istriku sudah mempersiapkan santapan siang untuk menjamu sang tamu yang terhormat. Orang yang aku tunggu dulunya adalah seorang yang mempunyai hubungan erat dengan Presiden Afrika Selatan Nelson Mandela. Ia seorang misionaris penyebar dan pendakwah agama Nasrani. Ia seorang pendeta, namanya ‘Sily.’ Aku dapat bertemu dengannya melalui perantaraan sekretaris kantor Rabithah yang bernama Abdul Khaliq Matir, di mana ia mengabarkan kepada-ku bahwa seorang pendeta ingin datang ke kantor Rabithah hendak membicarakan perkara penting.

Tepat pada waktu yang telah dijanjikan, pendeta tersebut datang bersama temannya yang bernama Sulaiman. Sulaiman adalah salah seorang anggota sebuah sasana tinju setelah ia memeluk Islam, selepas bertanding dengan seorang petinju muslim terkenal, Muhammad Ali. Aku menyambut keda-tangan mereka di kantorku dengan perasaan yang sangat gembira. Sily seorang yang berpostur tubuh pendek, berkulit sangat hitam dan mudah tersenyum. Ia duduk di depanku dan berbicara denganku dengan lemah lembut. Aku katakan, “Saudara Sily bolehkah kami mendengar kisah keislamanmu?” ia tersenyum dan berkata, “Ya, tentu saja boleh.”

Pembaca yang mulia, dengar dan perhatikan apa yang telah ia ceritakan kepadaku, kemudian setelah itu, silahkan beri penilaian.!

Baca Lanjutannya…

Posted by: zuhudhi | 18 April 2008

MLM, Dipandang dari Sisi Syar’i

Di tengah kelesuan dan keterpurukan ekonomi nasional, datanglah sebuah sistem bisnis yang banyak menjanjikan dan keberhasilan serta menawarkan kekayaan dalam waktu singkat.

Sistem ini kemudian dikenal dengan istilah Multi Level Marketing (MLM) atau Networking Marketing. Banyak orang yang bergabung kedalamnya, baik dari kalangan orang-orang awam ataupun dari kalangan penuntut ilmu, bahkan dari berita yang sampai kepada kami ada sebagian pondok pesantren yang mengembangkan sistem ini untuk pengembangan usaha pesantren.

Pertanyaan yang kemudian muncul, apakah bisnis dengan model semacam ini diperbolehkan secara syar’i ataukah tidak? Sebuah permasalahan yang tidak mudah untuk menjawabnya, karena ini adalah masalah aktual yang belum pernah disebutkan secara langsung dalam litelatur para ulama’ kita.

Namun alhamdulillah Allah telah menyempurnakan syari’at islam ini untuk bisa menjawab semua permasalahan yang akan terjadi sampai besok hari kiamat dengan berbagai nash dan kaedah-kaedah umum tentang masalah bisnis dan ekonomi.

Oleh karena itu dengan memohon petunjuk pada Allah, semoga tatkala tangan ini menulis dan akal berfikir, semoga Allah mencurahkan cahaya kebenaran- Nya dan menjauhkan dari segala tipu daya syaithan. Wallahul Muwaffiq

Kaedah Penting Bagi Pelaku Bisnis

Ada dua kaedah yang sangat penting untuk bisa memahami hampir seluruh permasalahan yang berhubungan dengan hukum islam, sebagaimana dikatakan Ibnul Qayyim Rahimahullah “Pada dasarnya semua ibadah hukumnya haram kecuali kalau ada dalil yang memerintahkannya, sedangkan asal dari hukum transaksi dan mu’amalah adalah halal kecuali kalau ada dalil yang melarangnya”. (Lihat I’lamul Muwaqi’in 1/344).

Oleh karena itu apapun nama dan model bisnis tersebut pada dasarnya dihukumi halal selagi dilakukan atas dasar sukarela dan tidak mengandung salah satu unsur keharaman, sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Dan Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba” (QS. Al-Baqarah: 275) Juga firman-Nya: “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang bathil, kecuali dengan perniagaan yang berlaku atas dasar suka sama suka diantara kamu”. (QS. An-Nisaa: 29)

Adapun hal-hal yang bisa membuat sebuah transaksi bisnis menjadi haram adalah :

  1. Riba;
  2. Ghoror (Adanya Spekulasi yang tinggi) dan jahalah (adanya sesuatu yang tidak jelas);
  3. Penipuan;
  4. Perjudian atau adu nasib;
  5. Kedhaliman;
  6. Yang dijual adalah barang haram.

Sekilas Tentang MLM

Pengertian MLM

Secara umum Multi Level Marketing adalah suatu metode bisnis alternatif yang berhubungan dengan pemasaran dan distribusi yang dilakukan melalui banyak level (tingkatan), yang biasa dikenal dengan istilah Upline (tingkat atas) dan Downline (tingkat bawah), orang akan disebut Upline jika mempunyai Downline. Inti dari bisnis MLM ini digerakkan dengan jaringan ini, baik yang bersifat vertikal atas bawah maupun horizontal kiri kanan ataupun gabungan antara keduanya. (Lihat All About MLM oleh Benny Santoso hal: 28, Hukum Syara MLM oleh hafidl Abdur Rohman, MA)

Sistem Kerja MLM

Secara global sistem bisnis MLM dilakukan dengan cara menjaring calon nasabah yang sekaligus berfungsi sebagai konsumen dan member (anggota) dari perusahaan yang melakukan praktek MLM. Adapun secara terperinci bisnis MLM dilakukan dengan cara sebagai berikut :

  1. Mula-mula pihak perusahaan berusaha menjaring konsumen untuk menjadi member, dengan cara mengharuskan calon konsumen membeli paket produk perusahaan dengan harga tertentu.
  2. Dengan membeli paket produk perusahaan tersebut, pihak pembeli diberi satu formulir keanggotaan (member) dari perusahaan.
  3. Sesudah menjadi member maka tugas berikutnya adalah mencari member-member baru dengan cara seperti diatas, yakni membeli produk perusahaan dan mengisi formulir keanggotaan.
  4. Para member baru juga bertugas mencari calon member-member baru lagi dengan cara seperti diatas yakni membeli produk perusahaan dan mengisi formulir keanggotaan.
  5. Jika member mampu menjaring member-member yang banyak, maka ia akan mendapat bonus dari perusahaan. Semakin banyak member yang dapat dijaring, maka semakin banyak pula bonus yang didapatkan karena perusahaan merasa diuntungkan oleh banyaknya member yang sekaligus mennjadi konsumen paket produk perusahaan.
  6. Dengan adanya para member baru yang sekaligus menjadi konsumen paker produk perusahaan, maka member yang berada pada level pertama, kedua dan seterusnya akan selalu mendapatkan bonus secara estafet dari perusahaan, karena perusahaan merasa diuntungkan dengan adanya member-member baru tersebut.

Baca Lanjutannya…

Posted by: zuhudhi | 25 Maret 2008

Menghitung Tengah Malam dan Sepertiga Malam yang Akhir

Menghitung Tengah Malam dan Sepertiga Malam yang Akhir

Pendahuluan:

Kita, dalam kehidupan sehari-hari sering mendengar istilah “Tengah Malam”. Di dalam Islam kita mengenal istilah “Sepertiga-Malam-Terakhir”. Istilah ini berhubungan dengan ibadah sholat qiyamul lail atau sholat tahajjud, yang disyariatkan. Nah, pada pukul berapakah tepatnya istilah-istilah tersebut berada? Apakah istilah pertengahan malam, bila ditinjau dari syariat Islam, ditunjukkan dengan angka 12 di jam kita? Kalau tidak, bagaimana pula cara menentukannya? Barangkali juga muncul pertanyaan, apakah waktu sepertiga-malam-terakhir itu ajeg setiap harinya, ataukah berubah-ubah, atau bagaimana? Penjelasan di bawah ini diharapkan mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan tadi. Insya Alloh mudah dan sederhana.

Bagaimana kita menentukan pertengahan malam:

Pertama-tama, kita tentukan dulu waktu tenggelamnya matahari dan waktu terbit fajar.

Kemudian kita hitung jarak waktu antara keduanya.

Kemudian hasilnya kita bagi dua .

Lalu hasil pembagian tersebut kita tambahkan waktu tenggelamnya matahari.

Maka hasil dari penambahan tersebut adalah waktu pertengahan malam.

Secara matematis digambarkan berikut ini.

Baca Lanjutannya…

Posted by: zuhudhi | 14 Desember 2007

Sunnah-Sunnah di Hari Raya

Segala puji bagi Alloh Subhana wa Ta’ala yang telah mempertemukan kita dengan bulan Dzulhijjah dan insya Alloh beberapa hari lagi kita akan bertemu dengan hari raya Idul Adha. Banyak sunnah-sunnah yang Rosululloh sholallohu ‘alaihi wa sallam ajarkan kepada umatnya yang berkaitan dengan perayaan idul Adha, agar kita tidak melewatkan begitu saja amalan-amalan yang Rosululloh ajarkan yang berkaitan dengan perayaan Idul Adha. Berikut ini artikel yang disadur dari situs http://muslim.or.id/. Semoga bermanfaat.

Di dalam agama Islam hanya ada dua perayaan yang dituntunkan, yakni Iedul Fitri dan Iedul Adha. Anas bin Malik rodhiyallohu ‘anhu berkata, “Tatkala Nabi datang ke Madinah, penduduk Madinah memiliki dua hari untuk bersenang gembira sebagaimana di waktu jahiliyyah, lalu beliau bersabda, ‘Saya datang kepada kalian, dan kalian memiliki dua hari raya untuk bersenang gembira sebagaimana di waktu jahiliyyah. Dan sesungguhnya Allah telah mengganti keduanya dengan yang lebih baik; (yakni) iedul adha dan iedul fithri’.” (Shahih, riwayat Ahmad, Abu Dawud dan Nasa’i)

Berikut ini beberapa tuntunan Nabi seputar berhari raya:

Mandi

Sebagaimana salah seorang sahabat Rasulullah, yakni ‘Ali bin Abi Thalib, tatkala ditanya tentang kapan sajakah mandi yang disunnahkan (dituntunkan) oleh Rasulullah. Beliau menjawab: “(mandi yang disunnahkan) pada hari Jumat, hari ‘Arafah, hari raya Iedul fithri, dan Iedul Adha.” (Lihat Al Wajiz, hal 47)

Memakai Pakaian Yang Terbagus

Imam Ibnul Qoyyim berkata dalam Zaadul Ma’ad, “Nabi memakai pakaian terbagusnya untuk shalat hari raya. Beliau mempunyai pakaian khusun untuk shalat ied dan shalat Jumat…”

Perlu diperhatikan, bahwa pakaian yang bagus bukan berarti harus baru!! hal ini perlu disampaikan karena kadang ada anggapan yang salah yang menyusahkan sebagian masyarakat yang berekonomi lemah.

Baca Lanjutannya…

Posted by: zuhudhi | 11 Oktober 2007

Beberapa Catatan Penting Seputar ‘Idul Fithri *

Romadhon berakhir, hari raya ‘Idul Fithri pun tiba. Di dalamnya ada kebahagiaan dan juga ada kesedihan. Bahagia karena datangnya hari raya, sedih karena berlalunya Romadhon. Semua di antara kita berharap agaramal dan ibadah kita diterima oleh Alloh Subhana wa Ta’ala, Sang Pembuat Syari’at. Bukankah syarat diterimanya amal dan ibadah itu dengan niat yang ikhlas serta mengikuti tuntunan Nabi Muhammad Sholallohu ‘alaihi wasallam yang merupakan teladan kita? Bukankah semua amalan dalam Islam telah ada tuntunannya dari teladan kita? Lalu apakah kita telah melaksanakan hari raya kaum muslimin sesuai dengan tata cara darinya?

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan ketika tiba hari raya ‘Idul Fithri karena banyak di antara kita yang masih salah persepsi seputar masalah ‘Idul Fithri, diantaranya adalah:

1. Makna ‘Idul Fithri

Sebagian besar kaum muslimin mepunyai keyakinan bahwa makna “Idul Fithri” adalah hari raya kembali ke fithroh (suci). Maka perlu kita teliti kembali makna ‘Idul Fithri, secara bahasa dan secara syaro’/agama.

Secara bahasa, ‘Id berasal dari kata ‘aada - ya’uudu - ‘audatan, yang artinya kembali. Sedangkan al-fithru artinya adalah al-ifthoor, yang berarti berbuka atau kashru as-shoum, yaitu pembatalan puasa (Lihat al-Mu’jamu al-wasiithu dan Kamus Arab-Indonesia al-‘Ashri dan al-Munawwir). Jadi ‘Idul Fithri adalah hari raya kembali berbuka setelah berpuasa selama sebulan penuh. Sehingga jelaslah, secara bahasa bahwa al-fithru artinya al-ifthoor yang berarti berbuka. Bukan yang dikatakan sebagian orang bahwa al-fithru berarti al-fithroh yang berarti suci, atau sifat pembawaan yang ada sejak lahir. Jika dilihat dari huruf penyusunnya pun, sangat jelas perbedaan antara keduanya. “Al-fithru”, huruf penyusunnya adalah fa, tho, dan ro. Sedangkan “al-fithroh”, huruf penyusunnya adalah fa, tho, ro, dan ta-marbuuthoh. Sayangnya, dalam 2 kamus besar Arab-Indonesia yang telah disebutkan, makna ‘Idul Fithri diartikan hanya sebagai istilah saja, dan tidak diartikan secara bahasa. Di dalam kamus tersebut arti ‘Idul Fithri tertulis hari Idul Fithri atau hari raya lebaran (meskipun demikian, kamus ini banyak sekali manfaatnya, sehingga banyak dijadikan referensi oleh umat Islam Indonesia, semoga Alloh memberikan ganjaran kepada penyusunnya dengan sebaikp-baik ganjaran, Amiin).

Sedangkan menurut syaro’, telah datang hadits dari Abi Huroiroh, dia berkata: Rosululloh sholalallohu ‘alaihi wa sallam telah bersabda: “(‘Idul) Fithri adalah hari kalian berbuka dan (‘Idul) Adha adalah hari kalian menyembelih hewan (korban)” – Diriwayatkan oleh Ibnu Majah, no. 1660.

Lalu bagaimana dengan kaum muslimin yang berpendapat bahwa ‘Idul Fithri adalah hari raya kembali menjadi suci (fithroh), yang mungkin pendapat mereka dilatarbelakangi hadits-hadits yang berbicara tentang pengampunan dosa dan dikabulkannya do’a serta pembebasan dari api neraka di bulan Romadhon? Dengan adanya hadits-hadits ini mereka beranggapan pada waktu ‘Idul Fithri dosa-dosa kaum muslimin telah diampuni. Maka, lihatlah diri kita masing-masing, apakah selama bulan Romadhon kita telah beribadah dan beramal dengan ikhlas, penuh keimanan, ihtisab serta sesuai dengan tuntunan Nabi sholallohu ‘alaihi wasallam? Sehingga di sini tidaklah berarti bahwa kita memaknai ‘Idul Fithri dengan hari raya kembali menjadi suci/fithroh (sifat pembawaan yang ada sejak lahir, sehingga tidak mempunyai dosa). Bukankah suri tauladan kita telah menjelaskan ‘Idul Fithri adalah hari raya berbuka? Kita hanya bisa berdo’a agar dosa-dosa kita benar-benar diampuni, Amiin.

2. Ucapan pada hari raya ‘Idul Fithri

Kaum muslimin khususnya di Indonesia, ketika tiba hari raya ‘Idul Fithri banyak yang mengucapkan “Minal ‘Aaidiin wal Faaiziin, Mohon Maaf Lahir dan Batin”, sehingga tergambar di benak kaum muslimin bahwa arti dari “minal ‘aaidiin wal faaiziin” adalah mohon maaf lahir dan batin. Padahal arti “minal ‘aaidiin wal faaiziin” adalah “(semoga kita) termasuk orang-orang yang kembali (???) dan orang-orang yang menang”. Entah apa yang dimaksud dengan kata ‘aaidiin, apakah kembali berbuka atau kembali menjadi fithroh. Tapi yang jelas kita telah mengetahui makna ‘Idul Fithri yang sebenarnya (lihat poin pertama). Dan mudah-mudahan dosa kita diampuni dari Romadhon yang lalu ke Romadhon berikutnya. Sebagaimana hadits Nabi sholallohu ‘alaihi wasallam: “Sholat lima waktu, dari Jum’at ke Jum’at berikutnya, dari Romadhon ke Romadhon berikutnya, bisa menghapuskan dosa-dosa yang terjadi di antaranya, jika dosa-dosa besar dihindari.” (diriwayatkan oleh al-Bukhori dan Muslim). Sehingga perlu diluruskan kembali, seseorang yang mengucapkan, “semoga kita kembali menjadi orang yang fithroh (diampuni dosanya) dan termasuk orang-orang yang menang”, seyogyanya bukan mendasarkan pada pendapat bahwa hari raya ‘Idul Fithri adalah hari raya fithroh, akan tetapi karena hadits di atas. Allohu A’lam.

Baca Lanjutannya…

Posted by: zuhudhi | 1 Oktober 2007

Pentingnya Bahasa Arab

Sebelum membahas mengenai pentingnya Bahasa Arab untuk dipelajari, ada baiknya saya kemukakan dahulu definisi bahasa. Menurut Wikipedia, bahasa adalah:

  1. satu sistem untuk mewakili benda, tindakan, gagasan dan keadaan.
  2. satu peralatan yang digunakan untuk menyampaikan konsep riil mereka ke dalam pikiran orang lain.
  3. satu kesatuan sistem makna.
  4. satu kode yang yang digunakan oleh pakar linguistik untuk membedakan antara bentuk dan makna.
  5. satu ucapan yang menepati tata bahasa yang telah ditetapkan (contoh :- Perkataan, kalimat, dan lain lain.)
  6. satu sistem tuturan yang akan dapat dipahami oleh masyarakat linguistik.

    Agama ini (Islam) diturunkan di jazirah Arab, dan tentu saja menggunakan bahasa Arab sebagai bahasa komunikasinya (…mengenai alasan mengapa Alquran diturunkan dalam bahasa Arab, bisa dibaca di artikel “Alquran-Arab“…). Nah, mau tidak mau, suka ataupun tidak suka, tidak ada jalan kita sebagai umat Islam harus wajib mempelajari bahasa ini. Berikut ini* penjelasan mengapa kita wajib belajar bahasa Arab.

    Sebagaimana yang telah menjadi keyakinan dalam diri kita adalah bahwasanya jalan yang memberi kita jaminan keselamatan dan kenikmatan Islam adalah satu dan tidak berbilang-bilang, yaitu mengilmui dan mengamalkan ajaran al-Kitab (Alquran - efhape) dan as-Sunnah sesuai dengan yang diajarkan Rosululloh dan dipahami oleh para sahabatnya. Dalam hadits riwayat Imam Muslim disebutkan, “Aku tinggalkan sesuatu bersama kalian, jika kamu berpegang teguh padanya, kalian tidak akan tersesat selama-lamanya, yaitu Kitabulloh dan Sunnahku”.

    Dan Alloh telah menjadikan bahasa Arab sebagai bahasa Al-Quran karena bahasa Arab adalah bahasa terbaik yang pernah ada sebagaimana firman Alloh,

    Sesungguhnya Kami telah jadikan Al-Quran dalam bahasa Arab supaya kalian memikirkannya.” [Yusuf: 2]

    Baca Lanjutannya…

    Posted by: zuhudhi | 21 September 2007

    Apakah Amalku Diterima?

    Pertanyaan “apakah amalku diterima (oleh Tuhan)?” baik diakui ataupun tidak pastilah menjangkiti perasaan setiap manusia di muka bumi, setiap kali melakukan perbuatan yang dimaksudkan beroleh pahala di sisi Tuhannya. Agama Islam, sebagai agama yang paling sempurna, secara jelas dan tegas menjelaskan tentang hal ini. Sebagai seorang muslim, sudah seharusnya mengilmui masalah ini agar setiap amal perbuatan yang dilakukan tidak sia-sia.

    Di dalam ajaran Islam, diterima atau tidaknya amal oleh Alloh Subhanahu wa Ta’ala memiliki beberapa persyaratan. Hal ini telah disebutkan Alloh Subhanahu wa Ta’ala sendiri di dalam kitab-Nya dan Rasululloh Sholallohu’alaihi wa sallam di dalam haditsnya. Syarat amal itu adalah sebagai berikut:

    1. Ikhlas*, semata-mata amal itu untuk mencari ridho Alloh Subhanahu wa Ta’ala.

    Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

    Dan tidaklah mereka diperintahkan melainkan agar menyembah Alloh dengan mengikhlaskan baginya agama yang lurus”. (Al Bayyinah: 5)

    Rosululloh Sholallohu’alaihi wa sallam bersabda:
    Sesungguhnya amal-amal tergantung pada niat dan setiap orang akan mendapatkan sesuatu sesuai dengan niatnya.” (Shahih, HR Bukhori-Muslim)

    Kedua dalil ini sangat jelas menunjukkan bahwa dasar dan syarat pertama diterimanya amal adalah ikhlas, yaitu semata-mata mencari wajah Alloh Subhanahu wa Ta’ala. Amal tanpa disertai dengan keikhlasan maka amal tersebut tidak akan diterima oleh Alloh Subhanahu wa Ta’ala.

    2. Ittiba’, mengikuti petunjuk Rosululloh Sholallohu’alaihi wa sallam.

    Amal tersebut harus sesuai dengan sunnah (petunjuk) Rosululloh Sholallohu’alaihi wa sallam. Beliau bersabda:
    Dan barang siapa yang melakukan satu amalan yang tidak ada perintahnya dari kami maka amalan tersebut tertolak.” (Shahih, HR Muslim dari ‘Aisyah radhiAllohu ‘anha)

    Dari dalil-dalil di atas para ulama sepakat bahwa syarat amal yang akan diterima oleh Alloh Subhanahu wa Ta’ala adalah ikhlas dan sesuai dengan bimbingan Rosululloh Sholallohu’alaihi wa sallam. Jika salah satu dari kedua syarat tersebut tidak ada, maka amalan itu tidak akan diterima oleh Alloh Subhanahu wa Ta’ala.

    Baca Lanjutannya…

    Posted by: zuhudhi | 27 Agustus 2007

    Gerhana dan Bagaimana Seorang Muslim Menyikapinya

    Lunar Eclipse

    Menurut berita yang ada di situs berita Antara (http://www.antara.co.id/), akan terjadi gerhana bulan pada hari Selasa, tanggal 28 Agustus 2007. Gerhana merupakan kejadian astronomi yang terjadi apabila suatu objek astronomi bergerak ke dalam bayang objek astronomi yang lain. Dalam kasus ini, gerhana bulan, adalah peristiwa di mana matahari, bumi, dan bulan berada dalam satu garis lurus. Bumi berada di antara matahari dan bulan, sedemikian rupa sehingga bulan berada di dalam bayang-bayang bumi.

    Kepala Observatorium Boscha Lembang Kabupaten Bandung, M Taufik, mengatakan, gerhana bulan total (GBT) dapat disaksikan lebih lama oleh masyarakat di Indonesia bagian timur. Sama halnya di Indonesia bagian tengah juga bisa menyaksikan lebih lama karena kontak pertama akan terjadi pada pukul 17.53 WIB. Sementara itu masyarakat di wilayah barat Indonesia dipastikan tidak bisa menyaksikan fenomena alam itu secara utuh. (berita selengkapnya bisa dilihat di situs Antara News, antara lain di sini, dan di sini)

    Nah, berkaitan dengan hal ini, bagi umat muslim yang melihat peristiwa gerhana baik gerhana matahari (kusuf) ataupun bulan (khusuf) tidaklah hanya melihatnya saja. Rosululloh Muhammad Sholallohu ‘alaihi wasallam telah memberikan tuntunan kepada kita ketika terjadi peristiwa semacam ini, beliau Sholallohu ‘alaihi wasallam segera melaksanakan sholat gerhana. Di dalam sebuah hadits Rosululloh Sholallohu ‘alaihi wasallam bersabda yang artinya, “Sesungguhnya pada matahari dan bulan terdapat dua tanda dari tanda-tanda kekuasaan Alloh. Tidaklah terjadi gerhana karena kematian atau hidupnya seseorang, maka apabila kalian melihatnya maka sholatlah” (diriwayatkan oleh Imam Bukhori)

    Baca Lanjutannya…

    Posted by: zuhudhi | 22 Agustus 2007

    Sudah Benarkah Keimanan Anda?

    Di dalam agama Islam dikenal istilah rukun iman yang enam jumlahnya. Seseorang dikatakan berstatus mukmin apabila mengimani kesemuanya. Namun diantara bentuk-bentuk keimanan terhadap poin-poin dalam rukun iman, kadang-kadang di antara kaum muslimin ada perbedaan pemahaman, atau bahkan ada yang tidak paham sama sekali. Dengan kesalahan pemahaman, tentu hasil yang dikeluarkan akan menyimpang dari syariat Alloh yang disampaikan melalui Rosululloh sholallohu ‘alaihi wa sallam, yang bisa jadi akan “mencederai” status mukmin seseorang. Kalau sudah begini alih-alih membawa seseorang ke jalan yang diridhoi Alloh, melainkan malah menjerumuskan ke jalan kesesatan. Melalui artikel ini saya ingin memberi pemaparan mengenai salah satu poin dari rukun iman, yaitu Iman kepada Alloh. Artikel ini saya sadur dari bulletin Jumat At-Tauhid terbitan LBI Al-Atsary Yogyakarta, dengan beberapa pengeditan tanpa mengurangi substansinya, insya Alloh. Semoga bermanfaat.

    Rosululloh sholallohu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan dasar-dasar keimanan yang terangkum dalam enam hal yang dikenal dengan rukun iman – ketika beliau ditanya oleh Jibril tentang iman. Beliau sholallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Iman adalah engkau beriman kepada Alloh, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para Rosul-Nya, hari akhir dan takdir seluruhnya yang baik dan buruk. (HR. Bukhori & Muslim)

    Iman kepada Alloh mencakup empat hal: (1) Iman kepada keberadaan Alloh, (2) Iman kepada rububiyah-Nya, (3) Iman kepada uluhiyah-Nya, (4) Iman kepada nama dan sifat-Nya.

    Baca Lanjutannya…

    Older Posts »

    Kategori